DIY Editor : Agung Purwandono Selasa, 12 Desember 2017 / 01:41 WIB

Negara, Alasan Warga Terdampak Bandara NYIA Kulonprogo Mau Direlokasi

WARTAWAN muda KRjogja.com yang tergabung dalam Komunitas KR Academy mengunjungi lahan terdampak bandara baru. Selain membuat berita langsung, mereka menuliskan laporan liputan dalam bentuk catatan.

**

KUNJUNGAN kami ke calon lokasi New Yogyakarta International Airport berakhir lebih siang dari yang kami kira setelah kami memutuskan untuk mampir sebentar ke salah satu lahan perumahan relokasi yang disediakan untuk penduduk terdampak NYIA. Lokasinya belum penuh dengan rumah dan rumah-rumah yang sudah jadi pun belum semuanya berpenghuni.

Belum lama kami tiba di lokasi, kami menjumpai sebuah rumah sederhana yang terasnya tampak disinggahi oleh dua pria dan dua wanita. Tentu, kami memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah tersebut.

Pikir kami, barangkali kami dapat sudut pandang lain tentang proyek NYIA yang memang sedang kami liput pada saat itu. Saat kami tiba di halaman rumah tadi, alangkah leganya kami ketika keempat orang tersebut justru menyambut kami dengan sumringah. Bahkan, mereka masih sempat bergurau tentang berapa kali mereka sudah dikunjungi oleh anak muda.

Dari perbincangan siang itu, kami dapati bahwa nama dari dua pria paruh baya di situ adalah Sutris dan Edi Wiyono. Pak Sutris berusia 65 tahun. Ia memiliki perawakan yang tegap dan tegas. Kulitnya sawo matang. Meski agak terlihat galak, Pak Sutris kerap kali melemparkan gurauan di sepanjang perbincangan kami. Pada saat itu, ia menggunakan kemeja bermotif batik dan celana panjang.

Sementara itu, kami mendapati Pak Edi yang berusia lima tahun lebih tua memiliki postur yang lebih kecil bila dibandingkan dengan Pak Sutris. Rambutnya sudah lebih memutih. Kulitnya sedikit lebih terang dari Sutris. Bila Pak Sutris tampak galak, Pak Edi memberikan kesan ramah yang melegakan. Ia juga sering bergurau. Ketika kami bertemu, ia sedang menggunakan atasan berwarna putih dan sarung.

Baca Juga : 

37 KK Masih Menolak Relokasi NYIA
Diamankan Polisi, Anggota LPM Kehilangan Data
Polsek Temon Bebaskan Tiga Anggota Lembaga Pers Mahasiswa

Perbincangan siang itu ternyata memang memberikan sudut pandang berbeda bagi kami mengenai ganti rugi untuk warga terdampak NYIA. Dari cerita yang Pak Edi tuturkan kepada kami, kami mengetahui bahwa tanah relokasi yang ia dapatkan berukuran 200 meter. Tanahnya ia beli dan rumahnya ia bangun dengan sisa uang ganti rugi yang ia dapat dari PT Angkasa Pura.

Uang ganti rugi yang ia dapat berjumlah 1 miliar. Karena Pak Edi memiliki enam orang anak yang juga harus menafkahi keluarga masing-masing, ia turunkan 600 juta dari uang ganti ruginya kepada keenam anaknya. Dari sisa tersebut, 372 juta ia gunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah yang kini ditinggalinya di lahan relokasi NYIA. Seraya bergurau, ia katakan kepada kami bahwa ia akan menggunakan sisa uang ganti ruginya untuk bertahan hidup berdua dengan istrinya entah bisa sampai kapan.

Pak Edi juga bercerita bahwa dulunya ia adalah seorang petani. Ia memang tidak memiliki lahan persawahan sendiri sehingga ia mencari penghasilan dengan menggarap sawah orang lain. Namun, dengan adanya proyek NYIA, lahan yang ia garap sudah tidak ada sehingga ia tidak bisa melanjutkan mata pencaharian di bidang pertanian.

Kini, katanya, ia bekerja untuk PT Angkasa Pura dengan memasang pagar pada lokasi proyek NYIA. Dalam satu minggu, ia bekerja selama tujuh hari. Dari pekerjaan itu, ia bisa menghasilkan upah 70 ribu per hari. Akunya, upah itu setidaknya cukup bila hanya untuk menghidupi ia dan sang istri sehari-hari tanpa ada kebutuhan lain.

Dari situ, kami menyadari bahwa kisah yang dialami Pak Edi sebagai warga terdampak NYIA yang sudah bersedia direlokasi cukup berbeda dari kisah Ibu Suyono warga terdampak lain yang kini sudah menempati lahan relokasi beberapa meter dari rumah Pak Edi yang sore di hari sebelumnya kami kunjungi.

Meski tidak mau mengungkapkan jumlah pasti dari ganti rugi yang ia dapatkan, Ibu Suyono mengaku bahwa ganti rugi yang ia dapatkan berada pada jumlah di atas Rp 7 miliar. Tidak seperti Pak Edi, Ibu Suyono dan suaminya sudah memiliki bisnis travel sejak sebelum berpindah ke lahan relokasi.

Di sini lah kami menemukan perbedaan yang cukup besar dari hasil ganti rugi antara Pak Edi dengan Ibu Suyono. Dari cerita yang kami dapat dari perbincangan kami bersama Ibu Suyono, bisnis travel yang dimilikinya berkembang pesat setelah ia mendapatkan ganti rugi dari PT Angkasa Pura.

Minibusnya berubah menjadi bus dan ia mampu membangun garasi untuk bus yang ia miliki. Memang, aku Ibu Suyono, tanah yang ia miliki sebelum ada proyek NYIA tidak bisa dibilang sedikit. Dari situ lah ia kemudian mendapatkan ganti rugi yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis yang telah lama dimilikinya.

Dua cerita dari dua sumber tersebut membuat kami menyadari suatu hal. Sementara Ibu Suyono mengalami peningkatan yang signifikan pada bisnisnya setelah mendapatkan ganti rugi dari PT Angkasa Pura, Pak Edi harus kehilangan lahan sawah yang digarapnya.

Meski  begitu, kami menemukan satu persamaan di antara keduanya ketika kami menanyakan alasan mereka bersedia direlokasi demi pelaksanaan proyek NYIA. Ketika kami menanyakan pertanyaan kami, jawaban mereka hampir sama. Mereka mengaku mereka tidak berani melawan negara. (Rahina Dyah Adani)