KOLOM Editor : Agung Purwandono Kamis, 08 Juni 2017 / 00:28 WIB

Inventora : B-Smart Mudahkan Tunanetra untuk Berkomunikasi Karya Mahasiswa Amikom

TIAP manusia memerlukan media untuk berkomunikasi. Tidak semua komunikasi lancar dan mulus, ada yang mengalami hambatan karena memiliki keterbatasan seperti para tunanetra, misalnya. Namun ada juga hambatan atau kekacauan komunikasi yang terjadi akibat para pengguna media yang tidak cerdas atau tidak bijak.

 

Nah, episode ke-10 Inventora kali ini saya beri tema “tantangan media”. Beberapa anak muda tertantang dan bekerja keras menciptakan aplikasi yang memudahkan bagi para tunanetra untuk berkomunikasi dan melakukan kegiatan lainnya dengan handphone mereka. Aplikasi itu dinamai B-Smart.

Baca Juga : Cara Tio, Mahasiswa Tunanetra Buktikan Kemandiriannya

Setelah itu kita bertemu seorang dosen muda Astrid Puspitasari. Ia tertantang untuk menyiapkan anak-didik yang mampu menggunakan media dengan cerdas dan bijak.

Perbincangan ini ditayangkan di Jogja TV yang didukung oleh Waroeng “SS” Indonesia hari Senin lalu. Tayangan ulangnya dapat disaksikan pada Hari Jumat, 9 Juni 2017 jam 15.00-15.30. Atau bisa diakses melalui www.jogjatv.tv.

Baca Juga : Program Inventora Episode 1-8

B-Smart

Tiga orang mahasiswa AMIKOM Yogyakarta, Elik Hari Muktafin, Budi Sulistiyo Jati, dan Heriyanto “Awei”, merasa tertantang menciptakan suatu aplikasi bagi para tunanetra. Salah satunya, Heriyanto atau akrab dipanggil Awei menjelaskan dengan sangat menarik tentang aplikasi B-Smart ini.

“B-Smart terdiri dari 3 bagian. Yang pertama adalah B-Touch, untuk berkomunikasi sehari-hari seperti menerima dan kirim sms, nelpon dll. Yang kedua adalah B-Tools, untuk menghitung seperti fungsi kalkulator, mendeteksi warna dsb. Dan yang ketiga adalah B-School, yang membantu tunanetra untuk membaca diktat atau materi pelajaran, melihat nilai ujian dll,” kata Awey dengan penuh semangat.

Ia kemudian menunjukkan cara kerja aplikasi tersebut. Terlihat 3 tombol di kiri dan 3 tombol di kanan, yang ternyata dirancang sedemikian rupa supaya para tunanetra dapat menggunakannya seperti dalam sistem huruf Braille yang sudah mereka kenal.

Terus terang saya kagum pada 3 anak muda ini karena mau bekerja keras mempelajari huruf Braille dan hal-hal lainnya demi bisa menciptakan dan mengembangkan aplikasi ini. Tanpa adanya kepedulian, aplikasi ini nggak akan terwujud.

“Aplikasi ini sudah kami uji-cobakan di Yaketunis (Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam). Dan kami mendapat masukan serta respon yang sangat baik. Para tunanetra merasa lebih mudah berkomunikasi dan melakukan hal lainnya dengan HP. Contohnya, dengan B-Tools mereka dapat mengetahui warna obat, atau warna uang, sehingga nggak keliru. Navigasi dengan suaranya pun dirasa cukup jelas, sehingga mereka merasa nyaman menggunakannya.”

Bekerja keras, punya kepedulian terhadap sesama, menciptakan sesuatu yang bermanfaat, dan berkreasi terus untuk mengembangkannya.....hmmm..energi seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak muda. Supaya nggak ada kesempatan dan waktu lagi untuk melakukan hal-hal negatif, termasuk menyebarkan berita yang tidak jelas di media.

Sekali lagi, salut untuk Tim B-Smart. Teruslah berkarya dan membanggakan Indonesia!

Astrid Puspitasari

Ngomong-ngomong soal media, saya sengaja menemui Astrid, seorang dosen muda yang mengajar di Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta. Keprihatinannya tentang penggunaan media yang kurang bijak atau tidak cerdas membuatnya makin bertekad untuk tidak sekedar mengajarkan teknis bermedia melainkan juga attitude dan nilai-nilai yang harus dipegang dalam menggunakan media apapun.

“Pengalaman hidup, pengamatan sehari-hari tentang apa yang terjadi, dan ilmu yang saya dapat saat sekolah atau kuliah mengajarkan bahwa media bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Dan bisa sangat efektif, sangat besar dampaknya. Maka sebaiknya digunakan dengan positif, cerdas dan bijak,” ujar gadis cantik yang barusaja kembali dari Malaysia sebagai salah satu pemateri presentasi tentang media dalam sebuah forum internasional ini.

Astrid juga pernah mengenyam pendidikan di Inggris saat mengambil studi S-2 di Jurusan International Broadcast Journalism di Birmingham City University. Ia berkesempatan juga kuliah-lapangan di BBC selama beberapa minggu sehingga dapat belajar langsung dari para jurnalis internasional berpengalaman. Salah satu yang sangat diingat adalah pentingnya riset sebelum melansir sebuah berita.

“Riset itu sangat penting. Tidak boleh ada berita ditayangkan atau diterbitkan tanpa riset yang mendalam. Inilah yang kadang nggak kita lakukan ya. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dengan cepat mem-broadcast atau copas info tanpa tahu kejelasan asal-usulnya. Bahkan kadang belum baca isi beritanya tuh, baru baca judulnya yang mungkin dirasa menarik...eeee langsung di-share ke banyak orang,” ujar Astrid sambil tertawa. “Sayang kan energi kita kalau harus mengonsumsi berita hoax apalagi ikut menyebarkannya.”

Saya teruskan ngobrol dengan Astrid tentang pentingnya anak muda kembali punya kegemaran dan waktu untuk membaca buku dan berbagai sumber bacaan. Di dunia yang super cepat ini memang banyak yang merasa tidak penting lagi melakukan itu. Tapi alangkah sayangnya kalau generasi ini tidak punya daya analisis yang baik gara-gara lebih senang membaca sedikit-sedikit saja dan mempercayainya sebagai kebenaran yang utuh.

Ayo anak muda...ayooo bikin bangga Indonesia!