Karakter Kerja untuk Kemandirian Bangsa

CITA-CITA menjadi bangsa mandiri telah diikrarkan sejak zaman kemerdekaan, baik kemandirian secara ekonomi, politik, maupun pertahanan dan keamanan. Untuk mewujudkannya, Bangsa Indonesia harus memiliki daya saing, ketangguhan, dan karakter kerja yang kuat di tengah tantangan global yang semakin berat dan kompleks. Tanpa itu semua, Bangsa Indonesia hanya akan menjadi ‘sapi perah’globalisasi.

Karakter kerja yang kuat hakikatnya dimiliki Bangsa Indonesia sejak zaman dulu. Terbukti, dengan kerja keras segenap komponen bangsa, telah menghantarkan Indonesia merdeka dan berdaulat. Presiden Soekarno pernah membakar semangat para pemuda dengan pidatonya: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 Ω sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli...." Agar pesan pidato tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan historis semata, diperlukan pola pembinaan yang konsisten untuk memperkokoh karakter kerja bangsa Indonesia.

Saat ini, terdapat dua warning yang perlu kita perhatikan bersama. Pertama, indeks daya saing global Indonesia yang turun dari peringkat 37 di tahun 2015 menjadi 41 di tahun 2016, dari 138 negara. Kita berada di bawah 3 negara tetangga, yaitu Singapura (2), Malaysia (25), dan Thailand (34). Kedua, indeks pembangunan manusia Indonesia tahun 2015 berada pada peringkat 113 dan termasuk dalam kelompok medium human development. Lagi-lagi kita masih berada jauh di bawah Singapura (5-very high human development), atau Malaysia (59) dan Thailand (88) keduanya termasuk high human development.

Modal Dasar

Sesungguhnya, Indonesia memiliki dua modal dasar untuk menjadi bangsa mandiri, yaitu sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Salah satu sektor SDA, misalnya energi. Data Dewan Energi Nasional menyebutkan pada tahun 2015 cadangan minyak bumi nasional sebanyak 7,3 miliar barel; cadangan gas bumi 150,39 TSCF; dan sumber daya batu bara sampai dengan 2015 sebesar 127 miliar ton dengan cadangan 32,3 miliar ton. Indonesia juga memiliki potensi energi baru dan terbarukan yaitu potensi tenaga air, angin, surya, dan arus laut.

Dari sisi SDM, kajian BKKBN menyebutkan Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030, yakni ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja. Diperkirakan porsi penduduk usia produktif (usia kerja) antara 15-64 tahun mencapai 70% dari total populasi, sehingga beban tanggungannya sekitar 0,4-0,5. Artinya setiap 100 penduduk usia produktif akan menanggung 40-50 penduduk non-produktif.

Peran Pendidikan

Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental menjadi salah satu momentum awal yang dicanangkan Presiden Jokowi dalam rangka memperbaiki dan membangun karakter Bangsa Indonesia. Salah satu program dalam Inpres tersebut adalah Gerakan Indonesia Mandiri. Kita harus membulatkan tekad untuk menjadikannya sebagai gerakan bersama rakyat dan pemerintah. Harapannya, akan lahir manusia Indonesia yang mandiri dan memenangi persaingan global.

Sektor pendidikan sebagai pranata utama dalam pendidikan karakter memegang peranan sentral. Arah pendidikan karakter harus difokuskan untuk meningkatkan eksistensi Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberi kontribusi pada peradaban dunia. The Partnership for 21st Century Skills merumuskan 21st century student outcomes and support system, yakni karakteristik tenaga kerja yang diperlukan di era mendatang. Implikasinya, lulusan pendidikan harus memiliki life skills dan kemampuan belajar secara terus menerus.

Lulusan pendidikan harus memiliki karakter kerja inovatif, kreatif, komunikatif, kolaboratif, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Kemampuan digital literacy juga menjadi tuntutan pokok seiring perkembangan zaman. Jika karakter kerja tersebut dapat dipenuhi oleh sektor pendidikan, maka akan mempercepat cita-cita mewujudkan kemandirian bangsa. Momentum hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017, hari ini, hendaknya menjadi titik awal penguatan kembali karakter kerja bangsa yang unggul. Sehingga kemandirian bangsa yang sejati benar-benar dapat terwujud.

(Dr Widarto MPd. Dekan Fakultas Teknik UNY - Penanggung Jawab Kegiatan Dies Natalis ke-53 UNY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 20 Mei 2017)

Tulis Komentar Anda