KOLOM Editor : Agung Purwandono Selasa, 23 Mei 2017 / 07:23 WIB

Inventora : Serbuk Pengusir Nyamuk dan Penghenti Kendaraan Buatan Siswa SMAN 3 Yogya

KEPEDULIAN pada sekitar, tidak mudah menyerah, dan terus mengeksplorasi apa yang sudah dilakukan atau dipelajari, itulah nilai-nilai yang dimiliki para narasumber yang saya wawancarai dalam acara Inventora episode 8, yang disiarkan Jogja TV  serta didukung oleh Waroeng “SS” Indonesia.

Saya datang ke SMAN 3 Yogyakarta, bertemu dengan Hakim Dwi Ananda (Hakim) dan Grinaldy Yafi Rasyad (Yafi), yang mengembangkan semacam alat yang ditujukan untuk mencegah pengendara menerobos lampu merah (lampu APILL).

Alat itu mereka namakan “Smart Stopper”. Saya juga ketemu dengan Holy Rhema Soegiantoro, yang menciptakan “Baimoslamp”, perpaduan antara pengusir nyamuk dan lampu-tidur.  

Bincang-bincang saya juga terasa makin menyenangkan saat saya bertemu dengan Sekar Sari, seorang pelaku seni yang menekuni seni tari dan seni peran, serta berbagai kegiatan seni lainnya.

Smart Stopper dan Baimslamp

Hakim dan Yafi menunjukkan semacam maket dari rancangan mereka ini. Nama rancangan ini sesuai dengan fungsinya, yaitu alat yang menghentikan kendaraan, khususnya saat lampu APILL menyala merah.

“Sering kami lihat pengendara, terutama anak muda yang menerobos lampu-merah. Bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain kan. Maka kami merancang suatu alat semacam lempengan besi di bawah yang otomatis terangkat miring ke atas saat lampu-merah menyala, sehingga dapat menghalangi pengendara yang ingin terus memacu kendaraan,” ujar Hakim.

Saat alat ini terangkat membentuk ramp, dengan lampu kuning berkedip pada lempengan besi tersebut, dan suara yang menunjukkan  “Smart Stopper” sedang bekerja. Dengan adanya ramp itu maka tidak mungkin pengendara dapat jalan terus atau menerobos. Inspirasi mereka dapatkan dari tayangan-tayangan film yang menunjukkan objek-objek penting seperti istana kepresidenan dilengkapi dengan ramp semacam itu untuk perlindungan.

“Kami sudah buat program contoh di komputer seperti ini,” tambah Yafi sambil menunjukkan cara kerja alat tersebut dalam visual di laptopnya. “Lampu kuning pada lempengan saat terangkat berguna untuk memberi peringatan lebih dulu sehingga pengendara nggak kaget dan bisa bersiap-siap untuk berhenti. Tujuan kami membuat alat ini adalah meningkatkan kedisiplinan pengendara dan supaya berhati-hati dalam berlalu lintas”

Saya kemudian beralih pada Holy dengan alat mungil dalam genggamannya. Ia menciptakan pengusir nyamuk berbahan herbal sekaligus lampu-tidur. “Di pasaran kan ada pengusir nyamuk elektrik ya, nah yang saya kembangkan adalah bahan pengusir nyamuk yang sangat alami, yaitu lempengan yang merupakan campuran serai, kulit jeruk nipis, dan kayu manis. Penggunaannya aman bagi pernafasan dan sekaligus dapat sebagai aromaterapi,” katanya.

Dalam proses pembuatannya, ketiga bahan itu dikeringkan, kemudian di-blender, lalu di-pres dengan kanji dan air. Setelah ditempatkan pada wadahnya yang juga berfungsi sebagai lampu-tidur tersebut, lempengan itu dapat dipakai sekitar 6-8 jam.

“Bahan ini sudah diuji di Laboratorium Parasitologi UGM, untuk melihat kemampuannya membunuh atau mengusir nyamuk. Ternyata bahan ini lebih efektif dalam mengusir dibandingkan membunuh," ujar Holi.

Maka Holi lebih fokus kepada pengembangan alat ini sebagai pengusir nyamuk alami yang sekaligus berfungsi sebagai lampu-tidur. Maka ia menamai ciptaannya ini “Baimoslamp” yang berarti “bye-bye mosquito lamp”. Inovasinya ini mendapat medali perunggu bidang sains dan teknologi dalam Olimpiade Penelitian Siswa (OPSI) 2016.

Sekar Sari

Sekar saya kenal sebagai pelaku seni atau seniman dalam berbagai aktivitas seni, seperti seni tari dan seni peran. Ia barusaja menyelesaikan studi S-2 di bidang Seni Tari yang dijalaninya di 4 negara Uni Eropa yaitu Norwegia, Prancis, Hungaria, dan Inggris.

“Saya mendapat beasiswa dari Uni Eropa untuk belajar di negara-negara yang dikenal unggul dalam Seni Tari. Bersama teman-teman dari berbagai negara, saya belajar banyak hal tentang keilmuan tari, sejak pengarsipannya, hingga berbagai hal menyangkut tari tradisional dan kontemporer,” cerita Sekar dengan mata berbinar.

Sekar Sari bersama Ninda Nindiani

Ya, Sekar begitu bersemangat bercerita bagaimana tarian itu tidak hanya dilihat dari gerakan-gerakannya saja, tapi selalu dapat dipelajari sebagai representasi kondisi sosial budaya masyarakat.

Selain sebagai penari, Sekar juga dikenal sebagai aktris dengan berbagai penghargaan. Film “Siti” yang dibintanginya telah mendapat banyak apresiasi, antara lain di Singapore Film Festival 2014, juga di Festival Film Indonesia 2015 sebagai Film Terbaik. Sekar pun diakui sebagai Aktris Terbaik dalam ajang Usmar Ismail Awards, dan Pendatang Baru Terbaik dalam Indonesia Movie Actors Awards 2016.

“Saya masih pengin terus bermain film karena masih merasa nyaman sekaligus penasaran,” ujar Sekar sambil tertawa.

”Penasaran karena pengin mengeksplor lagi kemampuan saya, apakah masih bisa berkembang lebih baik. Nyaman karena saya sebetulnya sempat nggak pe-de main film, nah kalau kemudian mendapatkan penghargaan, itu energi positif yang sangat besar dan membuat saya nyaman menekuni seni peran ini.”

Sekar menambahkan bahwa anak muda harus berani mencoba hal-hal baru yang positif. Kalau tidak mencoba, bagaimana kita tahu hasilnya?
Spirit yang sangat menginspirasi, Sekar!

Selalu ada hal-hal menyenangkan yang mencambuk semangat saya untuk bertemu dengan anak-muda hebat lainnya dalam Inventora berikutnya.  
Ayoooooo...bikin bangga Indonesia!!

Baca Juga :

Siswa Budi Mulia Dua Rancang Sikat Gigi untuk Difabel
Siswa SMAN 3 Ciptakan Filter Knalpot dan Penghilang Bau Sampah
Mahasiswa UGM Ciptakan 'Trolley Follower'