Ragam Editor : Agung Purwandono Senin, 14 Agustus 2017 / 07:32 WIB

Tes Kesehatan, Menggagalkan Rifaldy di Jurusan Fisika UNY

RIFALDY mendapat pengumuman kalau ia diterima menjadi mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas MIPA UNY. Teman-temannya pun sudah mulai mengucapkan selamat, turut bangga atas perjuangan kerasnya selama ini yang akhirnya terbayar. Namun tes kesehatan membuyarkan semuanya.

Bagi kebanyakan orang, tes kesehatan pada umumnya hanya formalitas belaka. Menghadap ke dokter, untuk kemudian ditanya satu dua hal lalu dinyatakan lolos. Tapi bagi Rifaldy, yang kala itu disodori pola angka berwarna-warni, semuanya terasa berbeda.

Ia tak bisa membaca beberapa angka dalam tes buta warna yang diadakan saat daftar ulang di FMIPA UNY tersebut. Membuatnya untuk pertama kali tahu bahwa dirinya mengidap buta warna parsial, sekaligus menutup kesempatannya untuk menjadi Mahasiswa Pendidikan Fisika UNY.

"Terpukullah saya waktu itu. Shock betul mengetahui bukan hanya saya gagal diterima di Pendidikan Fisika, karena saya juga sudah langganan gagal. Tapi bahwa selama ini, saya buta warna parsial dan saya tidak tahu itu," kenang Rifaldy yang tak bisa melihat beberapa warna gradasi.

Karena sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pendaftaran di kampus-kampus lain, Rifaldy tak punya pilihan lain. Ia bisa saja tidak berkuliah, setidaknya untuk tahun itu, andai UNY tidak menawarkannya untuk masuk ke jurusan Matematika Murni.

"Memang tawaran itu biasanya diberikan bagi mahasiswa yang gagal di tes buta warna. Karena dianggap secara akademis mampu," ungkap Rifaldy.

Sejak saat itulah, dengan berat hati, Rifaldy menerima tawaran untuk belajar di Matematika FMIPA UNY. Bayangan Rifaldy sebelum mencicipi jurusan ini, belajar Matematika pastinya akan sangat sulit. Apalagi belajar suatu ilmu murni, yang sejak SMA belum ia tekuni.

"Saya kan dulu lebih fokus ke Fisika, sempat ikut OSN Fisika juga. Tapi marilah Tuhan sudah punya rencana itu, saya yakinkan diri sendiri untuk benar-benar fokus atas pilihan ini," tegas Rifaldy.

Rifaldy akhirnya menerima tawaran tersebut dan menempatkan diri di Yogya. Karena diterima di jalur yang cukup akhir, Rifaldy sempat cukup kesulitan mencari kos. Tapi, sebuah kos yang berada di seputaran Karangmalang kemudian didapatkannya.

Sebuah kos yang kemudian menjadi saksi bagaimana Rifaldy mengurangi waktu tidurnya untuk belajar. Dan betapa ia sempat berhari-hari tidak makan demi biaya ikut lomba. Simak kisahnya

Baca Kisah Lengkap Rifaldy