Ragam Editor : Agung Purwandono Selasa, 17 Oktober 2017 / 09:34 WIB

MENENGOK AKTIVIS '66

Pesan Arief Budiman untuk Anak Muda

ARIEF Budiman atau Soe Hok Djien adalah sosok yang tak bisa dilepaskan dari sosok aktivis. Pada masa mudanya ia adalah aktivis mahasiswa yang lantang menyuarakan ketidakadilan yang dialami rakyat. 

Konsistensinya sikapnya terus berlanjut pada era-era selanjutnya. Adik Soe Hok Gie ini, selain dikenal sebagai sosok yang blak-blakan mengeluarkan pendapat terkait ketidakdilan. Kami menemuinya hari Sabtu 14 Oktober 2017 di kediamannya yang asri, desain dari Romo YB Mangunwiyaja di Salatiga. Kebetulan hari itu anak bungsunya, Santi Kusumasari yang berdomisili di Yogyakarta tengah menjenguk dan merawat ayahnya.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Kami tidak bertemu dengan istri beliau, psikolog Leila Ch Budiman yang tengah berada di Australia untuk cek kesehatan. Keluarga ini memang selama 20 tahun tinggal di negeri Kanguru tersebut sebelum akhirnya kembali menetap di Salatiga.  

Rombongan KRjogja.com dan Komunitas Penulis Muda KR Academy diantar oleh Julius Felicianus dari Galangpress untuk menjenguk Arief Budiman. Fisik aktivis '66 ini memang sudah tidak seprima beberapa tahun lalu. Kini guru besar sosiologi yang 3 Januari 2018 nanti berusia 77 tahun lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur dan kursi roda.

Untuk berkomunikasipun sangat sulit. Surawan (28), perawat Arief Budiman mengatakan dosen di University of Melbourne ini bisa diajak berkomunikasi dengan mudah adalah di pagi hari sebelum makan. "Setelah makan, beliau ngedrop. Biasanya tidur," ujar Surawan. 

Beruntung bagi kami, meski saat itu baru terbangun Arief Budiman mengisyaratkan bisa bertemu. Dengan dibopong oleh Surawan dari lantai dua rumahnya, Arief Budiman kemudian duduk di atas kursi rodanya. Baik Santi dan Surawan mempersilahkan kami untuk bertanya.
 
Lintang Fajar (19) mahasiswi Sosiologi UGM yang juga anggota KR Academy menanyakan apa yang harus dilakukan anak muda saat ini untuk Indonesianya.  "Lakukan perubahan dari lingkungan kalian dulu, dari lingkungan terkecil," katanya. 

Ketika menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan anak muda, Arief Budiman terdiam sesaat, matanya memerah dan sempat bahunya sedikit terguncang. Dia menangis. "Bapak suka dikunjungi anak muda, kalau ngomong tentang bangsa dia mudah terharu," kata Surawan. 

Arief Budiman pada masa mudanya tidak bisa dilepaskan dari demonstrasi. Di masa Orde Lama, ia lantang menyuarakan kondisi rakyat yang menderita. Di Masa Orde Baru, ia berteriak keras tentang kekuasaan yang digunakan atas nama pembangunan. Di tahun 1971, Arief Budiman adalah salah satu orang yang menginisiasi gerakan Golput (Golongan Putih) atau tidak menggunakan hak suaranya pada Pemilu waktu itu. 

Soal anak muda sekarang apakah harus melakukan demonstrasi, Arief Budiman kepada kami mengatakan. Demonstrasi bisa saja dilakukan, tapi itu jika memang diperlukan. "Terpenting adalah lakukan perjuangan di lingkungan terdekat dulu, lakukan perubahan, apa yang belum dilakukan pemerintah, dari lingkungan terkecil," kata Arief Budiman dengan suara pelan. 

Arief Budiman yang pemikirannya banyak disampaikan melalui tulisan-tulisan di media massa berpesan agar menulis dilakukan bukan untuk terkenal. Tapi untuk menyuarakan apa yang belum dilakukan oleh pemerintah. "Terkenal itu nomor dua," kata Arief Budiman yang selalu menekankan untuk melakukan perubahan di lingkungan terkecil dulu.

Banyak yang sebenarnya yang ingin kami tanyakan kepada beliau. Namun kondisi fisiknya yang sakit parkinson tidak memungkinkan, beberapa kali matanya terpejam seperti tidur. Meski dalam kondisi sakit, Arief Budiman setiap pagi tidak pernah meninggalkan salat dhuha. (Salsabila Annisa/Lintang Fajar)