Ninda Nindiani MA

Principal Trainer di First Step Public Speaking Club&Courses, seorang trainer, broadcaster dan professional MC yang telah menekuni dunia Public Speaking lebih dari 20 tahun.

Bergabung sejak :  

Selasa, 04 Apr 2017


Bantu Tunanetra dengan GaBlind dan Denta Aditya Bercerita di Inventora

Ninda Nindiani bersama Tim GaBlind

PROGRAM INVENTORA yang tayang setiap minggunya di Jogja TV memasuki episode ke-11, yang merupakan episode terakhir. Terimakasih untuk Waroeng “SS” Indonesia dan berbagai pihak yang telah mendukung program ini.

Saya senang bisa menampilkan banyak anak-muda yang penuh inovasi, memiliki visi, talenta, obsesi yang menjadikan mereka juara. Mereka selalu tertantang untuk memberikan yang terbaik bagi lingkungannya dan punya kepedulian untuk berkontribusi membantu sesama. Kalau istilah anak muda sekarang : “mereka ini memang juaraaaak!” Hehe..

Di episode ini saya berbincang-bincang dengan para penemu atau perancang GaBlind bagi para tunanetra, dan juga ngobrol seru dengan Denta Aditya, presenter dan pegiat seni peran yang aktif dalam berbagai kegiatan lainnya.
Gablind

Tiga mahasiswa Amikom Yogyakarta yaitu Arvin Claudy Frobenius, Eko Rachmat dan Jeki Kuswanto merancang dan mengembangkan alat yang dapat digunakan untuk para tunanetra, dinamakan GaBlind. Alat ini mengkombinasikan hardware, berupa sepatu dan kacamata, serta software, berupa aplikasi yang membantu para tunanetra dalam beraktivitas.

“Sepatu ini dapat mendeteksi halangan di depan dan di bawah sepatu, misalnya ada tangga di depan atau lubang di jalan. Sepatu kemudian bergetar memberi peringatan kepada penggunanya”, kata Eko menjelaskan cara kerja sepatu yang mereka rancang dengan sensor khusus ini.

Arvin menambahkan : “Selain dapat bergetar, keunggulan sepatu ini bisa charging otomatis, tidak harus di-charge. Jadi nggak perlu kuatir kehilangan daya di tengah jalan saat dikenakan.”

Selain sepatu, mereka juga melengkapi rancangan ini dengan kacamata khusus yang memiliki sensor untuk mendeteksi halangan yang ada di depan-atas.
“Keunggulan kacamata ini yaitu terhubung dengan HP, sehingga kalau ada halangan di depan atas, maka sensor menangkapnya dan HP memberi sinyal bunyi. Misalnya ada dahan pohon atau tiang di depan.  Semakin dekat halangan maka sinyal bunyinya makin cepat”, ujar Jeki.

Kacamata Gablind ini terkoneksi dengan software di HP android. Aplikasinya ada 2 jenis, yang satu untuk tunanetra penggunanya, yang kedua untuk keluarga, atau orang tua mereka, atau pengurus Yayasan Tunanetra, sehingga bisa memantau dan memberi bantuan kalau diperlukan.

Jeki melanjutkan :“Ada 3 menu utama, yang pertama adalah G-Blind, untuk mendeteksi keberadaan kacamata. Yang kedua G-location, yaitu untuk memberi informasi tentang jalan atau lokasi tujuan. Dan yang ketiga adalah G-walk, untuk menunjukkan arah atau rute menuju lokasi tersebut.”

Ide merancang Gablind berawal dari pengamatan saat di Malioboro. Mereka melihat para tunanetra yang masih berbenturan atau terantuk sesuatu atau terperosok karena lubang. Jalur untuk tunanetra juga banyak yang sudah rusak sehingga sulit dideteksi oleh para tunanetra meski sudah dibantu tongkat.

Maka ketiga mahasiswa ini merasa terpanggil untuk membuat aplikasi dan alat yang akan memudahkan para tunanetra saat berjalan kaki tanpa bantuan orang lain.
Alat ini telah diikutkan dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Amikom.

Kemudian mengikuti kompetisi internasional seperti APICTA Award di Taiwan. Ketiganya boleh berbangga karena karya mereka pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu dari Top 7.

Mereka ingin terus mengembangkan rancangan ini dengan memproduksi sepatu sendiri. Nantinya kacamata juga akan dilengkapi dengan kamera, sehingga tidak hanya memberi sensor halangan melainkan juga dapat membaca teks.

Wow...saya ikut bangga..para mahasiswa ini selalu tertantang untuk mengembangkan alat yang mereka ciptakan supaya lebih bermanfaat bagi banyak orang. Keren!

Denta Aditya

Denta dikenal sebagai penyiar radio dan presenter berita di Jogja TV. Namun aktivitasnya juga berkembang di dunia seni peran. Lebih dari 6 film telah dibintanginya, selain juga mengisi dubbing film animasi yang dirasakannya sebagai pengalaman unik dan menyenangkan.

Ninda Nindiani  bersama Denta Aditya

Kegiatannya yang beragam itu disyukuri sebagai proses hidup yang sangat menarik dan menjadikannya sosok anak muda yang matang.

“Saya pernah mengalami kegalauan, mau ngapain dan kemana ya setelah selesai SMA? apakah mau kuliah atau langsung kerja? Kalau kuliah mau ambil jurusan apa? Akhirnya masuklah saya ke jurusan Teknik Sipil atas saran orang tua. Meski nggak sreg pada awalnya..hehe...tapi karena sudah nyemplung maka saya bertekad harus menyelesaikan dengan baik," ceritanya.

Ini yang pengin Denta tularkan kepada anak muda. Bahwa memang paling bagus kalau sudah tahu apa yang mau dilakukan ke depannya. Tapi kalau memang masih galau, mengikuti saran orang tua nggak ada salahnya juga, asal bertekad kuat, maka semua dapat diselesaikan dengan baik. "Sementara itu sebaiknya tetap ikuti banyak kegiatan karena akan memberi wawasan dan mendapat network yang luas," ujar Denta dengan penuh semangat.

“Ibaratnya dalam satu lahan kita tanami banyak jenis tanaman. Semua bisa tumbuh, nanti pada saatnya akan nampak mana yang dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik dan mana yang tidak,” imbuhnya.

Sudah membintangi 5-7 film, paling berkesan film “Silent Night”. Pelajaran yang bisa dipetik dari bermain peran adalah tahu karakter bermacam manusia, sehingga tidak ingin memaksakan kehendak kepada orang lain, dan kita lebih dewasa melihat bahwa orang lain tidak selalu bisa seperti yang kita inginkan.

“Justru keberagaman itulah yang membuat dunia ini menjadi menarik,” tambah cowok yang menyandang gelar Dimas Jogja 2012 ini.

Dari berbagai aktivitas yang ditekuninya dengan serius, penghargaan kemudian diraih, antara lain penghargaan sebagai Pembaca Berita Terbaik 2017 dari KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) DIY.

Denta Aktif juga di Paguyuban Dimas Diajeng Jogja, dan berusaha menyosialisasikan tentang pariwisata dan budaya Jogja kepada anak muda melalui berbagai kegiatan dan media.

“Budaya tidaklah terbatas pada kesenian yang dipentaskan misalnya, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Beruntung saya tinggal di Jogja yang masyarakatnya masih cukup kental memegang tata-krama. Kami yang anak-muda ini semoga masih bisa meneruskan kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan para orang tua. Segaul apapun kita, harus tetap punya unggah-ungguh," tutupnya.

Yup...saya setuju..kita harus selalu belajar tentang budi pekerti atau unggah-ungguh. Anak muda yang pinter, gaul, punya unggah-ungguh serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama lah yang akan bikin Indonesia menjadi bangsa yang hebat.

Ayoooo... bikin bangga Indonesia!

Tulis Komentar Anda