SEMNASKAN UGM XIV

Kaya Nutrisi, Spirulina Potensial Dikembangkan di Indonesia

Dr Ahmad Fairus Mai Soni saat menyampaikan paparan. Foto: Devid Permana

YOGYA (KRjogja.com) - Spirulina atau mikroalga berbentuk spiral yang kaya manfaat untuk kesehatan manusia dan hewan, sangat potensial dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis dengan cahaya matahari sepanjang tahun. Spirulina telah lama dikonsumsi oleh manusia di Mexico dan Chad, serta menjadi super food bagi astronot saat misi luar angkasa. 

"Dengan produktivitas tinggi, periode pemeliharaan cukup 6-7 hari dan harga jual tinggi Rp 1 juta/kg untuk foodgrade, menjadikan bisnis budidaya spirulina sangat menguntungkan," terang Dr Ahmad Fairus Mai Soni dari Balai Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (Semnaskan) XIV di Auditorium Fakultas Pertanian (Faperta) UGM, Sabtu (22/7/2017).

Fairus yang juga pelaku industri budidaya spirulina menjelaskan, saat musim kemarau pruduktivitas spirulina bisa mencapai 2-3 ton/hektar/bulan, sedangkan saat musim kemarau 1,6-2,4 ton/ha/bulan. Meskipun berada di daerah tropis, namun Indonesia belum termasuk produsen terbesar di dunia. Negara produsen terbesar adalah Israel 120.000 ton/tahun, Jepang 1.000 ton/tahun, AS 400 ton/tahun. "Disejumlah negara seperti Myanmar dan India, budidaya spirulina dilakukan secara tradisional dan langsung dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari," katanya.

Menurut Fairus, kandungan protein pada spirulina lebih tinggi dibanding bahan pangan lain seperti daging, ikan, ayam maupun telur. Selain itu banyak mengandung vitamin A, E, C serta tinggi zeaxanthin yang mampu menyayat sel kanker sejak dini. Dalam perkembangannya spirulina dipasarkan dalam bentuk kapsul. Riset menunjukkan spirulina bermanfaat untuk menanggulangi masalah malnutrisi, kolesterol, mengurangi risiko kanker dan jantung dan lain-lain. "Investasi budidaya spirulina cukup rendah dengan keuntungan besar," katanya.

Sedangkan Dosen Departemen Perikanan Faperta UGM Dr RA Siti Ari Budhiyanti memaparkan tentang pengembangan tekonologi mikroemulsi dan nanoemulsi dalam bidang perikanan di Indonesia. Menurut Budhiyanti, pengembangan nanoelmulsi dan mikroemulsi dalam bidang perikanan sangat dimungkinkan terutama dalam bidang pengolahan hasil perikanan dan bidang budidaya perikanan.

Dekan Faperta UGM Dr Jamhari mengatakan, pihaknya rutin menggelar seminar nasional setiap tahun dalam rangka berpartisipasi dalam penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang perikanan dan kelautan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat pertukaran informasi, komunikasi maupun sinergi dan kolaborasi antar peneliti, sehingga memperkuat basis pengembangan keilmuan dan tekonologi perikanan dan kelautan. (Dev)

Tulis Komentar Anda