KOLOM Editor : Agung Purwandono Selasa, 09 Mei 2017 / 06:24 WIB

Inventora : Dua Remaja SMAN 6 Yogya Ini Temukan Alat Untuk Ibu-ibu Reting

PROGRAM Inventora di Jogja TV yang didukung Warung SS Indonesia 8 Mei 2017 kembali menghadirkan sosok anak-anak muda menginspirasi. Saya berkesempatan berbincang dengan dua pelajar SMAN 6 Yogyakarta serta dengan vokalis band Jikustik.

Dengan penuh semangat saya memasuki halaman SMA Negeri 6 Yogyakarta, karena akan bertemu dengan dua siswa yang akan menunjukkan karya penemuan mereka. Juga saya akan ngobrol dengan Brian vokalis band Jikustik yang punya kepedulian mempromosikan seni budaya Indonesia.

Perbincangan saya dengan mereka akan ditayangkan dalam program Inventora di Jogja TV, yang didukung oleh Waroeng “SS” Indonesia.

Safety Motorcicle Handle Bar

Di ruangan khusus yang memajang berbagai penemuan, saya bertemu Siti Farahdina dan Hans Bastian Wangsa. Mereka berdua adalah penemu atau perancang “Stang Motor Keselamatan” atau “Safety Motorcicle Handle Bar”.

Dengan alat ini mereka berharap para pengendara sepeda motor makin aman dan nyaman. Vibator HP yang dilekatkan pada stang sepeda motor bertujuan untuk memberikan tanda getaran saat pengendara lupa mematikan lampu sein.

“Kita kan sering melihat di jalan, pengendara, terutama ibu-ibu, yang lupa mematikan lampu sein atau reting setelah berbelok. Jadinya malah mengganggu pengendara lain di belakangnya bahkan bisa membahayakan diri sendiri juga. Dikira mau belok kiri ternyata malah ke kanan, misalnya,” ujar Siti.

Saya kemudian mencoba memegang prototipe setang-motor tersebut, ternyata memang terasa getarannya saat saya lupa mematikan lampu sein. Getaran tersebut terasa di stang sebelah kiri.

“Sengaja diletakkan di sebelah kiri karena di sebelah kanan juga terdapat fungsi untuk gas atau akselerasi, kalau kami pasang alat-getarnya di stang kanan nanti malah mengganggu fungsi itu,” Hans menjelaskan.

Mereka berdua juga menambahkan bahwa motor jaman sekarang tidak lagi menggunakan tanda-bunyi sein selayaknya motor-motor jaman dulu karena dinilai mengganggu atau merupakan “polusi suara” bagi pengendara lain. Maka dibutuhkan alat pengingat yang hanya dirasakan oleh pengendara itu sendiri.

Getarannya cukup terasa dan irama getarnya disesuaikan dengan lampu sein, sehingga tetap akan bisa dirasakan meski di jalan yang bergelombang.

Hans dan Siti juga menunjukkan beberapa penemuan atau penelitian teman-teman mereka yang didukung sepenuhnya oleh SMA N 6 Yogyakarta. Memposisikan diri sebagai The Research School of Jogja, sekolah ini sangat mendukung kegiatan para siswa dalam penelitian dan menjadikannya pelajaran wajib.

Sebagai sekolah yang berbasis riset, sebagian di antara hasil karya siswa tersebut diikut sertakan dalam berbagai lomba di tingkat nasional maupun internasional. Termasuk karya Hans dan Siti ini, yang sudah masuk menjadi salah satu finalis National Young Inventors Award (NYIA).

Keren ya. Semoga terus terpupuk jiwa pantang menyerah dalam diri para peneliti dan penemu muda ini sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Brian Prasetyoadi

Saya kemudian berbincang-bincang dengan seorang penyanyi yang dikenal dengan nama Brian Jikustik. Ya..dialah vokalis group band dari Jogja itu!

Brian yang sering meyanyi sekaligus mengunjungi berbagai daerah itu memperhatikan bahwa begitu banyak potensi anak muda yang bisa dikembangkan dalam bidang seni budaya. Dan semestinya teknologi mutakhir bisa membantu supaya potensi mereka dapat diekspresikan secara positif.

“Banyak anak muda Indonesia yang sebetulnya bertalenta, misalnya dalam bermusik, tapi nggak punya tempat atau wadah untuk menunjukkan potensi mereka itu. Maka saya dan teman-teman membuat suatu studio dimana mereka bisa merekam audio dan visual karya mereka, sekaligus dapat segera diunggah di sosial media.”

Menurut Brian, ini adalah kesempatan baik juga untuk mempromosikan lagu-lagu etnis dari seluruh Nusantara yang bisa dinikmati pemirsa di seluruh dunia. “Mungkin pemirsanya nggak ngerti arti liriknya, tapi dengerin musiknya sudah seneng, juga melihat kostum khas Indonesianya yang menarik. Maka sangat mungkin para musisi ini menjadi lebih dikenal dan sekaligus mempromosikan betapa kayanya seni budaya Indonesia.”

Saya berpisah dengan Brian dan para siswa SMA Negri 6 Yogyakarta ini dengan hati yang ringan, karena yakin masih banyak anak muda yang menggunakan teknologi bukan untuk melakukan hal negatif atau saling mencaci-maki, melainkan untuk hal-hal positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Ayoooo...bikin bangga Indonesia !!!