DIY Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 14 November 2017 / 15:50 WIB

'Eco Print', Kain Berwarna Alami Daun

ALAMI  dan eksklusif. Dua kata itu sepertinya tepat untuk menggambarkan kreativitas Hastin Sholikhah. Bukan tanpa sebab, dia memang mengkhususkan membuat eco print yang berasal dari daun.

Ditemui di rumahnya yang juga menjadi show room di Dusun Jangkang RT 05 RW 11 Desa Nogotirto Kecamatan Gamping Sleman, Selasa (14/11/2017), sedang merebus kain yang sudah diwarnai dengan Daun Jati. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Kain lembaran yang dia beli, direbus atau direndam terlebih dahulu untuk menghilangkan zat kimia. Setelahnya, daun segar yang sudah dipilih langsung ditempel di atas lain untuk selanjutnya direbus selama 1-2 jam. Setelah selesai kain yang sudah ditebus itu didiamkan semalam agar warnanya meresap pada kain baru dibuka.

"Saya menggunakan warna alami. Mulai dari Daun Jati, Jarak, Ketepeng, Ekor Kucing, Lanang hingga kulit Bawang Bombai. Butuh penelitian sekitar setahun untuk menentukan daun apa saja yang mengandung tanin, zat warna alam," ujarnya.

Beruntung perempuan kelahiran 3 Desember 27 tahun yang lalu itu masih tinggal di pedesaan. Jadi tidak sulit untuk mendapatkan daun yang dia cari. Hanya saja kendala dia rasakan saat musim kemarau. Karena daunnya menjadi cepat kering dan untuk dicetak hanya terlihat tulangnya saja.

"Kemarin pesanan pas cukup banyak. Sedangkan daun susah karena banyak yang kering, sehingga rontok. Meskipun ada warnanya juga tidak bisa Ungu. Melainkan agar kecoklatan. Itupun saya sampai harus cari hingga Kabupaten Bantul," urai alumni Kriya Tekstil ISI Yogyakarta tersebut.

Selain menjual dalam bentuk lembaran kain, Hasna juga menerima orderan. Berupa baju, celana maupun yang lain. Untuk tukang jahit dia sudah ada kerjasama. Karena dia belum memiliki keterampilan untuk menjahit.

Untuk harga satu lembar kain dengan lebar 2,5 meter dia jual antara Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Menyesuaikan jenis kainnya juga. Untuk baju berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu. Sedangkan jilbab ataupun scarf jika lainnya katun Rp 100 ribu dan untuk sutera Rp 350 ribu.

Pemasaran lebih banyak melalui online. Tak heran jika pesanan yang datang tidak hanya dari dalam negeri saja. Namun sudah merambah ke Singapura. "Sekarang sedang ada pameran di Jepang. Kain saya dibawa teman untuk pameran disana," ujar Hasna. (Atiek Widyastuti H)