Ragam Editor : Agung Purwandono Senin, 14 Agustus 2017 / 07:35 WIB

Rifaldy Rela Tidak Makan Berhari-hari Demi Ikut Lomba

SATU minggu di bulan Agustus, selepas OSPEK dan dimulainya perkuliahan, Rifaldy seakan langsung tancap gas. Beberapa informasi seputar lomba karya tulis yang didapat dari internet, ia mengikuti saja lomba-lomba tersebut tanpa pikir panjang.

Rifaldy punya komitmen dalam mengikuti lomba. Jangan sampai, minatnya tersebut membebankan orang tua. Sehingga seluruh biaya pendaftaran berasal dari kantongnya sendiri, dan kala itu ia sampai lupa bahwa uang saku bulanannya habis untuk mendaftar lomba. Jangankan untuk membeli makan di warung, sekedar membeli mie instan pun ia tak sanggup.

Sehingga air putih kemudian menjadi satu-satunya yang mengganjal perut, menemani jemarinya yang tetap menari di atas laptop untuk menciptakan karya-karya tulis dan belajar pelajaran matematika untuk di kelas maupun di perlombaan.

"Itulah perjuangan awal. Tapi akhirnya worth it. Memang belum juara, tapi saya lolos LKTI ke Makassar. Sekalian kan saya diberi kesempatan dan akomodasi untuk pulang kampung ke Sulawesi," kenang Rifaldy bangga.

Hasil positif dari lomba-lomba yang diikuti Rifaldy, akhirnya mengisi kembali rekening pribadinya. Namun alih-alih menabung atau menggembirakan diri sendiri, Rifaldy justru terus menggunakan uangnya untuk mengikuti bermacam lomba lainnya. Trofi karya tulis dari Malaysia dan berbagai lomba di penjuru Indonesia, telah berhasil digondolnya hanya di satu tahun pertama kuliah.

"Bisa lebih kalap dari ibu-ibu di mall kali ya (membelanjakan uang)," canda Rifaldy.

Tidak selalu uang untuk perlombaan berasal dari kantongnya sendiri. Terkadang, uang itu bisa datang dari sponsor. Walaupun, perjuangan itu tak selalu berhasil. Pernah suatu ketika ia harus gagal berangkat untuk mengikuti final lomba di Jepang, karena gagal mendapatkan sponsor dari perusahaan penerbangan.

"Jadi waktu itu sempat datang sendiri ke kantor-kantor maskapai di Jogja. Minta sponsor tujuh juta untuk penerbangan PP, karena semua akomodasi ditanggung kecuali transport. Tapi akhirnya kandas karena mereka belum begitu tertarik," kenang Rifaldy.

Beragam prestasi yang didapatkannya tersebut, menghantarkan Rifaldy untuk meraih gelar juara dua mahasiswa berprestasi (mapres) tingkat fakultas di tahun 2015. Dengan kedua pesaingnya yang memperoleh juara satu dan tiga, masing-masing adalah mahasiswa angkatan 2012.

Beberapa pihak yang kurang berkenan dengan pencapaian tersebut, menganggap Rifaldy sebagai mapres prematur dan melompati senior. Tapi Rifaldy tak bergeming, begitu pula panitia.
Prestasinya telah terbukti di berbagai kompetisi. Dan indeks prestasi kumulatif yang diperolehnya juga relatif tinggi. Sehingga gelar itu sangat pantas baginya, walaupun terkadang Rifaldy sendiri pun juga meragukan seraya merendah.

"Pada shock itu, kok bisa ya angkatan 2014. Muncullah itu sebutan mapres prematur," kenang Rifaldy.

Prestasi itu ia lanjutkan ketika ia menginjak di tahun kedua. Puluhan trofi ia berhasil gondol dari berbagai kompetisi di Mesir, Taiwan, hingga Korea Selatan. Dan ketika sekali lagi mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi tahun 2016, ia berhasil menggondol juara pertama di tingkat universitas dan dinyatakan lolos untuk menjadi salah satu dari 143 perwakilan sarjana se-Indonesia.

Seleksi kemudian berlangsung ketat di tingkat nasional. Namun dengan bekal prestasi, karya tulis, serta penilaian bahasa inggris dan kepribadian yang mumpuni, Rifaldy akhirnya lolos sebagai finalis mahasiswa berprestasi tingkat nasional. Yang diadakan 2017 lalu, di Surabaya.

Selain menjadi mahasiswa berprestasi, Rifaldy kini juga menjadi penerima beasiswa Aktivis Nusantara, dan sibuk dalam beberapa organisasi kemahasiswaan. Selain itu, ia juga berniat mengerjakan skripsi dalam waktu dekat.

Dan kepada anak muda seluruh Indonesia, ia berpesan bahwa kisahnya berjuang ini jangan dimaknai sebagai aksi yang sulit dan menyiksa. Namun, sebagai kegigihan yang mudah dilakukan jika kita telah menemukan passion dan zona nyaman.

"Jika ada yang bilang keluar dari zona nyaman supaya sukses, saya tidak setuju dengan itu. Cari zona nyamanmu, passionmu, dan perjuangkan itu sebaik-baiknya. Disitulah kesuksesan terletak," pungkasnya teguh. (Ilham Dary Athallah)

Baca Kisah Lengkap Rifaldy, Buta Warna yang Jadi Mahasiswa Berprestasi Nasional