Tantangan Wikan Sakarinto, Tutup D3 Buka Diploma IV

Wikan Sakarinto

BELUM selesai Sekolah Vokasi UGM menata dirinya, tantangan baru kembali muncul. Dalam wujud Permenristekdikti 15/2017 tentang Penamaan Program Studi Perguruan Tinggi.

Isi peraturan tersebut sederhana: memberikan Kemristekdikti wewenang menamakan program studi, guna keseragaman pandangan antar universitas dalam nomenklatur. Karena sebelumnya ketika masih jadi wewenang universitas, penamaan yang berbeda dari sebuah studi akan membuat para mahasiswanya kesulitan mencari pekerjaan.

Namun bagi vokasi, tantangan ini menjadi berbeda karena mereka diminta mengubah semua nama prodinya berdasarkan permenristekdikti tersebut. Yang mensyaratkan nama studi diploma tidak sama dengan sarjana, dan harus sesuai dengan apa yang tercantum dalam peraturan tersebut. Bagi Wikan Sakarinto PhD, Dekan Sekolah Vokasi UGM, ia menganggap tantangan ini sebagai badai besar bagi fakultas yang dipimpinnya.

"Ibarat orang sudah lahir, gede, tapi dipaksa ganti nama. D3 Teknik Mesin jadi D3 Teknologi Mesin, ini kan sama saja seperti saya buka klub baru papan bawah.," tekannya.

Kesulitan tersebut akan muncul karena perusahaan belum tentu akan mempercayai kredibilitas program yang telah berganti nama ini. Orang tua dan masyarakat yang telah akrab dengan nama jurusan lama, tentu tidak akan mudah membiarkan anaknya memasuki jurusan baru yang dianggapnya aneh tersebut.

"Walaupun, akreditasinya memang tetap A. Hanya nama saja yang berganti. Tapi nama berubah itu merubah segalanya lho. Badai besar ini," ungkapnya menyayangkan.

Hal itulah yang membuat Wikan kukuh dalam menentukan roadmap kepemimpinannya. Ia menghendaki Vokasi UGM terus mengurangi kuota penerimaan mahasiswa diploma tiga dan menutup semua program studi tersebut dalam waktu dekat.

"Kapan saya mau tutup? Secepat-cepatnya. Yang siap ditutup, ya ditutup," tegasnya.
Tapi kedepan, ia akan membuka diploma empat dalam studi serupa. Alasannya, dengan membuka studi diploma empat dengan gelar sarjana terapan, maka vokasi UGM akan membuka kesempatan bagi lulusannya untuk melanjutkan pendidikan magister terapan dan doktor terapan.

"Jadi kalau kita buka diploma empat, kita bisa masuk jajaran prodi yang ibaratnya di bola itu liga divisi satu. Ini setara sarjana. Walaupun memang harus diakui, diploma memang masih dijadikan pilihan kedua masyarakat. Tapi pendaftar kita naik terus lho karena perbaikan di sana sini," tegasnya.

Kini, Vokasi UGM bahkan telah merintis production house dengan film unggulannya yang telah menghiasi ragam media nasional dan ditunggu-tunggu khalayak, bertajuk "Tengkorak". Namun kedepan, Wikan juga menegaskan bahwa Vokasi UGM di bawah kepemimpinannya sama sekali tidak berambisi menjadi terbaik di Indonesia.
 
Baginya yang penting, adalah bagaimana menjadikan anak-anaknya cerdas dan memiliki keterampilan yang berguna di dunia kerja. Nilai TOEFL minimal 500, kewajiban memiliki sertifikat kompetensi, dan senantiasa mendekatkan diri pada industri, menjadi penting guna mewujudkan hal tersebut.

"Jadi sekarang itu eranya sinergi, bukan kompetisi. Bagaimana saya ingin berbagi dengan vokasi seluruh indonesia, agar anak bangsa kita ini jadi anak bangsa terbaik di dunia bersama vokasi seluruh Indonesia. Ayo bersama kita berbagi," pungkasnya. (Ilham Dary Athalah)

 

 

 

Tulis Komentar Anda