DIY Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 26 Agustus 2017 / 01:10 WIB

Bandara NYIA, Jadi Pintu Gerbang Utama Pariwisata RI

SLEMAN, KRJOGJA.com - Kehadiran Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) benar-benar diharapkan menjadi kekuatan baru DIY menuju destinasi pariwisata unggulan dan terbesar kedua setelah Bali di Indonesia. Euforia pembangunan bandara adalah peluang besar yang harus disadari oleh masyarakat sebagai konektivitas utama dalam menumbuhkan industri pariwisata yang akan menimbulkan multiplier effect bagi sektor-sektor lainnya sehingga mempercepat pertumbuhan pembangunan maupun perekonomian di DIY.

Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya mendukung penuh akselerasi pembangunan bandara di Kulonprogo yang diharapkan bisa membangun pariwisata Yogyakarta-Borobudur. Bandara baru ini nantinya akan menjadi kekuatan baru DIY menuju destinasi pariwisata unggulan kedua di Indonesia.

"Kita akan bangun bandara di Kulonprogo yang siap beroperasional pada 2019 dan baiknya pembangunan bandara ini tidak didanai oleh APBN tetapi oleh swasta. Harapannya bandara baru di Kulonprogo ini bisa memberikan kesempatan semua pihak berusaha," kata Budi Karya usai menjadi pembicara utama dalam Seminar Seminar Nasional bertajuk 'Bandara Kulonprogo dan Akselerasi Pembangunan Ekonomi Yogyakarta' yang digelar PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bekerja sama dengan Paguyuban Alumni SMA Kolese de Britto di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat (25/8/2017).

Budi menyampaikan dengan ditetapkannya tiga destinasi wisata baru di Indonesia yaitu Yogyakarta-Borobudur, Danau Toba dan Mandalika, pihaknya memang berkonsetrasi untuk mempercepat pengembangan ikon-ikon pariwisata di tanah air diantaranya dengan pembangunan bandara NYIA di Kulonprogo dengan membuat Candi Borobudur sebagai tujuan wisata yang diunggulkan Indonesia. Candi Borobudur tersebut akan dibuat menjadi ikon pariwisata yang lebih baik, mengingat pariwisata merupakan suatu industri yang bisa membayar kontan investasinya, jadi kalau sekarang berinvestasi maka tahun depan investor sudah bisa menikmati keuntungan.

"Kita mendukung penuh pengembangan pariwisata di Indonesia dengan mempersiapkan banyak bandara-bandara. Diantaranya pembangunan bandara di Kulonprogo pasti akan sangat menguntungkan bagi industri pariwisata dan memudahkan wisatawan datang ke DIY dengan kemudahan konektivitas tersebut," ujarnya.

Arsitek lulusan UGM Yogyakarta ini menjelaskan dengan pentingnya konektivitas , maka pihaknya ingin membuat Yogyakarta-Solo-Borobudur menjadi satu kesatuan tujuan wisata guna memudahkan berwisata lebih baik. Begitu pentingnya konektivitas tersebutlah yang membuat pihaknya membuat tim percepatan untuk itu mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang bisa lebih mudah terhubung via pintu gerbang udara. Dukungan aksesibilitas yang baik, lanjut Budi juga sangat diperlukan dengan adanya bandara NYIA  antara lain akses jalan tol, jalur kereta api, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan sebagainya.

"Saya berharap bandara NYIA menjadi magnet pariwisata yang pada akhirnya akan mempercepat pertumbuhan pembangunan maupun perekonomian di DIY kedepannya. Kehadiran bandara ini sekaligus membuka peluang bisnis yang besar sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya salah satunya dengan terbentuknya kota bandara, kawasan industri dan lain-lain nantinya," imbuh Budi.

Direktur Utama (Dirut) PT Angkasa Pura I (Persero), Danang S Baskoro mengungkapkan pihaknya akan terus berusaha mempercepat pembangunan NYIA agar bisa dioperasionalkan pada April 2019 nantinya. Pembangunan bandara ini harus disegerakan di Indonesia agar bisa setara dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Bandara NYIA akan berdiri di atas tanah seluas 600 hektar dengan harapan mampu menampung 14 juta penumpang pertahunnya dan diproyeksikan untuk diperbesar menjadi 21  juta penumpang per tahun dalam beberapa tahun ke depan. Proses pembangunan bandara NYIA saat ini tengah pembersihan lahan atau land clearing dan izin Amdal diharapkan sudah turun pada September 2017.

"Bandara NYIA sangat strategis bagi perkembangan industri pariwisata di DIY karena mampu menampung penerbangan langsung dari mancanegara dan berpotensi menjadi gerbang utama wisatawan untuk mengakses lebih mudah destinasi Candi Borobudur dan tujuan wisata lainnya.," papar Danang yang mengaku sudah mendapat permintaan penerbangan langsung di NYIA dari negara-negara Timur Tengah seperti maskapai Etihad, Uni Emirat Arab (UAE) dan Qatar Airways.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo, RM Astungkoro menambahkan Kulonprogo merupakan bagian penanganan dalam upaya meningkatkan pariwisata di salah satu ikon destinasi yang tengah diunggulkan di Indonesia yaitu Candi Borobudur. Pembangunan Dekso, Samigaluh dan Kalibawang di Kulonprogo bagian dari penataan Borobudur yang dikelola Badan Otorita Pariwisata Borobudur nantinya.

"Konektivitas akses dari bandara NYIA ke Borobudur masih akan mengandalkan jalan yang sudah ada ditambah rencana Amdal Yogya Outer Ringroad nantinya. Masyarakat Kulonprogo terus kami siapkan untuk itu dan penataan tata ruang sudah dibuat detail dalam rencana tata ruang strategis bandara maupun tata ruang wilayah yang tengah dikaji kembali dalam waktu dekat ini," pungkas Astungkoro. (Ira)