Mahasiswi Cantik UPN yang Tuna Rungu Ini Ternyata Calon Programmer Komputer

Kiki, mahasiswi Teknik Informatika UPN Veteran Yogyakarta. (Istimewa)

SLEMAN, KRJOGJA.com - Selalu melihat gerak bibir lawan bicara sembari sesekali mengeluarkan hangphone untuk mengetik kata yang kurang dipahami bersamaan dengan bahasa isyarat yang digerakkan dari tangan. Itulah keseharian yang dilakukan Cinthya Rizki Anida mahasiswi difabel (tuna rungu) semester 7 Prodi Teknik Informatika, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta saat mengobrol bersama temannya.

Semenjak usia 3 tahun, Kiki sapaan akrab Rizki kehilangan pendengaran dan terpaksa menjalani hidup berbeda dengan orang pada umumnya. Ia harus berusaha lebih keras untuk berbicara atau memahami apa yang dikatakan orang lain padanya.

Perjuangan tersebut seakan sangat luar biasa apabila kita yang tidak kekurangan apapun berusaha memposisikan diri menjadi Kiki. Lulus dari SMK Kristen 2 Klaten dengn predikat nilai-nilai yang selalu baik agaknya menjadi bukti betapa perjuangan tersebut tak terbantahkan.

Bahkan kini ia sedang menempa diri lulus sebagai sarjana Teknik Informatika dan menuntaskan cita-citanya sebagai programmer komputer. Gadis cantik kelahiran 28 Mei 1994 ini pun menceritakan suka duka ketika menuntut ilmu dengan keterbatasan pendengaran yang dimiliki.

Sempat minder karena kesulitan menerima penjelasan kuliah dosen, nyatanya perjalanan Kiki di UPN Veteran bisa terus berjalan. Bantuan rekan kuliah menjadi sebuah kebaikan tiada tara baginya, tak seperti bullying yang dialami salah satu mahasiswa ditabel di Jakarta beberapa hari lalu.

"Kadang saya kesulitan menangkap materi kuliah karena harus membaca gerak bibir dosen. Jika berkomunikasi dengan dosen, saya minta tolong teman untuk membantu menerjemahkan," ungkapnya kepada wartawan Rabu (19/7/2017).

Awalnya, Kiki tak memberitahukan keterbatasan yang dimiliki pada rekan-rekam kuliah karena perasaan campur aduk di hatinya. Namun, akhirnya ia berani terbuka dan siapa sangka rekan-rekannya memberi support agar Kiki terus berkuliah dan meraih cita-citanya.

"Mungkin ada yang berpikiran buruk tapi kita tetap berusaha semangat dan fokus pada cita-cita. Bagi teman-teman berkebutuhan khusus, kita memang tidak sempurna tapi janganlah berputus asa, mari buktikan kalau kita juga mampu dan bisa sukses," ajaknya.

Kini meski ditengah keterbatasan, Kiki ingin berusaha menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang programmer komputer sesuai cita-citanya sejak kecil. "Segera lulus dan bekerja sesuai bidang yang saya tekuni, berkarya dan membuktikan bahwa saya bisa," pungkasnya.

Itu sekelumit cerita Kiki, mahasiswi berkebutuhan khusus yang berjuang dua kali lebih keras untuk bisa menempuh pendidikan dan lulus sebagai sarjana. Ingin mendiskreditkan orang dengan disabilitas? Pikir dulu seribu kali! (Fxh)

Baca: Disabilitas Bukan Bahan Olok-olok

 

Tulis Komentar Anda