Dr H Haedar Nashir MSi

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah

Bergabung sejak :  

Sabtu, 27 Mei 2017


Puasa Mencerahkan Perilaku

Salat Taraweh di Masjid Gede Kauman (Yudho Priambodo)

HARI ini umat Islam memulai berpuasa Ramadan. Puasa bagi setiap muslim merupakan "riyadhah sanawiyah", yakni proses olah-ruhani tahunan yang bersifat transformatif untuk pendidikan mengubah perilaku secara fundamental. Orang berpuasa terlatih dirinya menjadi insan dewasa yang kuat ruhaninya sekaligus tercerahkan perilakunya.

Setiap muslim yang berpuasa mendidik diri agar mampu menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis sejak terbit matahari sampai maghrib tiba. Artinya, setiap hari selama sebulan, jiwa dan tubuhnya digembleng untuk menjadi manusia tahan banting dari tiga nafsu inderawi sehingga menjelma menjadi insan yang bertaqwa.

 

Tujuan puasa memang membentuk insan bertaqwa sebagaimana firman Allah dalam Alquran, yang artinya sebagai berikut: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa" (QS Al-Baqarah: 183).

Makna pertama dari "la'allakum tattaqun" dikaitkan langsung dengan fungsi puasa. Bahwa setiap muslim harus "berhati-hati, waspada, dan menahan diri" dari makan, minum, dan pemenuhan hasrat biologis agar tidak berlebihan. Secara filosofis agar setiap Muslim mampu mengendalikan diri terhadap segala pesona dunia, serta menjadikan dunia sebagai jalan lurus menuju akhirat.

Makna yang kedua ialah puasa "membentuk diri insan bertaqwa" sebagaimana pandangan banyak mufasir. Bahwa selama sebulan lamanya dan sesudahnya mereka yang berpuasa terus menggembleng diri sehingga menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa, yakni sosok insan beriman dan beramal kebajikan serbautama (QS Al-Baqarah: 177).

Orang-orang bertaqwa itu memiliki habluminallah dan habluminannas yang intens dan harmoni. Mereka berjiwa bersih, jujur dan amanah, cerdas dan maju, serta bertindak serba positif yang membawa kemaslahatan hidup bagi diri dan lingkungannya. Mereka adalah sosok pemakmur dan bukan perusak bumi.

Orang bertaqwa memiliki perisai diri yang kokoh. Mereka tidak akan korupsi,  jahat, menyimpang, dan berbuat kemunkaran meskipun ada peluang yang leluasa.  Manakala menjadi pemimpin dan elite negeri, mereka jujur dan amanah, serta berkomitmen kuat untuk menyejahterakan rakyat dan membangun negara menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Jika puasa diproyeksikan untuk membentuk perangai serbautama seperti itu, maka akan menjadi mi'raj ruhaniah; yakni proses naik tangga spiritual ke puncak tertinggi selaku insan muttaqin menuju terwujudnya keadaban utama dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan universal.

Karenanya puasa harus dijadikan jalan spiritual mengubah perilaku menjadi insan tercerahkan. Mereka yang lulus puasanya mampu menahan diri sekaligus mengambil jarak dari pengaruh nafsu duniawi agar tidak dikuasai dunia tetapi menguasai dunia. Dunia itu penting tetapi harus dibingkai nilai-nilai dasar Islam yang utama sehingga memberi makna dan fungsi yang mulia.

Puasa harus berhasil menjadikan diri sebagai insan yang mengambil jarak dari dunia, tidak menjadi budak dunia. Dunia sebagaimana disimbolkan dalam nafsu makan, minum, dan kebutuhan biologis harus disikapi dengan nilai utama dan bermakna. Dunia menjadi sarana menuju hidup akhirat yang bahagia dan selamat. Dunia menjadi tempat mengolah kehidupan yang bermakna. Itulah alam pikiran yang mencerahkan.

Kita dibolehkan makan, minum, dan pemenuhan kebutuhan biologis sebagaimana mestinya. Kendati dihalalkan, seyogyanya pemenuhan hasrat alamiah itu dilakukan secara baik dan tidak berlebihan. Sebab apalah artinya berpuasa manakala tidak melahirkan perubahan perilaku yang terkendali sebagaimana firman-Nya: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (QS Al-A'raf: 31).

Maka, jadikan puasa bulan Ramadan sebagai transformasi menuju perilaku utama yang tercerahkan. Jangan sampai puasa sekadar rutinitas ibadah belaka tanpa perubahan perilaku menuju keutamaan. Nabi bahkan memberi peringatan, yang artinya: "Banyak orang yang berpuasa, tiada hasil puasanya kecuali lapar dan dahaga" (HR Nasai, Ibn Majah, dan Hakim). Semoga kita insan muslim yang berpuasa dijauhkan dari puasa verbal tanpa makna seperti itu.(*)



Tulis Komentar Anda