Ragam Editor : Agung Purwandono Selasa, 13 Juni 2017 / 00:08 WIB

Wikan Sakarinto: Tak Mau Vokasi UGM Karam

WIKAN Sakarinto PhD, kini Dekan Vokasi UGM, masih ingat betul apa yang terjadi enam tahun lalu selepas menyabet gelar Doktor Teknik Industri. Pulang dari tiga tahun izin belajar di Negeri Sakura, tawaran berat menghampirinya.
Memilih antara tetap mengampu di Fakultas Teknik (FT)  dan mengajar anak-anak sarjana strata satu Teknik Industri, atau beralih status menjadi pengajar Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi (SV) UGM. Sekolah yang ia rintis bersama sesama kolega akademisi dalam Tim Pengembangan SV UGM, sebelum berangkat ke Jepang.

Masalahnya, ia bukan sekadar diminta memilih. Ia juga harus menimbang. Antara kelancaran dana riset dan janji bisa lebih cepat meraih gelar profesor jika mengajar di Fakultas Teknik, atau harus menghadapi SV yang masih seumur jagung, minim dana, dan kerap menghadapi demonstrasi mahasiswa. Namun di tengah segala kekurangan vokasi, hatinya tetap teguh. Bahwa Diploma Teknik Mesin lah yang melahirkannya, maka disitulah ia harus berjuang.

"Bayangkan saja. Ngapain saya S3 sampai Jepang belajar Teknik Industri, kalau disini cuma kerjaan ngadepin demo? Hancur-hancuran vokasi itu dulu. Tapi gimana lagi. Mosok tanah kelahiran saya hancur, kapalnya karam, saya pindah ke hotel mewah gitu," ungkap Wikan tanpa ragu.

Dari situlah, kisahnya turut serta membangun Vokasi UGM hingga menjadi sehebat hari ini, dimulai.

Merintis dengan Penuh Dedikasi

5 September 1977 menjadi penanda diresmikannya Pendidikan Ahli Teknik FT UGM. D3 Teknik Mesin sudah ada sejak itu, bersama dengan Teknik Elektro dan Teknik Sipil. Seiring perkembangan peraturan kependidikan, Fakultas Non-Gelar Teknologi menjadi tempat bernaung prodi ini.

Hingga pada tahun akademik 1991/1992, program studi diploma akhirnya digabungkan lagi ke Fakultas Teknik. Hal serupa juga terjadi pada program studi diploma ekonomi yang tergabung dalam Fakultas Non-Gelar Ekonomi, yang kemudian digabungkan dalam Fakultas Ekonomi Bisnis.

"Tahun 1993, saya masuk disini (mahasiswa diploma teknik mesin). Kenapa saya masuk diploma mesin? Karena saya gagal UMPTN. Simpel kan. Dan itu juga jadi alasan saya kenapa saya memilih bergabung mengajar Diploma Teknik Mesin. Karena saya dibesarkan disini," tekan Wikan.

Peraturan Rektor 518/P/SK/HT/2008 kemudian menjadi tonggak pendirian Vokasi UGM. Menyatukan seluruh diploma tiga UGM dibawah naungan sekolah, yang berpusat di mantan bangunan Fakultas Pertanian UGM.

Rektor UGM 2008-2012 Prof. Sudjarwadi, kemudian mengangkat Wikan sebagai Staf Khusus Rektor untuk membereskan segala tantangan vokasi. Tugasnya: mengawal pengembangan vokasi dan berkomunikasi degan mahasiswa yang kerap berdemo, menuntut keberadaan kembali program swadaya.

Sejak vokasi terbentuk, lulusan diploma UGM memang tak lagi bisa melakukan alih jalur dari diploma ke sarjana seiring dengan penutupan program swadaya tersebut. Karena pada dasarnya, vokasi dan akademik tidak bisa disatukan. Terlebih lagi, pendidikan vokasional kini telah mengenal gelar Sarjana Terapan (D4), Magister Terapan, serta Doktor Terapan. Sehingga vokasi dan akademik yang secara melieu berbeda, harus tetap memiliki ruang berkembang masing-masing. Walau dalam prosesnya, tetap melakukan sinergi dan kolaborasi.

Selain itu, masalah rendahnya peminat dalam pendaftaran Vokasi UGM juga memicu problematika tersendiri. Pada awal Wikan mengajar di SV UGM dan turut serta menyaksikan pendaftaran di tahun 2012, daya tampung 3.000 untuk dua puluh dua jurusan di SV hanya diperebutkan oleh 6.800 calon mahasiswa.

Nyaris 50% pendaftar vokasi dipastikan diterima. Ketiadaan kompetisi yang meminimalkan potensi prestasi, kemudian menimbulkan hasil memilukan: menurunnya kepercayaan diri civitas Vokasi sekaligus repurtasinya di mata masyarakat.

"Bayangkan itu jelek sekali. Andai disuruh pingsut, dua orang datang, satu kalah lalu pergi, satunya lagi jadi mahasiswa vokasi," kenangnya sembari bercanda.

Di bidang sarana prasarana, gedung Fakultas Pertanian UGM yang kini menjelma jadi Gedung KPFT Vokasi UGM itu belum dilengkapi fasilitas apapun. Vokasi UGM pertama kali dirintis dan memulai tanpa bekal apapun. Semuanya kosong, dari ruang kelas hingga laboratorium.

Masalah itu kemudian dilengkapi dengan over kapasitas bangunan. Dimana satu bangunan yang awalnya hanya ditempati 10 program studi dengan jumlah mahasiswa 2.000an, tiba-tiba harus dijejali 22 jurusan dengan 9.000an mahasiswa.

Bagi Vokasi UGM celakanya lagi, kebanyakan dosen tidak pindah dari fakultas yang lama ke Vokasi UGM. Transisi penggabungan ke SV hanya menggabungkan mahasiswa seluruh prodi D3 tanpa menggabungkan dosennya. Mengingat pada waktu itu, dosen dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas lainnya memang bercampur antara mengajar S1 dan D3. Dan ketika terjadi pemisahan, mereka memilih tetap di asalnya.

"Itulah celakanya. Mahasiswa pindah, dosennya kebanyakan tetap disana. Hanya dosen D3 teknik yang pindah dalam jumlah besar, mengingat sejak dulu kita telah mandiri dan sejak dulu dosen D3 mostly focus mengajar D3. Itulah yang membuat Vokasi ini dari dulu motornya teknik," kenangnya.

Sedangkan bagi Wikan bersama kolega untuk melengkapi fasilitas Vokasi, juga harus dilalui dengan penuh jalan berliku. Perintisan SV di tangan Plt Direktur Prof Fatchan Nurrochmad, waktu itu hanya sepenuhnya menggunakan dana dari SPP/BOP mahasiswa. Bedanya, jika fakultas lain telah menerima banyak bantuan dari pemerintah maupun mitra sponsor, serta tak perlu belanja segala perlengkapan perkuliahan dari nol, Vokasi UGM harus berdiri diatas kaki sendiri untuk memenuhi segala kebutuhannya.

"Jadi ya pelan-pelan, serba terbatas. Awal itu Pak Fadchan kerjanya ya belanja furnitur. Saya saja, baru pasang karpet beberapa bulan ini di ruang dekan. Sebelumnya, hanya tegel tua kosongan itu," kenangnya. (Ilham Dary Athalah)

Semua tantangan itu tak membuat Wikan Sakarinto dan Kolega lainnya menyerah. Bahkan, ia rela mengorbankan waktu tidurnya demi menjadi admin Twitter Vokasi  seorang diri. Simak kisah selanjutnya disini.