KOLOM Editor : Agung Purwandono Selasa, 16 Mei 2017 / 06:47 WIB

Inventora : Siswa SMAN 3 Ciptakan Filter Knalpot dan Penghilang Bau Sampah

REMAJA yang peduli pada lingkungannya selalu menarik perhatian saya. Kali ini saya mengunjungi SMAN 3 Yogyakarta karena mendengar beberapa siswa di sana meneliti dan menemukan berbagai peralatan yang ada hubungannya dengan lingkungan.

Saya bertemu dengan Fauzan Izza Khadiqa (Fauzan) dan Ifatul Hanifah(Ifa)  yang merancang “Seterpot” (Serbuk Filter Knalpot). Filter ini dibuat dari bahan alami yaitu serbuk biji kelor, lidah buaya, dan karbon aktif.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Selain itu saya juga berbicang-bincang juga dengan Mirna Theresia Eka Wardana (Mirna) dan Graciela Natalia Chandra (Grace) yang mengembangkan temuan mereka berupa penghilang bau sampah yang mereka namakan “Trash Odor Filter”.

Dalam INVENTORA episode ke-7 Jogja TV yang didukung  Waroeng “SS” saya juga bertemu dengan Sabina Tisa, anak muda yang menggeluti seni tari khususnya tari klasik gaya Yogyakarta, dan telah menjadi bagian dari misi budaya Indonesia di berbagai negara.

Seterpot dan Trash Odor Filter

“Seterpot” atau serbuk filter knalpot adalah filter yang dimasukkan dalam sebuah tabung yang kemudian disambungkan pada knalpot sepeda motor. Gunanya untuk menyerap kandungan berbahaya hasil pembakaran yang biasanya keluar melalui knalpot tersebut.

“Filter ini berisi campuran serbuk biji kelor yang punya fungsi koagulasi sehingga bisa mengikat zat berbahaya seperti CO2. Kemudian ada serbuk arang aktif dari tempurung kelapa yang berfungsi menyerap zat-zat tersebut sehingga serapan biji kelor makin efektif. Dan lidah buaya dikenal berkhasiat dalam pemurnian udara, selain itu juga menjadi pengikat dari serbuk biji kelor dan arang tadi supaya lebih menyatu,” ujar Ifa.

Fauzan dan Ifa merasa tertarik untuk menciptakan dan mengembangkan temuan mereka karena menyaksikan polusi yang luar biasa yang mengotori udara di sekililng kita. Tiap menuju dan pulang sekolah mereka menyaksikan sepeda motor yang begitu banyak dengan knalpot yang mengeluarkan asap yang tidak sehat.

“Kami melihat ada 2 fakta menarik : begitu banyak polusi akibat asap sepeda motor, dan banyaknya keaneka-ragaman hayati yang ada di sekitar kita. Fakta itu kami olah jadi solusi seperti ini. Polusi semoga teredam dengan bahan-bahan alami,” kata Fauzan.

Fauzan dan Ifa menunjukan alat buatan mereka

Saya seneng banget melihat cara berpikir mereka. Juga terkesan dengan kepedulian dua siswa lainnya yang mengembangkan alat yang mereka beri nama “Trash Odor Filter” atau filter-bau-sampah. Ya, Mirna dan Grace juga merasa tergerak untuk mencari solusi bagi polusi bau yang dapat menyerang masyarakat terutama di kota yang penduduknya makin banyak.

“Alat ini berupa tabung sederhana yang di dalamnya terdapat elektroda dan karbon aktif. Kemudian disambungkan dengan pipa yang dengan bantuan corong akan mengalirkan udara yang berbau itu ke dalam tabung. Dengan begitu bau tak sedap akan hilang,” jelas Mirna.

Mereka berdua yakin pengembangan alat ini dapat digunakan dalam skala kecil misalnya rumah tangga, juga dalam skala yang lebih besar seperti di peternakan hewan. “Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan, besar-kecilnya bisa dibuat sesuai ukuran tempat pembuangan sampahnya,” ujar Grace dengan mata berbinar.
Teruslah bermimpi besar adik-adik, karena mimpi-mimpi kalian akan membuat dunia ini lebih nyaman dan sehat.

Sabina Tisa

Berbagai negara telah disambangi Tisa, seorang gadis cantik yang menekuni tari klasik Jawa terutama gaya Yogyakarta. Ya, memang Tisa menari di berbagai negara dalam misi budaya bersama Dinas Kebudayaan DIY dan lembaga-lembaga lainnya dalam rangka mempromosikan Indonesia.

Ninda Nindiani bersama Tisa

“Menari di Jepang, Amerika, Belanda, Irlandia, China, Thailand dan negara-negara lainnya itu benar-benar memupuk nasionalisme. Bangga sekali bisa menampilkan Indonesia melalui tarian yang saya bawakan. Apalagi melihat apresiasi penonton terhadap musik, kostum, maupun gerak tari itu sendiri, sangat bikin saya bahagia,” paparnya panjang lebar.

Melihat Tisa menari rasanya memang ada keindahan yang khas dari seorang perempuan Jawa. Meski begitu Tisa mengaku bahwa ketertarikannya pada tari klasik gaya Yogyakarta bukanlah sejak berusia muda. Ia baru beberapa tahun merasa tertarik dan akhirnya jatuh cinta.

“Ibu dulu memang penari, dan Eyang saya adalah salah satu Empu tari klasik gaya Yogyakarta. Tapi bukan tari itu yang saya kuasai di awal atau pada masa kanak-kanak saya. Saya menekuni tari klasik justru beberapa tahun belakangan ini. Sejak itu saya jatuh cinta dan ingin terus menekuni tari klasik yang indah ini. Tadinya saya menganggap tari klasik itu sulit dan lambat,” ujar Tisa sambil tertawa.

Di luar jadual pentasnya, Tisa juga meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak yang ingin belajar menari. Ia berharap makin banyak anak-anak yang melihat betapa indahnya tari klasik, karena tingkat kesulitan menarikannya itu merupakan tantangan tersendiri.

“Yang nggak kalah pentingnya adalah, harus makin banyak pertunjukan tari sehingga secara rutin para penari dapat tampil mengasah kemampuan, dan para penikmat juga tidak kesulitan saat ingin menonton pertunjukan tari,” katanya.

Saya membayangkan, di setiap sore, melihat banyak anak-anak dan remaja, menari bersama di berbagai sudut Jogja. Pasti indah.

Teruslah menari Tisa dan teman-teman..
Ayoooo,,,bikin bangga Indonesia!!

Baca Juga :

Inventora : Siswa Budi Mulia Dua Rancang Sikat Gigi untuk Difabel
Dua Remaja SMAN 6 Yogya Ini Temukan Alat Ingatkan Saat Ibu-ibu Reting