KOLOM Editor : Agung Purwandono Senin, 29 Mei 2017 / 08:00 WIB

Puasa dan Pembangunan Visi Muslim

SETIAP tahun pada bulan Ramadan umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Puasa Ramadan merupakan kesempatan atau jalan yang diberikan oleh Allah SWT bagi manusia untuk meningkatkan derajat kemanusiaannya, yakni menjadi orang yang bertaqwa atau muttaqin. Dengan predikat muttaqin itu manusia ditempatkan dalam posisi paling mulia di sisi Allah SWT.

Mereka juga dimasukkan ke dalam golongan orang yang beruntung (Q.S. Al-Baqarah: 189) dan bahkan dijanjikan akan memperoleh surgaNya. Itu semua bisa dicapai manakala kita mampu menjalankan perintah dan meninggalkan laranganNya, tidak terkecuali berpuasa Ramadan sesuai dengan tuntunan. Dengan demikian begitu besar makna ibadah puasa Ramadan bagi kehidupan manusia, baik di dunia ini maupun di akherat nanti.

Meskipun begitu tidak banyak umat Islam yang benar-benar ikhlas dalam menunaikan ibadah ini. Masih banyak di antara kita yang dalam menjalankan ibadah puasa belum mampu menahan diri dari berbagai kecenderungan dalam berfikir, bertutur kata, bertindak dan berperilaku yang tidak baik. Hal ini disebabkan makna muttaqin Itu belum sepenuhnya disadari, dipahami, dan dihayati.

Padahal sifat iman dan taqwa itu sangat fluktuatif, kadang-kadang kuat tapi kadang-kadang lemah. Ketika imannya kuat dia mampu menahan diri dari berbagai godaan hidup dan selamatlah dirinya, tetapi ketika lemah bahkan hilang imannya ia tidak bisa berfikir tentang halal-haram dan dosa, na’udzubillahi mindzalik.

Apalagi dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan dan godaan yang cenderung mengarah pada pelemahan iman muslim yang ingin menempuh jalan lurus. Oleh karena itulah maka “menjadi orang muttaqin” itu perlu dijadikan impian atau visi seorang muslim, yang terus menerus diingat-ingat, dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan menjalankan misi hidup muslim, target dan strategi mencapainya.

Baca Juga Hikmah Ramadan  sebelumnya :

Prof Dr H Mochammad Maksum Machfoedz: Eee... Ketemu Lagi
Dr H Haedar Nashir MSi : Puasa Mencerahkan Perilaku

Visi muslim tersebut sudah sesuai dengan kehendak Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah: 21 dan 183). Lalu apa misi hidup seorang muslim? Sebagai manusia kita ini tidak diciptakan oleh Allah SWT. kecuali hanya untuk beribadah kepada Nya - Wama khlolaqtul jinna wal insa illaliya’budun. Oleh karena itu, maka misi seorang muslim dalam hidup ini tentunya untuk menjalankan ibadah, mengabdi kepada Allah SWT. Tentu ibadah dalam hal ini punya pengertian yang luas, bukan hanya ibadah khusus tetapi juga yang bersifat umum, yakni semua perbuatan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Agar semua ibadah itu memiliki dampak positif yang jelas dalam kehidupan, maka perlu ditentukan target dan startegi beribadah yang lebih konkrit. Inti dari target dalam kehidupan muslim adalah berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain atau lingkungannya (Khoirunnas anfa’uhum linnas).

Untuk mewujudkan target ini Allah SWT telah menjadikan manusia itu dalam keadaan yang paling sempurna (Q.S. At-Tiin: 4), terutama dengan dikaruniakannya nafsu dan akal fikiran. Dengan akal dan nafsunya itu manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat penting perannya dalam mendukung terlaksananya tugas-tugas sebagai kholifah fil ardzi – wakil Tuhan di muka bumi,  untuk mengelola, memanfaatkan dan melestarikan bumi dan bukan untuk membuat kerusakan di dalamnya.

Dengan kata lain, manakala setiap muslim telah mampu memanfaatkan seluruh potensi dirinya untuk membangun berbagai amal kebajikan, maka hal ini telah mencerminkan adanya tanda-tanda predikat muttaqin dalam pribadinya. Semoga! (*)