Peristiwa Editor : Agung Purwandono Rabu, 26 Juli 2017 / 00:36 WIB

Hentikan 'Victim Blaming' Pada Korban Kekerasan dalam Pacaran

MASYARAKAT luas harus turut berpartisipasi dalam menyikapi kasus kekerasan terhadap perempuan. Banyak cara yang bisa dilakukan apabila melihat orang terdekat kita menjadi korban dalam kekerasan, salah satunya adalah menghentikan perilaku “victim blaming”. Hal itu dikatakan Niken Anggrek Wulan yang mewakili Yayasan Rifka Annisa.

“Seringkali kalau ada sesama perempuan mengadu bahwa ia dilecehkan atau mengalami kekerasan dalam suatu hubungan, masih ada orang yang malah menyalahkannya seperti “siapa suruh kamu mau pacaran sama dia?” atau “itu salahmu kenapa kamu mau diajak ke kosnya?” dan semacamnya,” jelas Niken.

Sebagai staff dari yayasan yang memberi perlindungan pada perempuan yang mengalami kekerasan, Niken mengungkapkan bahwa victim blaming adalah penyebab kebanyakan kliennya enggan mengadu atau meminta pertolongan pada masyarakat luas.

“Maka dari itu kita seharusnya bersikap supportif, memberi dukungan dan semangat untuk memperjuangkan hak-haknya, supaya korban dapat terbuka kepada yang bisa memberi pertolongan,” sambungnya.

Mencari Tahu Latar Belakang Calon Pasangan

Agar tidak terjebak dalam suatu hubungan tidak sehat, penting untuk mencari tahu segala masa lalu dan latar belakang keluarga si calon pasangan. Hal tersebut penting untuk dilakukan karena bibit-bibit perilaku kekerasan dapat dideteksi sejak dini melalui cara ini.

“Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui latar belakang calon pasangan, bisa bertanya pada teman-teman sekelilingnya, pada tetangga-tetangganya, atau dalam proses mengenal,” papar Niken.

Niken memaparkan bahwa kasus kekerasan yang dialami oleh klien di Rifka Annisa tidak hanya soal kekerasan fisik dan mental, namun juga kekerasan seksual.

Menurut data yang telah dikaji oleh Yayasan Rifka Annisa, bahkan di Yogyakarta, masih ada kasus kekerasan seksual yang harus dialami oleh difabel dan anak di bawah umur. “Biasanya pelaku mengincar korban yang lemah dan tidak punya kuasa untuk melapor,” jelasnya sambil memaparkan data-data statistik terkait kekerasan yang dialami oleh perempuan di Yogyakarta. (Mg-07)