Wisata Editor : Agus Sigit Kamis, 01 Juni 2017 / 11:39 WIB

Prambanan Jazz Festival 2017 Dihibur Penyanyi Grammy Award Sarah Brightman

SLEMAN (KRjogja.com) – Anda penikmat jazz? Ingin menyaksikan mahakarya musik jazz dengan pemandangan bulan purnama yang menyinari tekstur Candi Prambanan? Bila iya, silakan ke Candi Prambanan, di Kabupaten Sleman, Jogjakarta, 18-20 Agustus 2017.

Event Prambanan Jazz Festival 2017 yang siap menyapa dengan deretan artis papan atas Indonesia dan mancanegara. Dijamin bakal seru dan menyesal jika sampai “gagal nonton” pentas jazz itu.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Siapapun dijamin akan terkesima. Usungan tema 'Art, Music & Culture' menggabungkan dua Mahakarya, yaitu Mahakarya Candi Prambanan dan Mahakarya Musik. Sejak hari pertama, seluruh audience langsung disapa dengan konsep '90's Moment.' Andre Hehanusa, Katon Bagaskara, T-Five, Base Jam, Emerald, Lingua, Ada Band, The Groove, Ipang, Shakey dan rif/ dipastikan bakal hadir di sesi hari pertama.

Sejumlah artis top tadi masih dilapisi deretan artis-artis terbaik dalam negeri lainnya. Nama-nama top seperti Kahitna, KLA Project, Glenn Fredly, Tompi, Yovie Nuno, Syaharani, Sandy Sondoro, Saxx in the City, Yura Yunita, Afgan, Shaggy Dog, Marcell, Rio Febrian, Kunto Aji, Payung Teduh, dan masih banyak lagi.

Belum lagi atraksi mumpuni dari artis mancanegara. Tahun ini, festivalnya akan menampilkan penyanyi kelas Grammy Award sekelas Sarah Brightman. Sarah tercatat juga telah meraih 200 penghargaan platinum dan emas di lebih 40 negara di dunia. Pelantun lagu "Time to Say Goodbye" ini akan tampil glory di Prambanan Jazz dengan iringan live orchestra.

“Banyak keseruan yang akan kami tampilkan. Selain suguhan musik dari artis papan atas, ada background Candi Prambanan yang bisa disaksikan. Dan lightingnya, kami set menyorot Candi Hindu tertinggi di dunia itu,” tutur CEO Rajawali Indonesia Communication, Anas Syahrul Alimi, Rabu (31/5).

Dan Anas menjanjikan tak cuma Sarah Brightman yang akan tampil. Saat ini proses negosiasi dengan para musisi internasional masih berlangsung. "Masih ada artis luar negeri yang akan kita announce dalam beberapa waktu mendatang, karena kami masih dalam proses negosiasi," tambahnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengapresiasi gelaran Prambanan Jazz. Kata Esthy, acara tersebut sangat bagus karena bisa memanjakan wisatawan di sekitar destinasi wisata prioritas Borobudur atau Joglosemar.

“Ini juga sudah menjadi kalender tahunan, dan juga banyak pengemarnya dari luar negri terutama negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Ini harus dipromosikan dengan baik,” ujar Esthy.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengacungkan jempol untuk event Jazz ini. Venue di pelataran Candi Prambanan yang biasa digunakan untuk pentas sendra tari Ramayana di tiap terang bulan itu sendiri sudah menjadi atraksi tersendiri.

Wisatawan pasti terpikat oleh suasana pertunjukan, yang berlatar belakang Candi Prambanan di tepian sungai Opak itu. Ketika Candi Hindu tertinggi dan terbesar dunia itu disorot lampu dari bawah. “Keindahan Candi Prambanan itu sangat terasa di lokasi pementasan ini,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Menurutnya, Indonesia memiliki dua keuntungan menjadi tuan rumah perhelatan ini. Pertama, dampak langsung, menarik wisatawan baik nusantara maupun mancanegara hadir di Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko dan sekitarnya.

Kedua, dampak tidak langsung, yaitu memberikan nilai berita lebih bagi media memberitakan musisi-musisi jazz dunia tampil di Indonesia.  “Selamat menyaksikan jazz di tengah suasana candi yang heritage khas Wonderful Indonesia. Media value-nya sangat besar, karena ketika bintang jazz itu tampil selalu dipantau oleh followers dan subscribers-nya,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Selain itu, agenda musik itu mirip dengan sport tourism. Sama-sama man made, yang menurut Menpar membuat para wisatawan bisa berulang-ulang mengunjungi Indonesia. “Media value lebih besar. Selain itu, repeat visitors bisa 60 persen datang lagi, bagi mereka yang sudah tiba di Indonesia. Dalam waktu kurang dari setahun, mereka datang lagi,” kata Arief Yahya. (*)