KOLOM Editor : Agung Purwandono Selasa, 30 Mei 2017 / 06:29 WIB

Inventora : Kisah Tim Garuda UNY dan Sinden Desti Pratiwi

INVENTORA, program yang tayang di  Jogja TV, selalu membuat saya semangat karena jadi nambah wawasan baru. Memandu acara ini ibaratnya membuka jendela-jendela yang menjadikan kita tahu peristiwa di luar rumah, dan sekaligus membuat rumah kita jadi lebih terang. Inventora yang tayang tiap Senin pukul 18.00-18.30 ini didukung oleh Waroeng “SS” Indonesia. dan sudah memasuki episode ke-9.

Baca Juga : Program Inventora Episode 1-8

Kali ini saya berkesempatan mencoba mobil listrik rancangan Tim Garuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ha..ha..bukan mencoba mengendarai sih, apalagi ngebut dengan mobil itu, tapi sekadar mencicipi duduk di dalamnya. Cukup sempit memang, tapi entah mengapa saya kok bangga ya duduk di mobil buatan tim yang penuh prestasi ini. 

Maka saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang wakil Tim Garuda UNY ini sambil menyaksikan salah satunya menunjukkan kepiawaian mengendarainya.

Setelah itu saya berganti suasana dengan ketemu Desti Pertiwi, seorang sinden yang saat nembang suaranya sangat menentramkan hati. Ia adalah mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) yang telah memperkenalkan cara menyanyikan tembang-tembang Jawa ini ke beberapa negara.

Tim Garuda UNY

Saya bertemu dan ngobrol dengan Ketua Tim Garuda UNY yaitu Teguh Arifin, yang didampingi Suratijo selaku Ketua Delegasi untuk International Student Car Competition 2017. Beberapa anggota tim lainnya saya lihat sedang mempersiapkan satu mobil dan akan segera dicoba di depan kantor Rektorat UNY.

“Mobil terbaru ini adalah mobil hybrid. Sebelumnya memang kami kembangkan mobil listrik sejak tahun 2009. Kami pernah mendapatkan penghargaan “Best Creative Technology” tahun 2013 dalam kompetisi internasional di Korea Selatan,” kata Teguh.

Nama “Garuda” dipilih karena ingin membawa nama Indonesia, membawa semangat dan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Maka Tim yang terdiri dari 84 mahasiswa dari berbagai jurusan ini tak hentinya saling menyemangati karena mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang dipersiapkan untuk mengikuti berbagai kejuaran nasional maupun internasional.

Tahun 2014 mereka mulai mengembangkan mobil hybrid, yaitu dengan penggerak roda- depan menggunakan listrik, dan penggerak roda-belakang menggunakan engine. “Electric Control Unit sudah diprogram sedemikian rupa sehingga bila bagian depan mencapai peak power maka bagian belakang akan mengikuti. Ini yang membuat saat akselerasi atau gas diinjak maka powernya akan lebih maksimal. Dan itulah yang membedakan dengan tim dari negara-negara lain, “ujar Suratijo.

“Kami targetkan untuk mendapatkan gelar “Best Creative Technology” di Korea bulan Mei ini”. Tim Garuda UNY nantinya akan bersaing dengan tim tangguh lainnya dari berbagai negara seperti China, Filipina, Korea Selatan dan Mongolia.

Tentu Tim Garuda UNY berharap dapat mengulang kesuksesan di Korea Selatan tahun 2015 saat mendapatkan juara I untuk akselerasi, juara 2 untuk ketahanan/endurance, dan juara 2 untuk manuver, yang mengantar mereka menjadi Juara Umum.

Baca Juga : Sisihkan 17 Tim, Garuda UNY Raih 'Best of the Best ISCC 2017' di Korea

Saya menyaksikan latihan Tim Garuda UNY siang itu yang sedang menguji-coba akselerasi dan manuver. Memang yang dikompetisikan nantinya adalah akselerasi (sepanjang 150m), manuver (lintasan zig-zag), dan endurance (15 lap sepanjang 22 km).

“Ke depannya kami ingin terus berkarya mengembangkan kemampuan masing-masing, sehingga ini jadi embrio untuk mengembangkan mobil hybrid di Indonesia,” kata Teguh menutup obrolan kami siang itu.

Hmmm..kalimat itu saya suka, karena menunjukkan bahwa mereka tidak sombong dengan pencapaian yang diraih, melainkan merasa masih harus terus mengembangkan diri, dan mereka punya cita-cita besar untuk berpartisipasi dalam kemajuan bangsa ini.

Desti Pertiwi

Membawa nama Indonesia ke berbagai negara juga dilakukan oleh seorang gadis manis yang membuat suasana panas siang itu jadi lebih adem. Suaranya merdu menyanyikan sebuah tembang Jawa yang rasanya menyejukkan hati.

Menekuni profesi sebagai Sinden sebetulnya bukan cita-cita awal Desti. Ia bahkan merasa betul-betul belajar dari nol saat masuk
sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Tetapi makin lama ia merasa makin menikmati dan jatuh cinta pada tembang-tembang Jawa. Dan kemudian melanjutkan studi ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Saya dulu ‘anak band’ yang nggak tertarik dengan tembang-tembang Jawa. Tetapi orang tua sedikit memaksa saya masuk SMKI. Paksaan itu saya syukuri sekarang karena saya sangat menikmati menjadi sinden, yang nyatanya justru bisa membuat saya makin cinta Indonesia apalagi saat saya pentas atau mengajar di berbagai negara.”

Desti pernah pentas di Taiwan dalam rangka Festival Seni se-Asia Selatan yang antara lain diikuti delegasi dari Vietnam, Thailand dll. Ia juga pernah ditugaskan sebagai salah satu anggota tim hibah seni yang berangkat ke Hawaii dan Los Angeles, Amerika Serikat tahun 2014 lalu. Selama 1 bulan, ia mengajar para peserta workshop dan melakukan pentas-bersama dengan para mahasiswa di sana.

“Di University of Hawaii ada seperangkat gamelan yang dimainkan oleh para mahasiswa dan pecinta karawitan. Saya sebetulnya merasa senang sekaligus prihatin lho, mengingat kok di negeri sendiri minat belajar karawitan itu malah kurang. Maka saya bertekad lebih sering dan lebih banyak menyosialisasikan keindahan musik Jawa ini kepada anak-anak muda supaya kelak kita nggak harus belajar karawitan atau nyinden di luar negeri,” ujar Desti berapi-api.

Saya merasakan semangat positif ini. Semoga makin banyak Desti-Desti lain yang berjuang melalui talenta masing-masing, dan keberagaman itu untuk satu tujuan, yaitu kejayaan bangsa ini.
Ayooo...bikin bangga Indonesia!!
***