3 Perempuan Indonesia Diteladani Layaknya Kartini

Tiga perempuan yang punya peran layaknya Kartini

SOSOK Kartini memberi inspirasi bagi kaum perempuan Indonesia untuk maju dan tidak terkungkung oleh adat dan tradisi. Di Indonesia, selain dirinya yang berjuang tanpa pedang, setidaknya ada 3 orang lain yang juga sangat berjasa untuk kaum perempuan.

Sosok perempuan ini sangat berjasa dalam memajukan pendidikan bagi para perempuan Indonesia yang pada saat itu merupakan barang langka. Tekanan zaman, tradisi dan adat yang mengekang perempuan tidak menjadikan berbagai tokoh ini kemudian hanya diam tak bertindak. Mereka dengan kapasistasnya masing-masing berjuang untuk memajukan perempuan Indonesia.

Berikut 3 pahlawan perempuan Indonesia yang merupakan tokoh perintis pendidikan bagi perempuan  Indonesia :

1. Dewi Sartika

Dewi Sartika merupakan perempuan keturunan priyayi Sunda yang lahir di Bandung, 4 Desember 1884. Sebagai keturunan priyayi, Dewi Sartika mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, hal yang sangat langka untuk perempuan pada masanya.

Hal ini yang kemudian menumbuhkan rasa kepedulian Dewi Sartika untuk memajukan kaumnya. Ketertarikannya di bidang pendidikan telah tampak sejak ia masih berusia belia.  Selengkapnya

2. Siti Walidah

Siti Walidah atau yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh perintis pendidikan bagi perempuan. Atas jasanya di bidang pengembangan pendidikan bagi kaum perempuan, ia mendapatkan gelar sebagai pahlawan kemerdekan RI di tahun 1971.

Perjalannya berkecimpung di bidang pendidikan Islam bagi para perempuan dimulai setelah sang suami, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912. Setelahnya ia bersama sang suami merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno, yang artinya 'siapa cinta' ..Selengkapnya>>


3. Roehana Kudus

Nama Roehana Kudus, mungkin masih asing ditelinga sebagian besar orang Indonesia namun siapa sangka perempuan kelahiran Koto Gadang tahun 1884 ini merupakan salah satu pelopor pendidikan perempuan khususnya di daerah Sumatera barat dan juga menjadi sosok perempuan pertama yang menjadi redaktur Koran berbahasa Melayu.

Roehana tidak mendapatkan pendidikan formal di sekolah, melainkan langsung memperoleh pengajaran dari Ayahnya. Sehingga tak heran diusianya yang masih belia Roehana sudah bisa menulis, membaca, dan menguasai bahasa Belanda. Selengkapnya>>>

 (Nurul Azizah)

Tulis Komentar Anda