DIY Editor : Danar Widiyanto Jumat, 11 Agustus 2017 / 07:30 WIB

KEHADIRAN BANDARA BARU DI KULONPROGO

Peluang Usaha Belum Dimanfaatkan Optimal

YOGYA, KRJOGJA.com - Kehadiran Bandara Internasional Yogyakarta Baru (New Yogyakarta International Airport/NYIA) di Temon Kulonprogo yang ditargetkan mulai beroperasi 2019 mendatang, selain membuka kesempatan kerja juga peluang usaha.

Banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan dengan dibukanya NYIA, mulai dari katering, laundry, jasa kebersihan, peternakan, perikanan, angkutan, sampai industri. Sayangnya, masyarakat di sekitar lokasi bandara khususnya maupun masyarakat DIY pada umumnya, belum sepenuhnya menyadari hal itu. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, melainkan harus disiapkan secara serius, supaya masyarakat DIY bisa menikmati manfaat dari adanya bandara baru tersebut.

"Adanya NYIA secara otomatis menjadikan peluang bisnis semakin terbuka lebar. Tapi semua peluang itu tidak akan berarti tanpa diimbangi kesadaran masyarakat untuk memanfaatkannya. Karena itu dibutuhkan kecermatan dalam membaca setiap peluang yang ada, sehingga kesejahteraan masyarakat sekitar bisa meningkat," kata Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto di Yogya, Kamis (10/8/2017).

Tavip mengungkapkan, sektor pariwisata dan industri kreatif sampai saat ini masih menjadi unggulan DIY. Menyadari hal itu, Pemda DIY dengan dukungan stakeholder terkait terus berupaya agar sektor-sektor unggulan tersebut bisa dikembangkan secara optimal, sehingga keberadaan bandara tidak hanya mendatangkan manfaat bagi industri pariwisata, namun juga sektor lain termasuk industri kreatif maupun perikanan.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY, GKR Mangkubumi mengakui, peluang dengan hadirnya NYIA di Kulonprogo belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh para pelaku usaha di DIY. Untuk itu, pengusaha perlu segera mengambil kesempatan pascabandara baru tersebut beroperasional, dengan fokus mempersiapkan sematang-matangnya menggarap dua sektor andalan yaitu pariwisata dan industri kreatif, agar DIY tidak hanya sekadar menjadi penonton.

Menurut GKR Pembayun, seharusnya sejak awal pembangunan bandara tersebut, pengusaha dan tenaga kerja dari DIY dilibatkan sepenuhnya, tetapi kenyataanya tidak demikian. "Peluang untuk penyerapan tenaga kerja dari pembangunan bandara tersebut hanya tinggal subkontraktor generasi ketiga atau tenaga kerja yang nilainya kecil. Hanya buruhlah yang terserap, tetapi pengampu proyek atau rekanan kontrakornya tetap dari luar terutama yang besar-besar dan selama ini telah menjadi langganan PT Angkasa Pura I (Persero). DIY memang belum mempunyai kontraktor yang bisa menggarap tender-tender besar senilai puluhan miliar apalagi bernilai triliun, rasanya belum bisa," ungkap GKR Mangkubumi.

Putri Sulung Raja Kraton Yogyakarta tersebut mengingatkan, setelah tidak bisa memanfaatkan peluang proses pembangunan fisik NYIA, para pelaku usaha diminta segera menangkap peluang pascabandara beroperasional nanti. Peluang yang mungkin di sektor pariwisata dan industri kreatif yang memang sudah menjadi keunggulan pelaku usaha di DIY.

Penjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIY, R Hananto Hadi Purnomo menyatakan, konsekuensi logis dari adanya bandara baru akan berdampak pada sektor ekonomi. Untuk itu semua pihak harus menyiapkan diri sesuai Tupoksinya masing-masing. Misalnya Dinas PUP ESDM lebih fokus ada kesiapan insfrastruktur di sejumlah kawasan strategis, sehingga antara daerah satu dan lainnya bisa terjadi keseimbangan pembangunan.

"Konsekuensi dari pembangunan bandara baru di Kulonprogo, harus diimbangi kesiapan infrastruktur yang andal dan memadai, sehingga bisa tercipta keseimbangan pembangunan di semua daerah di DIY," ungkap Hananto.(Ria/Ira)