KOLOM Editor : Agung Purwandono Minggu, 28 Mei 2017 / 21:49 WIB

Eee... Ketemu Lagi

AL-HAMDULILLAH, doa itu telah dijawab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam bentuk dipertemukannya kembali kaum Muslimin dengan Bulan Ramadan 1438 Hijriyah. Itulah pertanda bahwa berkah, kesempatan beribadah dan pengampunan, yang semuanya teramat istimewa, telah digelar dan dibuka seluasnya di bulan yang dirindukan, dan diperuntukkan bagi ummat Islam pada khususnya, dan umat manusia seluruhnya.

Kesyukuran, kegembiraan dan kerinduan seorang Muslim atas dipertemukannya kembali dengan Ramadan tentu jauh lebih bermakna pengabdian dan ketulusan, dibanding dengan sekadar ucapan eee... ketemu lagi dalam acara 'reuni' SMA, UniRvesitas, atau reuni antaranggota komunitas, yang menjadi ajang kangen, pameran, sampai jadi lahan suburnya CLBK.

Disebut bahwa doa ketemu Ramadan itu telah terjawab karena doa untuk bertemu kembali dengan Ramadan adalah doa yang paling sering dipanjatkan oleh mereka yang berpuasa selepas bulan Ramadan tahun sebelumnya. Dalam acara Syawalan atau Halal Bihalal, sering terucap pula doa dari para sepuh, dan khususnya ketika sungkeman kepada para Kiai: A'adahuLLAHU 'alaina wa iyyakum bi as-sa'adah wa al-khair wa ar-rafahiyyah.

Secara bebas maksud dari doa di hari-hari terakhir Ramadan atau selepas Ramadan tersebut memang secara eksplisit memohon kepada Sang Khaliq untuk diberi kesempatan kembali bertemu Ramadan berikutnya dalam suasana kebahagiaan, kebaikan, dan kesejahteraan dalam ukuran Ilahiyyah.

Doa itulah pada hari ini telah memperoleh ijabah dari Allah SWT semata karena kehendakNya. Tentu dengan konsekuensi untuk memperoleh sambutan dengan semangat pengabdian, 'ubudiyyah, dan gairah Ramadan kaum Muslimin yang semestinya.  

Ramadan memang memiliki aneka atribut yang dirindukan kaum muslimin, yang bertitik kulminasi pada kalimat la'allakum tattaquun (QS:1-183): agar supaya kalian menjadi lebih bertakwa. Disebut kulminasi karena aneka hikmah dari ibadah Puasa Ramadan senantiasa menyertai perjalanan proses-proses sosial menuju tercapainya derajat tattaquun dimaksud, baik itu menyangkut hikmah-hikmah yang tersurat maupun aneka hikmah yang tersirat.

Telah tersurat dengan gamblang dalam harapan Allah yang teramat optimistik. Kalimat harapan yang eksplisit, la'alla, terbingkai dengan fi'il mudlari' sebagai future tense yang dalam bahasa Arab menunjukkan masa kini dan mendatang termaktub dalam ayat-ayat Ramadan dalam Surat Al-Baqarah, QS-1 ayat 183-187.

Janji dimaksud secara rinci menyebutkan bahwa dengan berpuasa diharapkan para Muslim akan: (i) menjadi lebih bertakwa, QS:1-183; (ii) sadar akan keilmuan, QS1-184; (iii) terbiasa bersyukur, QS:1-185; (iii) menghayati kebenaran, QS:1-186; dan (v) menegaskan ketakwaan, QS:1-187.

Aneka hikmah yang tersirat bisa dengan mudah dijabarkan dari lima butir esensial Puasa Ramadan dalam aneka dimensi spiritual dan sosial, yang terkait dengan kehidupan keseharian diri seorang Muslim, sebagai hamba Allah dengan ketakwaan paripurna, sebagai makhluk sosial dengan kapasitas sosial yang berahlak mulia, al-akhlaq al-karimah, dan sekaligus sebagai kepanjangan tangan Allah SWT dengan mandat menjadi khalifah di dunia yang menyebarkan Rahmatan li Al-alamien, rahmat bagi seluruh semesta, the bessing for the universe.

Melalui kehadiran Ramadan kali ini, dan penghayatan menyeluruh mereka yang berpuasa terhadap lima butir esensial Puasa Ramadan, niscaya lingkungan sekitar mereka, bumi Indonesia dan jagad raya pada umumnya akan semakin damai sejahtera melalui perwujudan rahmatan li al-alamien, peaceful coexistence yang semakin nyata, .... Insya Allah.... (*)