MBS Menuju Pusat Peradaban Baru

Santri putra PPM MBS Prambanan bersiap menuju masjid untuk menjalankan salat Dzuhur Berjamaah. (Foto: Atiek WH)

SLEMAN, KRJOGJA.com - Pondok Pesantren kini bukan lagi sebagai tempat buangan. Tempat anak nakal yang tidak diterima di sekolah, maka langsung dipondokkan. Paradigma itu saat ini sudah berubah. Bahkan untuk bisa masuk ke pondok pesantren tetap harus melalui proses seleksi.

Bagi kalangan terdidik, memasukkan anaknya ke pondok pesantren saat ini justru menjadi trend. Karena mereka yakin, anak mereka akan mendapatkan pendidikan terbaik dan seimbang antara akademik dengan agama. Bahkan banyak siswa dari pondok pesantren yang telah berjuang bersama demi kemajuan bangsa.

Hal itu diungkapkan pendiri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan Nashirul Ahsan dalam media gathering di kompleks sekolah setempat, Selasa (16/1/2018). Media gathering ini dalam rangka satu dasawarsa MBS Mengabdi, Menuju Pesantren Sebagai Pusat Peradaban Baru. Tema itu sejalan dengan cita-cita MBS Prambanan saat ini yang mempersiapkan generasi masa depan harapan bangsa.

Saat ini menurutnya, pondok pesantren menjadi tumpuan harapan dalam membentengi diri. Khususnya dalam menghadapi perhatian remaja yang kurang bagus. Kondisi ini membuat orangtua was-was. Apalagi saat ini kesibukan orangtua juga ada perubahan.

"Tentu bukan bermaksud untuk memisahkan kasih sayang anak dengan orangtua. Sebab banyak antara anak dengan orangtua itu hanya sebatas tidur dalam satu rumah saja. Tidak ada waktu untuk mendidik anak. Dampaknya, anak didik oleh lingkungan hingga jalanan yang lebih banyak memunculkan efek negatifnya," katanya.(Awh)

Tulis Komentar Anda