Ragam Editor : Agung Purwandono Jumat, 11 Agustus 2017 / 12:30 WIB

Veteran Ini Gagas Ekstra Kurikuler Digital Marketing untuk Pelajar

DJOKO Sardjono, pertamakali terjun ke medan perang di usia 19 tahun, yaitu saat proses integrasi Timor Timur ke Indonesia. Sekarang, veteran ini mengabdikan waktu, tenaga dan pikirannya sebagai bentuk perjuangannya di masa kini. 

“Dalam waktu dekat kami akan meluncurkan ekstra kurikuler digital marketing di sekolah yang kami kelola,” kata Djoko Sardjono. Dikatakannya, untuk bisa merangkul generasi muda dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada mereka, ia menjadi pengelola beberapa sekolah  bersama rekan-rekan veteran lainnya termasuk Drs Subandrio sebagai Ketua I yang juga menjabat sebagai Ketua KONI Bantul. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Selain mengelola beberapa sekolah, yaitu SMP dan SMK Nasional di Yogyakarta juga mengelola bimbingan belajar Tunas Harapan dan juga Penitipan Anak Bangsa.  

“Sekolah-sekolah itu sebagai monumen veteran. Artinya monumental perjuangan pendahulu kita. Kami ingin generasi muda paham bahwa veteran pendahulu juga berperan untuk mencerdaskan bangsa, kami ingin perjuangan kami tidak sampai memerdekakan indonesia saja. Kami ingin perjuangan kami abadi sampai akhir hayat,” jelasnya.

Ia begitu semangat menceritakan tentang sekolah yang dikelola oleh para veteran Yogyakarta tersebut. Misi mereka sebagai veteran amat jelas, agar anak-anak bangsa yang berada di Bantul dan sekitarnya minimal bisa lulus SMA dan SMK sederajat. Di sekolah-sekolah itu pun, pihak mereka tak memungut biaya gedung maupun biaya SPP. Hanya saja untuk kegiatan insidental demi pengembangan siswa, perlu melibatkan orang tua murid.

“Jurusan yang ada di SMK Nasional Bantul itu ada jurusan pekerja sosial dan jurusan usaha jasa pariwisata. Jurusan pekerja sosial nanti arahnya pada pengurus di panti jompo dan penitipan anak. Sementara jurusan pariwisata ke ticketing, guide, semacam itu,” jelasnya. 

Djoko Sardjono yang usianya sudah kepala 6 ini bahkan menggagas sebuah ekstrakurikuler  yang mungkin tak ada di sekolah mana pun. Di era digitalisasi ini, ia menilai digital marketing akan sangat bermanfaat bagi anak-anak didiknya.

Baca Juga : Kisah Veteran yang Batalkan Undangan Pernikahan Karena Tugas Negara

“Sekarang ini kan era digital, kami tidak mau ketinggalan dengan anak cucu,” ujarnya dengan mantap dan penuh semangat. Untuk programnya tersebut, ia merangkul tim ahli IT yang merupakan anak-anak dan cucu-cucu dari para veteran. Nantinya, anak-anak muda tersebut akan memberi pembinaan tentang digital marketing kepada siswa dan siswi SMP serta SMK Nasional di Bantul.

Selain belajar tentang digital marketing, tim ahli tersebut nantinya juga akan terus membuat konten tentang kebangsaan, tentang para pahlawan dan veteran, serta tentang rasa cinta generasi muda terhadap Indonesia.

“Anak-anak itu tidak kami undang, mereka berpartisipasi sendiri, mereka tertarik bergabung dalam program itu karena mereka resah dengan maraknya isu khilafah di Indonesia belakangan ini,” tuturnya. 

Lebih lanjut, ia memberitahu tentang salah satu konten buatan tim binaannya tersebut. Konten youtube yang sempat viral di media sosial saat marak kasus sumpah khilafah tersebut berdurasi sekitar 2 menit 20 detik. Di dalam video itu ditampilkan reaksi dan statement dari para veteran saat mereka menonton video para mahasiswa yang bersumpah akan menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah. 

Dengan diadakannya tim digital marketing dan tim konten tentang kebangsaan tersebut, Djoko berharap hal itu bisa mewujudkan cita-cita veteran. Satu yang terus dicita-citakan veteran hingga akhir hayat adalah untuk terus mengabdi pada Indonesia. Salah satunya dengan merangkul generasi muda melalui program kontennya agar generasi muda paham tentang arti pentingnya kebangsaan dan pancasila bagi Indonesia. (Salsabila Annisa)