KOLOM Editor : Agung Purwandono Rabu, 31 Mei 2017 / 03:50 WIB

Ramadan Menjaga Marwah Manusia

KITA sangat manyadari bahwa manusia itu diciptakan Allah SWT dalam bentuk paling sempurna, kemudian akan ditempatkan pada tempat yang serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah daripada binatang, kecuali kita beriman dan beramal sholeh.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di hari akhir nanti, namun pada saat ini fenomena-fenomena itu sudah bisa kita lihat dan amati, sebagaimana sejumlah orang yang terbukti secara sah melakukan pelanggaran korupsi, pencuri, pembunuh, pemerkosaan dan sebagainya, memperoleh sanksi hukuman.

Rabu ini kita memasuki hari kelima Ramadan 1438 H. Kita semua sangat berharap Ramadan tahun ini yang banyak potensi keutamaannya dapat kita manfaatkan untuk menjaga marwah kita.  

Pertama, Ramadan kesempatan terbaik bagi kita untuk meminta maaf dan memohon ampun serta menghindari perbuatan maksiat dan dosa kepada Allah swt, sehingga kita mampu menuju kehidupan yang fitrah, man shooma ramadloona iimaanan wahtisaaban ghufiro lahu maa taqaddama min dzanbih (HR Bukhori dan Muslim).

Demikian juga dengan pengendalian diri semakin banyak amal sholeh dan semakin berkurang bahkan tiadanya amal mafsadah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan intens melakukan perbuatan ini, yang termasuk melakukan baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah, insya Allah kita semakin bersih dan kehidupan kita semakin tenang karena selalu dzikrullah. Semoga kehidupan kita semakin diridloi Allah SWT dan terjaga hati, perkataan dan tindakan kita.  

Kedua, Ramadan adalah kesempatan yang terbaik untuk mengasah otak dan pikiran kita. Karena Ramadan memiliki spirit membaca dan menuntut ilmu, serta melakukan riset dan inovasi (QS Al-Khalaq, 1-5). Membaca, memahami dan mengimplementasikan ayat-ayat qauliyah saja, baik itu ayat-ayat Alquran maupun matan hadits, sudah memperoleh kebaikan yang sangat besar, terlebih-lebih disempurnakan dengan membaca ayat-ayat kauniyah yang tergelar di jagad raya ini.


Dengan berusaha menguasai ayat-ayat qauliyah dan membaca ayat-ayat kauniyah secara intens, kita bisa terhindar dari sikap-sikap taqlid, dan memiliki kemampuan untuk berijtihad, baik secara sendiri-sendiri maupun kolektif, dalam memberikan solusi terhadap persoalan yang muncul.

Ketiga, Ramadan merupakan momen, sekaligus sebagai amalan yang mampu menghadirkan hidup sehat, baik jasmaniyah maupun ruhaniyah. Rasulullah SAW bersabda, shuumuu fashihuu, yang artinya berpuasalah maka kamu sehat. Puasa memiliki manfaat untuk kesehatan baik bersifat kuratif maupun preventif.

Secara fisiologis, puasa dapat mengistirahatkan organ-organ tubuh dari pekerjaannya, sehingga kembali baik seperti semula, yang akhirnya mampu meningkatkan derajat kesehatan kita. Secara psikologis dan ruhaniah, puasa mampu mengendalikan emosi, marah, berbohong dan takabbur, sehingga kita menjadi lebih banyak menunjukkan perilaku sabar, pemaaf, jujur, dan tawadlu.

Keempat, Ramadan merupakan kesempatan yang baik untuk membersihkan harta kita, dengan zakat, sodaqah dan infaq. Allah SWT berfirman dalam QS Al Imran:133-134, ..."U'iddat lil muttaqiina, alladziina yunfiquuna fissarraa-i wadzdzarraai wal kaadhimiinal ghaidza wal-'aafiinan naasi' wallaahu yuhibbul muhsiniina".

Sebagai orang bertaqwa kita sangat dianjurkan, bahkan dalam batas tertentu diwajibkan, untuk berinfaq baik dalam keadaan longgar maupun sempit. Harta yang bersih berdampak terhadap kehidupan kita sendiri dan keluarga kita, karena semua harta yang dikonsumsi dan dimanfaatkan relatif terjaga dan terjamin kehalalannya. Bahkan lebih jauh dari itu diharapkan sekali, bahwa harta yang ada dapat diarahkan penggunaannya untuk kehidupan yang lebih baik, baik untuk diri sendiri, kesejahtaraan umat maupun bangsa, bukan untuk dihambur-hamburkan yang mendatangkan banyak madzarat.

Ramadan memberikan jaminan bagi kaum mustahiq, baik itu yataama, masaakin, maupun fuqaraa memperoleh haknya, sehingga kebutuhan kehidupannya terpenuhi. Kondisi ini sangat dibutuhkan kemampuan memanaj haknya secara lebih produktif, sehingga mashlahat untuk kehidupannya.

Kelima, Ramadan sebagai kesempatan untuk mengukuhkan ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah basyariyyah. Ramadan memiliki spirit untuk empati dan respek kepada orang lain, sehingga terhindar dari sikap abai terhadap penderitaan orang lain. Ramadan sangat menghargai pentingnya salat berjamaah, yang mampu melahirkan spirit berislah dan bersaudara serta menghindari pertikaian dan konflik di antara kita. Allah swt berfirman, yaitu Wa'tashimuu bi hablillahi jamii'an wala tafarraquu (QS Al-Imran:103). Kita sangat dianjurkan untuk mengutamakan persatuan dan persudaraan, sebaliknya harus menghindari konflik. Jika terjadi perbedaan dan berpotensi terjadinya konflik, kita harus merupaya mendamaikannya.

Ramadan memiliki potensi dapat menjaga marwah manusia, jika manusia itu dapat menyikapi secara bertanggungjawab dan ikhlas dengan selalu mengharapkan ridlo Allah SWT. Namun jika manusia itu bersikap apatis dan tidak peduli terhadap keutamaan Ramadan, bahkan tidak mau lagi mengambil manfaat secara optimal sebagaimana yang diuraikan di atas, maka boleh jadi Ramadan tidak berarti apa-apa, bahkan dalam batas tertentu dapat menambah beban berat saja bagi individu yang melaksanakan puasa, karena hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Kita selalu berdo'a, semoga setiap shaa-imin dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang benar serta niat yang ikhlas dapat melaksanakan puasa Ramadan dengan baik sesuai dengan tuntunan, sehingga mereka dapat menjadi hamba Allah swt yang terjaga marwahnya. Aamiin...