Memperjuangkan Nama Indonesia

KITA boleh bertanya dari mana asal pergerakan nasional kita untuk mengusir penjajah, Mohammad Hatta menjawabnya sendiri: ”...pergerakan nasional itu tentu berasal dari kita sendiri.... tetapi pengaruh apakah yang masuk ke dalam pergerakan nasional itu... ” (Hatta, 1927).

Hatta mengajak kita semua kembali ke masa ”Matahari Terbit di Asia” yang waktu itu disebut ‘Renaissance Asia”, yang bermula dari kemenangan Jepang terhadap Rusia. Tatkala meriam-meriam Jepang di Tsushima berdentuman tahun 1905 memporak-porandakan dan mengalahkan tentara Rusia. Kita catat kata-kata puitis Hatta ”... Letusan meriam Jepang itu membangunkan kita, Hatta menyebutnya bahwa Matahari telah tinggi, memaksa penduduk Indonesia berkejar-kejaran dengan bangsa lain menuju kemerdekaan. ...benih yang ditebarkan oleh Gandhi di kiri-kanan Sungai Gangga, tidaklah saja tumbuh di sana, melainkan setengah daripadanya diterbangkan angin menuju khatulistiwa, disambut Bukit Barisan, ke seluruh Nusantara, tidak lama tumbuhlah benih itu... ”.

***

Semula orang berpendapat bahwa Bapak nama ‘Indonesia’ (Indonesie) ialah orang Jerman bernama Bastian pada tahun 1884 yang dirujuk dalam orasi guru besar Prof Wilken. Dari penemuan Kreemer (1927) nama ‘Indonesia” (Indonesie) dan ‘orang-orang Indonesia’ (Indonesiers) lebih tua dari yang dikemukakan oleh Wilken. Kreemer mengemukakan bahwa penamaan ‘Indonesia’ dipakai ilmuwan bangsabangsa dari Inggris JR Logan pada tahun 1850. Kreemer menyatakan JR Logan adalah Bapak dari nama Indonesie. Hatta juga mengungkap bahwa ada yang mendahului Logan, yaitu GW Earl, namun dengan istilah ‘Indu-nesians’.

Sementara Hatta menegaskan nama ‘Indonesia’ berasal dari Perhimpunan Indonesia sejak 1920-an. Pada tahun 1922 secara resmi nama ‘Indonesia” dipakai sebagai nama ketatanegaraan, berwajah perjuangan politik menggantikan nama Hindia-Belanda. Pada tahun 1922 inilah Indische Vereeniging (Perhimpunan Indisch) dirubah namanya menjadi Indonesische Vereeniging atau ‘Perhimpunan Indonesia’.

Terlepas dari itu saya temukan dokumen tanpa tanggal yang ditandatangani Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) di s’Gravenhage dengan kop surat ‘Indonesisch Persbureau” yang diperkirakan tanggalnya sebelum tahun 1922. Ki Hadjar kembali ke Indonesia tahun 1919. Tahun 1923 Dowes Dekker datang ke Nederland, ia berbicara dengan Hatta, ia menentang nama ‘Indonesia” yang dianggapnya nama primitif, Dowes Dekker lebih suka nama Indie. Hatta menolaknya.

Perhimpunan Indonesia gigih memperkenalkan nama Indonesia di fora internasional. Pada ‘Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial’di Brussel tahun 1927 yang terkenal itu, pengakuan nama ‘Indonesia’ mantap diperolehnya. Nama Indonesia bertambah kondang melalui berita pers di Negeri Belanda tatkala Hatta sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia ditangkap dan dipenjarakan di Den Haag, kemudian harus menghadapi pengadilan di Negeri Belanda. Hatta memenangkan perkara di pengadilan ini. Di pengadilan itulah Hatta yang berusia 25 tahun mengatakan: ”...lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain...”.

***

Kebangkitan Nasional dan perjuangannya oleh momentum besar setelah Perang Pasifik usai dengan kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Indonesia yang bhinneka, yang etnik-pluralistik sekaligus multi-kulturalistik, tertransformasi oleh Pancasila sebagai common denominator nasional kita, membentuk ketunggalikaan. Kaum nasionalis kukuh membangun konvergensi dan kohesi nasional, menghindari disintegrasi dan menghalau gerak-gerak divergensi nasional.

Lalu apakah kita, setelah 71 tahun Indonesia merdeka, membiarkan Indonesia tercemooh, tenggelam dan runtuh, karena kaum nasionalis tidak mampu menjaga kemerdekaan dan keberdaulatannya, kini kalang-kabut oleh proxy-warnya kaum neokolonialis global? Inilah duka-cita kita dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2017. Bukankah keporak-porandaan ini merupakan akibat kegagalan pendidikan nasional kita? Pendidikan yang lengah mengartikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagai ‘proklamasi budaya’, yaitu proklamasi pembentukan budaya merdeka, budaya mandiri dan berdaulat. Gagal melakukan unlearning mentalitas keterjajahan, kita tetap minder sebagai inlander, terpojok sebagai underdog. Sementara kaum vreemde oosterlengen (nonpribumi) cenderung tetap eksklusif di atas derajat kaum inlander anak negeri. Kita tetap malas sebagai sleurmens, kita tetap ignorant, tidak mampu mengatur pemerintah negaranya. Makin terancam kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Kepemimpinan nasional yang kuat kita perlukan. Kata pepatah ‘sepasukan domba dipimpin oleh singa dapat mengalahkan sepasukan singa yang dipimpin oleh domba’.

(Prof Dr Edi Sri Swasono. Guru Besar UI, Ketua Majelis Luhur Tamansiswa, Ketua Dewan Penyantun ISI Surakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 19 Mei 2017)

Tulis Komentar Anda