KOLOM Editor : Agung Purwandono Selasa, 02 Mei 2017 / 06:58 WIB

Inventora : Pelajar SMAN 9 Yogya Rancang 3D Scanner Camera

EPISODE ke-6 ini Inventora masih menemui para siswa yang dibina oleh Disdikpora (Dinas Pendidikan dan Olahraga) DIY untuk menciptakan berbagai hal baru dan mengembangkannya. Perbincangan tersebut ditayangkan di Jogja TV, Senin lalu dengan dukungan Waroeng “SS” Indonesia.

Saya bertemu dengan Adityo Priyandito yang menciptakan peralatan yang dinamai 3D Scanner Camera. Alat yang dia ciptakan untuk mendokumentasikan relief supaya didapatkan gambar tiga dimensi yang lebih detil dari setiap relief yang ada.

Setelah itu saya menemui 3 anak muda yang menjadi bagian dari Duta Museum Jogja. Mereka adalah Andhita Rizkya (Duta Museum 2014), Kuncoro Sejati,B.Eng,MBA (Duta Museum 2016), dan Nusieta Ayu Primadian (Duta Museum 2015). Kecintaan mereka pada sejarah dan masa depan bangsa ini membulatkan tekad untuk menyosialisasikan museum kepada masyarakat khususnya anak muda seluas mungkin.

3D Scanner Camera

Adit, siswa SMAN 9 Yogyakarta ini sangat antusias menjelaskan rancangannya. Saya memperhatikan alat ini berupa semacam piringan kayu dengan tempelan komponen-komponen di atasnya yang kemudian dihubungkan atau dipasang pada kamera biasa.

“Alat ini lebih diutamakan untuk dipasang pada kamera DSLR, tapi kamera lainnya pun dapat digunakan. Komponen yang saya pasang adalah mounting camera, 6 switch on off lampu LED dengan baterei litium. Baterei bisa digunakan hingga 3-4 jam pemakaian di lapangan. Digunakan seperti kamera biasa, kemudian diambil 6 gambar yang masing-masing gambar diambil dengan 6 sumber cahaya yang ada dalam piringan berupa LED, kemudian dikomputasikan menggunakan software menjadi model 3D,” jelas Adit.

Dengan menggunakan alat ini Adit dapat menangkap atau mendokumentasikan objek seperti relief candi dengan detil dan setelah dikomputasikan akan menghasilkan foto tiga dimensi yang menarik.

“Foto-foto relief candi 3 dimensi pasti akan sangat “hidup” untuk ditampilkan dalam pendokumentasian candi-candi yang kita miliki. Sehingga objek foto tidak monoton. Alat ini bisa juga digunakan untuk memotret objek yang lain selain relief. Tapi baru saya gunakan di Candi Prambanan dan Candi Kalasan,” tambahnya.

Adit merasa tertarik dengan sejarah terutama pembangunan candi karena ayahnya dulu sering mengajak jalan-jalan mengunjungi berbagai candi dan menceritakan legenda atau cerita-cerita tentang pembangunan candi tsb. Dan dia punya ketertarikan juga di bidang komputer programming sehingga bisa memadukan kedua minatnya tersebut menjadi karya yang bermanfaat.

“Saya masih terus menyempurnakan alat ini. Pengembangan selanjutnya saya akan arahkan ke open source sehingga bisa di-download gratis oleh masyarakat,” tutup Adit.

Menarik ya berbincang dengan anak muda yang tidak hanya melek teknologi tapi juga tidak melupakan sejarah. Seperti juga tiga anak muda yang saya temui berikutnya, para Duta Museum Jogja.

Duta Museum DIY

Andhita, Kuncoro, dan Nusi mengajak saya berkeliling di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Selain menyaksikan berbagai koleksi yang dipamerkan, mereka juga dengan penuh antusias menceritakan ketertarikan pada museum yang mungkin langka didapati pada anak muda kita.

 “Tahun 2014 adalah awal pertama kali diselenggarakan Duta Museum sebagai gebrakan baru dari Dinas Kebudayaan DIY. Karena belum terlalu tahu tentang museum saya malah tertarik banget kenapa ini dikompetisikan. Setelah jadi Duta Museum 2014, saya menjadi makin cinta museum..dulu cintanya 30% sekarang jadi 100%,” ujar Andhita yang disambut cerita yang nyaris sama oleh Kuncoro dan Nusi.

Kuncoro menambahkan bahwa sejak kecil sudah cinta dengan museum, tapi baru menyadari bahwa ada 45 museum di DIY yang merupakan terbanyak ke-2 di Indonesia.

“Menariknya, ada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan di museum. Misalnya di Museum Tani kita bisa ikut membajak sawah dengan peralatan petani yang sudah turun temurun dipakai oleh para petani kita yang selama ini menjaga ketahanan pangan kita. Atau menggambar bersama di Museum Tino Sidin. Menarik kan?” ujarnya.

Nusi berharap dapat menyosialisasikan lebih luas lagi tentang keberadaan museum ini khususnya kepada anak muda.

“Kami menggunakan sosial media dan menggandeng media massa untuk lebih banyak menampilkan museum yang sangat beragam ini. Masing-masing museum memiliki kekhasan dan keeksotisan. Selain itu kami juga adakan berbagai program, seperti Mlampah-mlampah ing Museum yang dikembangkan sejak 2014, pameran, lomba menggambar dan mewarnai dll,” cerita Nusi dengan penuh semangat.

Harapan Andhita, Kuncoro, dan Nusi, selain bergembira bersama di Museum, pengunjung juga lebih peduli dengan larangan yang ada seperti tidak menyentuh koleksi Museum dll, sehingga terjagalah dengan baik warisan ini dari pendahulu untuk generasi selanjutnya.

Wow...saya senang sekali dengan semangat ini. Banyak objek wisata yang sudah kita kunjungi, mari kunjungi juga museum yang begitu banyak dan beragam di negeri ini. Supaya kita dapat menghargai masa lalu yang membentuk kita sekarang dan belajar untuk menjalani masa depan yang lebih baik.

Ayooo...bikin bangga Indonesia !!