Angkringan Editor : Agung Purwandono Jumat, 13 Oktober 2017 / 20:37 WIB

Cerita Muridku yang Terabaikan

Tuhanku… pada siapa hendak kusandarkan beban hati ini
Pada ayahku? Itu tak mungkin kulakukan..
Pada bundaku? Aku tak tega…
Pada bapak ibu guru? Aku tak berani ..
Pada temanku? Aku takut ditertawakan…
Hanya padaMu ya Tuhan.. Kutengadahkan tangan mungilku..
Karena aku tahu.. Engkau pasti ADA…  


SEPERTI biasanya aku melewati hari-hariku sebagai guru seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Aku selalu berusaha untuk ceria dan semangat saat mengajar. Tapi tidak untuk hari ini. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Betapa seorang muridku adalah salah satu dari anak yang kurang beruntung yang mungkin terabaikan pula oleh kita sebagai orang tua di sekolah. Ingin aku rengkuh dia. Ingin aku bantu dia, tapi ternyata tak semudah yang aku bayangkan.  Dan dari sinilah cerita ini berawal.

 
Dia muridku kelas empat. Tapi sejak kelas tiga aku sudah mengajar di kelasnya. Sudah sejak kelas tiga  aku mengamati sikapnya, perilakunya dan juga target akademiknya. 

Saat di kelas tiga aku masih menganggap wajar kelakuannya yang sering berkelahi, jarang mengerjakan pekerjaan rumah (PR), bahkan mungkin sering berkata tidak sopan. 

Nasehat mungkin sudah sering dia dapatkan dari guru, wali kelas ataupun teman sebaya. Apakah itu bermakna? Aku tidak tahu. Karena saat itu aku belum menganggap itu sesuatu yang sangat perlu untuk dipersoalkan.  

Saat itu dia sudah kelas empat. Aku bertemu lagi dengan dia. Ya, dia yang saat kelas tiga memiliki banyak catatan di buku bimbingan dan penyuluhan milik (BP) bu guru. 

Di kelas empat ini aku melihat belum ada perubahan dengan sikapnya, seiring usianya dan tingkat kelas yang dijalaninya hingga beberapa kali aku harus menegurnya. Karena masih saja tidak mengerjakan PR, masih saja berkelahi, juga masih saja berkata tidak sopan. 

Hari ini aku mengajar di kelasnya. Hari ini mungkin kesabaranku teruji. Saat jam terakhir bel berbunyi, dia belum juga selesai menyalin catatan yang aku tulis di papan tulis. Belum juga menyelesaikan latihan soal yang aku berikan. Saat itu jam menunjukkan pukul 12.15 WIB.  

Saat semua anak kelas empat aku izinkan pulang, aku memintanya untuk menyelesaikannya. Dan sebagai konsekuensinya, aku tetap menunggunya.

Hingga saat itu jam menunjukkan pukul 12.30 dia belum juga menyelesaikan tugasnya. Sementara itu saat aku memalingkan wajahku keluar, tampak seseorang melambaikan tangan dari luar jendela kelas dengan wajah sedikit masam. 

Seorang ibu separuh baya. Mungkin kesal menunggu. Aku keluar kelas, aku sapa beliau, aku jabat tangannya, dan aku sampaikan permohonan maafku mengapa putranya sedikit terlambat pulang. 

Aku sampaikan beberapa hal tentang putranya, agar kami dapat bersinergi dalam mengoptimalkan potensinya. Hmmm…ternyata aku salah. Beliau bukan ibunya. Beliau adalah neneknya. 

Neneknya hanya menyampaikan bahwa ayah kandungnya ada di Jakarta, sementara ayahnya yang sekarang ini adalah seorang pelayar yang jarang pulang. Neneknya terpaksa mengantar jemput cucunya, karena ibu anak ini  adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki anak balita di rumah serta tidak mungkin ditinggal karena tidak punya pengasuh. 

Selain itu, ibu itu tengah mengandung anak yang ketiga. Aku syukuri pertemuan siang itu memberikan sedikit gambaran mengapa sesuatu itu terjadi. 

Keesokan harinya aku mencari dia di kelasnya. Pagi-pagi aku menunggunya. Aku ingin sedikit bicara dengannya. Paling tidak, aku bisa mendengarkan cerita dari sisi dia sebagai seorang anak. 

Mungkin juga keluh kesahnya. Atau bahkan tentang pandangannya kepadaku sebagai guru. Mungkin dia marah karena aku hukum kemarin. 

Sedikit salam, senyum dan jabat tangan aku berikan padanya saat mengawali pembicaraan tentangnya. Tanpa aku duga begitu banyak cerita yang dia sampaikan. Seperti air bah mengalir tumpah. Menyeruak, menyesak dada, tak terbendung. 

Dia datang dari keluarga yang tidak utuh. Ayah ibunya bercerai saat dia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Ayah kandungnya kemudian tinggal di Jakarta. Ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang pelayar, yang karena itu pula jarang pulang ke rumah. 

Dia kehilangan figur seorang ayah. Ibunya yang masih muda, putih dan cantik, seringkali di goda oleh pemuda-pemuda pengangguran di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai seorang anak, dia tidak terima ibunya diperlakukan sedemikian. 

Dia ingin marah. Dia ingin berontak. Tapi dia tak berdaya. Disatu sisi dia punya masalah lain, yang dia tidak ceritakan pada ibunya. Dia tiap hari “dipalak” dan harus setor   dua ribu rupiah pada seseorang. 

Kadang dia juga dipaksa untuk pergi ke ”game on line”. Dia bercerita tanpa ekpresi. Mengalir datar. Seolah mati rasa. Tanpa darah. Sementara itu aku sebagai guru yang juga seorang ibu tak sanggup mendengar cerita selanjutnya. 

Aku terhenyak. Terdiam tanpa kata. Mataku berkaca-kaca. Aku hanya mampu membelai kepalanya dengan doa. Ya Allah, berilah kekuatan dan jalan keluar dari masalah ini. Betapa anak seusia ini harus menanggung beban sedemikian. 

Aku mencoba berkonsultasi dengan psikolog sekolahku. Beberapa alternatif kami diskusikan, salah satu diantaranya adalah pindah rumah. Tapi ternyata setelah kami sampaikan pada keluarganya, ternyata hal itu tidak bisa dilaksanakan karena masalah finansial. 

Akhirnya setelah diskusi panjang lebar, kami mencoba untuk memberikan penguatan secara fisik dan mental agar murid kami ini mempunyai karakter yang tangguh, dan religius maka beberapa pendampingan dan juga kegiatan yang positif kami berikan.
 
Selaku wali kelas aku selalu memberikan motivasi dan dukungan agar dia kuat terhadap pressure lingkungan. Sementara itu guru agama memberikan penguatan mental spiritual dan bimbingan untuk pelaksanaan ibadah yang lebih bermakna. 

Kegiatan ekstra kurikuler seperti Tapak Suci (silat), maupun keikutsertaan dalam lomba-lomba yang bersifat kompetitif  juga kami lakukan. Sinergitas lintas bidang, kerjasama tim, program yang sesuai diharapkan akan menumbuhkan bakat dan karakter murid yang memang membutuhkan pendampingan dan penanganan komprehensif. 

Masalah yang dihadapi salah seorang murid di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang mungkin belum tersentuh, belum terkuak atau bahkan belum tertangani dari sisi pendidikan karakter kita. Pendidikan karakter bukan hanya menumbuhkan, membentuk, menguatkan, namun juga perlu mengubah dan mensolusikan persoalan-persoalan yang memang terlanjur ada di kelas kita, di sekolah kita, dan yang kita hadapi sehari-hari.
 
Bicara masalah karakter memang bukan hal yang mudah karena yang kita hadapi adalah makhluk hidup yang berakal, yang dinamis serta senantiasa bergerak, tumbuh dan berkembang. Butuh proses panjang, butuh pembiasaan yang tak henti, dan secara kontinyu dilakukan evaluasi  sehingga perubahan perilaku baik yang sudah tampak ataupun yang masih sedikit tampak tetap menjadi sebuah catatan adanya sebuag progres dari pendidikan karakter itu sendiri. 

Oleh karena itu harapan ke depan adalah bagaimana pendidikan  karakter itu tidak hanya ditumbuhkan  dan diberikan penguatan secara klasikal massal tapi juga secara individual dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Mari lebih dalam lagi mengamati dan mencoba memetakan persoalan karakter secara nyata sehingga dapat lebih berhasil guna. Semoga. (Novia Nuryani, Guru SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta)