Angkringan Editor : Agus Sigit Rabu, 20 September 2017 / 15:32 WIB

Kisah Misteri

Hiii...Obor Berjalan Tanda Kematian

DESA kami ketika itu belum sepadat sekarang. Masih banyak pekarangan luas yang menghijau. Artinya, masih banyak tetumbuhan yang merumpun maupun beberapa tanaman keras yang menjulang tinggi dan bertajuk lebat. Maklum, desa saya terbilang subur karena berada di lereng Gunung Merbabu.

Desa saya masih termasuk wilayah Boyolali. Dari desa kami, ada jalan tembus naik di antara dua gunung yang legendaris di Jawa T engah, yakni Gunung Merbabu dan Merapi. Karena berada di sela-sela gunung kawasan atas jalan itu disebut dengan Selo, dibaca dengan se (segar) dan lo (lombok) yang artinya sela. Karena kondisinya masih seperti itu, cerita tentang adanya hantu di desa kami sudah sangat biasa. Salah satu  penampakan  hantu yang  pernah  diceritakan kakek adalah adanya obor yang berjalan-jalan sendiri tanpa ada yang membawa. Hantu itu sepertinya sedang melayang-layang.

Berikut ini cerita embah saya. Ketika itu siskamling desa  sudah  dilakukan dengan model  jimpitan  beras. Suati kali kakek menjalankan ronda dengan dua temannya. Seperti biasa kakek berkeliling desa menghampiri rumah-rumah penduduk untuk mengambil jimpitan. Rute ronda kebetulan lewat sebuah pemakaman desa yang cukup luas. Ketika mendekati kompleks itu, kakek dan kedua temannya menghentikan langkah karena di depan mereka ada obor menyala terang sedang menyusuri  jalan setapak masuk kedalam makam.

”Cuma obor saja. Aneh. Tidak ada yang membawa tetapi bisa berjalan-jalan,” guman teman kakek. ”Masih ingat, itu pertanda apa menurut leluhur kita?” ”Besok akan ada orang meninggal di desa kita,” ujar kakek. Benar juga. Paginya kenthongan di kalurahan ditabuh dengan kode lelayu, kemudian menyebar khabar bahwa Mbah Parmin meninggal dunia. Pemakamannya kemudian juga dilakukan di kuburan desa tersebut.

Menurut kakek tidak semua orang bisa diweruhi obor  melayang-layang masuk  kuburan seperti itu. Mulanya saya menganggap cerita kakek hanya gugon tuhon, tapi  ketika saya  menggantikan Lik  Sunar (bukan  nama  sebenarnya) yang  berhalangan men- jalankan ronda saya baru percaya. Malam itu setelah duduk-duduk ngobrol di pos pe- rondaan, saya berkeliling desa dengan dua warga setempat melakukan patroli siskamling sambil sekalian menjumputi beras di rumah-rumah penduduk. Ketika perjalanan akan melewati kuburan, di depan kami terlihat ada orang membawa obor. Agar perjalanan lebih mudah, kami pun menyusul, maksudnya untuk nunut penerangannya. Tak  lama  kami sudah sampai di dekatnya. Tetapi. Gandrik!

Obor itu ternyata berjalan sendiri. Jalannya lebih cepat dari kami. Lalu masuk ke jalan setepak masuk pekuburan. Kami pun cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Esoknya, setelah salat Subuh ada pengumuman, Pakdhe Sutar meninggal dunia setelah sakit beberapa hari. (Merapi)