Buta Warna Rifaldy Malah jadi Mapres Nasional

Rifaldy menjadi finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional (Istimewa)

PANDANGAN mata Rifaldy Fajar, kala itu sama merahnya dengan tampilan pengumuman yang ia saksikan di layar gadgetnya. Ia kecewa. Karena hasil proses seleksi yang ia ikuti, baik SNMPTN, SBMPTN, dan beberapa ujian mandiri lainnya, sama-sama menyatakannya tak lolos di jurusan favorit sejuta umat di berbagai kampus. Jurusan Pendidikan Kedokteran.

Sepasang mata yang sama kemudian juga menjadi saksi kesedihan selanjutnya. Karena ketika ia telah dinyatakan lolos di program studi Pendidikan Fisika UNY, pengumuman tersebut harus kandas karena berdasarkan hasil tes kesehatan, diketahui buta warna parsial.

Tapi, anak muda kelahiran Bulukamba 20 April 1996 tetap teguh. Tak mungkin dirinya datang jauh-jauh dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, hanya untuk gagal dalam banyaknya tes yang ia ikuti untuk bergabung di kampus yang ada di kota pelajar ini. Sehingga ketika ia diberi kesempatan untuk berkarya di jurusan Matematika UNY, Rifaldy tak ingin matanya menyaksikan satu lagi kesedihan.

Dan asanya terbukti, ketika matanya meneteskan air mata yang berbeda. Air mata kebahagiaan, dalam penasbihan dirinya menjadi Finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional. Setelah berjuang keras, dan air mata kesedihan yang sempat bercucuran sepanjang perjalanan.

Dididik Laksana Polisi oleh Ayah

Perjuangan Rifaldy untuk meraih prestasi itu tak berlangsung mudah. Karena semenjak kecil, Rifaldy bukanlah anak yang begitu menonjol. Rifaldy kecil adalah anak bertubuh gempal dan agak pemalu, yang kerap duduk di bangku belakang sekolah.

Masa kecil Rifaldy pun, lebih banyak dihabiskan di hadapan play station. Memainkan Mario Bros atau Pepsi Man, alih-alih bermain sepakbola bersama kawan. Apalagi, membaca buku layaknya beberapa kawan yang kutu buku.

"Jadi benar-benar anak yang biasa aja. Sampai sekarang pun masih biasa saja," kenang Rifaldy sembari merendah.

Tapi dalam kerendahan hati dan pencapaiannya yang biasa-biasa saja itu, Fajar dan Elfiani, kedua orang tua Rifaldy, senantiasa menanamkan kegigihan pada benak sang putra sulung. Terlebih lagi, ayah Rifaldy adalah seorang polisi yang memiliki beragam pengalaman di medan konflik.

Hal itulah yang membuat Rifaldy tak pernah menyerah dan mencari bakatnya. Ketika SMP, ia sempat mengikuti lomba OSN Fisika dan menjadi juara pertama di tingkat kabupaten.
Hingga suatu saat ketika di SMA, ia ditawari oleh gurunya di sekolah untuk mengikuti Pekan Ilmiah Remaja Nasional yang diselenggarakan oleh LIPI.

Dalam kesempatan itulah, Rifaldy dan kawan-kawan anggota timnya meneliti seputar budaya panen laut Sipakatau dan Malempu. Berkenaan dengan bagaimana budaya lokal Bulukumba yang mengandung upacara adat serta muatan mistis tersebut dapat membentuk karakter dan kepribadian generasi muda setempat.

"Seleksi lah itu dari tingkat Kabupaten, hingga akhirnya kita lolos tingkat nasional di Bontang. Waktu itu saya kelas sepuluh SMA, dan itu momen pertama kalinya saya naik pesawat," kenang Rifaldy.

Naik pesawat dari Bulukumba menuju Bontang bukan perkara gampang. Dari rumahnya, ia harus menempuh empat jam perjalanan darat menuju Makassar. Baru kemudian naik pesawat menuju Bontang, dengan transit sejenak di Balikpapan untuk pindah pesawat. Walau demikian, perjuangan keras atas perjalanan jauh tersebut diganjar tuntas dengan gelar Juara I.

Sejak penelitian itulah, Rifaldy mengikuti beragam lomba penelitian ilmiah. Trofi juga mulai berdesakan memenuhi almarinya. Dan dari hasil juara penelitian tersebut pula, Rifaldy pada kelas 12 diberi kesempatan oleh LIPI untuk masuk ke Teknik Nuklir UGM tanpa tes.

"Jadi waktu itu diterima lewat rekomendasi LIPI. Hasil dari menang perak di Lomba KIR yang juga diselenggarakan LIPI. Tapi waktu itu saya menolak, karena saya masih ingin kedokteran," ungkapnya. (Ilham Dary Athalah)

Pilihan inilah yang kemudian menghantarkan Rifaldy dalam getirnya kegagalan demi kegagalan. Beragam jurusan kedokteran dari penjuru negeri seakan sepakat untuk menolaknya, tapi ia teguh menolak meratapi pilihannya untuk menolak UGM. Baca kisah perjuangan Rifaldy mendaftar perguruan tinggi, disini

 

Tulis Komentar Anda