KOLOM Editor : Agung Purwandono Selasa, 30 Mei 2017 / 21:58 WIB

Mewujudkan Islam Kaaffah dengan Bermu'amalah

SEBAGAI seorang muslim, diwajibkan untuk melaksanaan ajaran Islam secara kaaffah, karena merupakan perintah Allah yang tertuang dalam Alquran surat al Baqarah 208: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian". Arti kata kaaffah dapat kita maknai "secara keseluruhan, totalitas, sempurna".

Agama Islam adalah agama yang ajarannya sudah sempurna untuk kehidupan umat manusia ketika masih hidup di dunia fana dan untuk memperoleh kemuliaan di akhirat kelak. Ada empat aspek ajaran Islam, meliputi aqidah atau keimanan, ibadah, akhlak atau budi pekerti dan mu'amalah duniawiyat. Dari empat aspek inilah kita harus melaksanakan secara kaaffah agar dapat meraih kemenangan semasa hidup di dunia ini dan akhirat kelak.

Dalam bermu'amalah umat Islam berlaku hukum semua boleh dilakukan kecuali yang ada larangannya. Doa yang banyak diucapkan umat Islam adalah kemuliaan di dunia dan kemuliaan di akhirat. Hal ini juga perintah Allah seperti yang tercantum dalam Alquran surat al-Qashash ayat 77 "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".

Dari segi bahasa, "mu'amalah" berasal dari kata 'aamala, yu'amilu, mu'amalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain,  hubungan kepentingan. Muamalat adalah kata kerja aktif yang harus mempunyai dua pelaku, yang satu terhadap yang lain saling melakukan pekerjaan secara aktif.

Bidang-bidang mu'amalat meliputi politik, sosial, ekonomi dan hal-hal yang berkaitan hubungan antarmanusia satu dengan yang lainnya. Kita ketahui bersama bahwa khusus mu'amalat bidang ekonomi, umat Islam di Indonesia sangat lemah dan tertinggal jauh dengan umat lainnya.  

Dalam Kongres Ekonomi Umat (KEU) pada 22-24 April 2014 yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia dipaparkan, saat ini ada empat konglomerat Indonesia yang memiliki aset setara 100 juta orang Indonesia, 10 % populasi  menguasai 77% kekayaan nasional.

Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, hal yang lebih membahayakan adalah ada perbedaan agama dan ras antara yang kaya dan yang miskin. Mayoritas orang kaya adalah keturunan Cina dan Khonghuchu yang beragama Kristen, sedang mayoritas yang miskin adalah keterunan Melayu dan beragama Islam. Jika kita sebagai umat Islam melakukan otokritik hal di atas, bisa terjadi karena salah satu penyebabnya adalah dalam pemahaman berislam secara kaaffah kurang benar.

Dalam Alquran banyak sekali yang memerintahkan untuk melaksanakan mu'amalah duniawiyat seperti yang tercantum dalam surat Jumu'ah ayat 10 "Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung".


Program aksi yang perlu terus digalakkan bagi umat Islam adalah; berdakwah secara proporsional aspek aqidah, ibadah, akhlak dan mu'amalah untuk memahamkan kepada umat bahwa bermu'amalah khususnya bidang ekonomi adalah bagian dari upaya meraih Islam kaaffah. Mengembangkan gerakan ekonomi berjamaah sama dengan gerakan salat berjamaah.

Agar dapat meraih kemenangan dalam kompetisi global hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah; penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatkan kompetensi diri, membangun kepercayaan diri dan dilandasi kepercayaan atas pertolongan Allah. (*)