Ragam Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 30 Juni 2017 / 00:40 WIB

Pesan Inung Marwoso : Berbuat Sosial Jangan Pamrih

INUNG Marwoso termasuk perempuan cerdas. Idenya tak pernah surut. Aksi sosialnya juga tak bisa lagi dihitung dengan jari. Tangan dinginnya dalam menahkodai sejumlah komunitas arisan dan organisasi di Yogya selalu berbuah manis. 

Itulah sosok wanita yang ditempa dengan pola hidup disiplin, sederhana, dan mandiri oleh orangtuanya. “Saya dibesarkan di lingkungan militer. Ayah saya purnawirawan TNI. Sedangkan ibu saya seperti wanita pada umumnya. Ngurusi rumah, suami dan anak-anak. Namun sesekali beliau juga nyambi berdagang. Itulah yang membentuk karakter saya sekarang. Disiplin, sederhana, dan mandiri. Saya juga ketularan jiwa dagang dari ibu saya,” tutur Inung saat ditemui KRJOGJA.com belum lama ini.

Plawang Community adalah komunitas arisan yang diketuai Inung kali pertama. Awalnya hanya beranggotakan kurang dari 10 orang, lambat laun menjelma besar dan menjadi role model bagi komunitas arisan serupa. "Pada prinsipnya kita adalah mahluk sosial. Dan berbuatlah sosial dengan sesama tanpa pamrih. Hal ini yang selalu saya tularkan kepada anggota Plawang, ataupun anggota arisan yang lain," jelas istri dari Nanang Marwoso.

Tak puas di satu komunitas, Inung juga ikut membidani lahirnya komunitas Mustoko dan Peace & Love. Pada intinya sama, ingin berbuat kebaikan kepada sesama. Namun ada sedikit perbedaan konsep. Jika Mustoko concern di bidang pendidikan dan kebudayaan. Adapun Peace & Love murni mengabdikan diri di bidang sosial. "Saya itu suka banyak kawan. Rejeki itu nggak hanya materi. Banyak kawan juga rejeki. Makanya saya juga aktif beberapa komunitas dan organisasi,” imbuh wanita yang aktif di Kadin DIY dan Lions Club Yogya.

Ketika disinggung terkait stigma sejumlah masyarakat awam jika komunitas arisan, hanya bisa hura-hura dan glamour, wanita berparas ayu ini langsung membantahnya. "Komunitas arisan yang saya ketuai (Plawang dan Peace & Love) sudah berbuat nyata. Nggak cuma wacana saja. Bahkan warga yang kami bantu sangat antusias dan bangga. Kami juga masih menjalin komunikasi dengan para warga. Kami ingin nguwongke mereka. Tidak cuma sekali bantu, terus putus hubungan. Kami selalu menjaga kesinambungan," kata ibu tiga putra ini, yang mempunyai cita-cita membuat komunitas pengajian. (*)