DIY Editor : Agus Sigit Senin, 05 Juni 2017 / 15:31 WIB

Bantuternak, Aplikasi Penghubung Peternak dan Pemodal

SLEMAN, KRJOGJA.com - Berangkat dari kegelisahan penurunan jumlah peternak karena kesulitan akses modal dan keuntungan tak seberapa, beberapa mahasiswa UGM menggagas sebuah aplikasi telpon pintar yag diberinama Bantuternak. Aplikasi tersebut menghubungkan antara peternak sapi dengan pemodal yang ingin membantu keberlangsungan peternakan sapi potong di Indonesia. 

CEO Bantuternak, Ray Rezky Ananda kepada wartawan Senin (5/6/2017) mengungkap hingga tahun 2017 ini jumlah peternak kategori pra sejahtera di Indonesia jumlahnya semakin menurun. Keuntungan tak seberapa karena mata rantai penjualan yang panjang menjadi penyebab ketidaktertarikan peternak untuk terus jadi ujung tombak swasembada daging Indonesia. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Kami buat aplikasi android Bantuternak yang intinya membantu peternak prasejahtera mendapatkan bantuan permodalan dan keuntungan yang lebih besar. Untuk saat ini setelah satu minggu resmi dilaunching ada 10 peternak berpengalaman di Sriharjo  Imogiri Bantul yang siap dibantu dan bakal terus berkembang apabila respon semakin besar," ungkapnya. 

Dalam aplikasi tersebut, pemodal bisa memberikan bantuan mulai Rp 10 ribu hingga sesuai nominal seekor sapi. Nantinya setelah lima bulan masa penggemukan sapi, pemodal bakal mendapatkan bagi hasil baik itu untung maupun rugi sebesar 20 persen. 

"Kita sebut bagi hasil, 70 persen untuk peternak, 20 persen untuk pemodal dan 10 persen untuk Bantuternak. Kami tetap menghindari riba dan goror, selisih antara beli dan jual setelah lima bulan penggemukan bakal dibagi hasil, dan kami juga pastikan dari peternak langsung ke Rumah Pemotongan Hewan agar keuntungan bertambah," lanjutnya. 

Setiap satu minggu, pemodal yang berinvestasi di aplikasi Bantuternak bakal mendapatkan update informasi terkait ternak sapi. Secara detail, tim Bantuternak bakal menginformasikan dan membuat keputusan penting untuk menjaga keuntungan peternak dan pemodal tetap terjaga. 

"Updatenya lengkap termasuk perkiraan harga dilihat dari harga pasaran saat itu dibandingkan dengan berat sapi. Semua kita sampaikan pada pemodal. Untuk peternak kita juga dampingi intensif termasuk vaksinasi dan pakan," ungkapnya lagi. 

Satu minggu setelah diresmikan di play store android, Bantuternak kini telah diunduh tak kurang 300 users dengan tingkat investasi mencapai 30 orang. Mahasiswa UGM yakni Ray Rezky Ananda dan Hanifah Nisrina berharap aplikasi Bantuternak semakin berkembang besar dan membantu peternak tetap hidup untuk memastikan ketersediaan daging sapi berkualitas untuk Indonesia 

"Kami berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya menghidupkan peternak lokal untuk menciptakan swasembada daging sapi, Bantuternak ini mudah-mudahan jadi salah satu solusi terbaik. Setelah dari Bantul kami akan kembangkan ke wilayah lain seperti Sleman dan Klaten," pungkasnya. (Fxh)