BABARSARI UNDERCOVER

Aquarium itu Berisi Wanita-wanita Seksi

Jalan di kawasan Babarsari suatu malam. (JH Kusmargana)

SELAIN di salon plus-plus, layanan seks di kawasan Seturan-Babarsari juga bisa didapatkan melalui tempat-tempat penampungan atau 'akuarium' yang terdapat di kawasan ini. 'Akuarium' merupakan istilah untuk tempat penampungan atau lokasi yang menyediakan wanita-wanita pekerja seks.

Tak seperti salon plus-plus, 'akuarium' secara khusus memang hanya mendisplai wanita pekerja seks, sehingga tidak ada kegiatan lain sebagai penyamar aktivitas. 'Akuarium' ini sepintas terlihat seperti rumah biasa dan terletak di lokasi yang sedikit tersembunyi sehingga tak banyak diketahui masyarakat biasa.

Sebagai penanda bagi para lelaki hidung belang, biasanya para mucikari atau germo yang memiliki 'akuarium' menandai keberadaan mereka dengan menghidupkan lampu berwarna hijau di depan lokasi pada malam harinya.

"Di sana (akuarium-red) kita tidak bisa melakukan hubungan seksual. Jadi kalau mau main kita harus membawa cewek itu ke hotel. Tarifnya rata-rata Rp 200.000 - Rp 300.000 dengan cewek rata-rata sudah cukup tua antara usia 29-35," ujarnya.

Lain salon plus-plus dan 'akuarium', ada pula layanan seks di kawasan Seturan-Babarsari yang sedikit lebih tersembunyi. Memanfaatkan tempat kos eksklusif maupun penginapan seperti guest house. Para pekerja seks di tempat ini biasanya bekerja secara individu atau tanpa melalui mucikari/germo.

Mereka biasa mencari mangsa lewat jejaring sosial media serta layanan chating di internet. Ada beberapa wanita pekerja seks yang berada di satu kokasi kos di sekitar kawasan Seturan-Babarsari ini.

Dengan rata-rata usia mereka yang masih muda berkisar antara 20-27 tahun, para wanita ini lebih banyak menjaring pelanggan dari kalangan mahasiswa. Mereka dapat dengan mudah ditemui pada layanan chating internet dengan nickname yang menggoda.

Para wanita ini biasanya akan mencantumkan data diri, foto, tarif kencan, nomor HP serta lokasi kos/penginapan sebagai tempat melakukan transaksi. Soal tarif berkisar antara Rp 350.000 - Rp 450.000.

Selain yang telah disebutkan di atas, kawasan Seturan-Babarsari juga menyimpan banyak wanita penghibur kelas atas atau high class. Mereka tersebar di sejumlah tempat karaoke maupun diskotik, sehingga cukup sulit dikenali. Tak sedikit dari mereka adalah para LC (Lady Companion) atau pendamping karaoke, model majalah, SPG, mahasiswa, hingga anak SMA.

Dengan usia rata-rata yang masih sangat muda, para wanita penghibur high class ini memang memiliki kelas tersendiri sehingga tarifnya pun tentu jauh lebih mahal. Mereka pun juga hanya dapat diajak kencan di hotel-hotel mewah.

Dengan begitu, hanya para lelaki hidung belang berkantong tebal yang telah memiliki koneksi dengan orang-orang ketiga saja yang dapat menggunakan layanan mereka. Orang-ketiga atau joki tersebutlah yang bertugas menghubungkan antara si wanita dengan lelaki hidung belang.

Tak sedikit dari orang-ketiga ini adalah para sopir taksi ataupun security tempat-tempat hiburan seperti karaoke atau diskotik. Salah seorang sopir taksi, sebut saja Dony, mengaku memiliki koneksi dan dapat mencarikan wanita-wanita kelas atas tersebut.

Ia mengaku sedikitnya memiliki 10 kontak wanita mulai dari SPG, model, mahasiswa hingga anak SMA. Tarifnya berkisar antara Rp 1,5 juta - Rp 4,5 juta sekali kencan. Ia mengaku akan mendapat tips sekian ratus ribu rupiah dari si wanita jika mampu mencarikan mereka tamu.

"Kebanyakan yang minta dicarikan itu adalah tamu-tamu hotel dari luar kota yang sedang menginap di Yogya. Biasanya yang mereka cari itu ya yang bodynya semok, putih dan susunya besar," ujarnya sambil tertawa.

Dony menceritakan, biasanya ia akan menjemput si wanita untuk diantarkan ke hotel tempat si lelaki hidung belang menginap. Jika si lelaki membatalkan kencan karena tidak sesuai selera, mereka pun harus membayar Rp 200.000 - Rp 300.000 sebagai pengganti make-up.

Namun jika pesanan itu sesuai, Dony kemudian akan menunggu hingga si wanita dan lelaki hidung belang itu selesai melakukan 'pertempuran'. Begitu selesai, ia pun lalu akan mengantar si wanita kembali ke kos mereka sembari mendapat komisi.

"Tidak semua cewek ini bisa diajak kencan sewaktu-waktu. Mereka kadang menolak tamu jika lagi punya banyak duit. Maklum lah karena bagi mereka ini kan hanya sambilan. Mereka juga banyak yang masih bekerja sebagai SPG, model, atau mahasiswa," katanya.  (JH Kusmargana)

Selanjutnya : Dinda Biasa Diajak Om-om Kaya

Tulis Komentar Anda