Ninda Nindiani MA

Principal Trainer di First Step Public Speaking Club&Courses, seorang trainer, broadcaster dan professional MC yang telah menekuni dunia Public Speaking lebih dari 20 tahun.

Bergabung sejak :  

Selasa, 04 Apr 2017


Inventora : Mahasiswa UGM Ciptakan 'Trolley Follower'

Ninda Nindiani berbincang dengan Rahmad, perwakilan Tim Mahasiswa UGM yang membuat 'Trolley Follower'

PROGRAM Inventora di Jogja TV, yang didukung Warung SS Indonesia edisi Senin 10 April 2017 kembali menghadirkan sosok anak-anak muda menginspirasi. Saya berkesempatan berbincang dengan dua narasumber yaitu Tim Mahasiswa Sekolah Vokasi UGM Jurusan Teknik Elektro serta Tika Yusuf, seorang penyiar radio.

Episode ke-2 Inventora menayangkan 'Trolley Follower' atau mahasiswa UGM menyebutkan sebagai Koper Follower Koplo). Alat ini membuat koper atau troli secara otomatis mengikuti gerak penggunanya. Di segmen kedua saya berbincang-bincang dengan Tika Yusuf, Station Manager Swaragama FM yang punya kepedulian di bidang pendidikan dan pernah mengikuti program 'Indonesia Mengajar' di salah satu daerah pelosok Sulawesi Barat.

Saya berkesempatan mewawancarai Rahmad Kurniawan, mewakili Tim Mahasiswa UGM yang menciptakan dan mengembangkan 'trolley follower'. Trolley ini berfungsi mengangkut tas, koper dan berbagai barang yang diletakkan di atasnya, dan bergerak mengikuti penggunanya tanpa harus ditarik atau didorong.

“Ada dua mode cara kerjanya. Yang pertama adalah mode manual, yaitu trolley dikendalikan dengan handphone sehingga bisa digerakkan dari jarak jauh. Dan yang kedua adalah mode otomatis, yaitu menggunakan kamera sensor yang dipasang pada trolley, yang akan mencari warna tertentu yang terpasang pada gelang-kaki pengguna. Kami sedang mengembangkan mode kedua ini supaya lebih sempurna,” ujar Rahmad yang tercatat sebagai mahasiswa Diploma Teknik Elektro UGM ini.

Rahmad menunjukan cara kerja 'Trolley Follower'

Ya, memang menarik mengamati Rahmat mencoba menggunakan gelang pada kakinya dan berjalan perlahan, sementara trolley secara otomatis bergerak mengikuti kemanapun ia berjalan. Trolley ini dapat mengangkut berat sampai 30 kilogram, dan maksimal berjarak 4 meter dari pengguna. Saat pengguna berbelok pun trolley akan ikut berbelok atau berputar.

“Kami masih mengembangkan atau menyempurnakan trolley ini. Versi pertama dulu dengan sensor jarak, tapi kendalanya saat banyak orang bersliweran maka sensor kebingungan. Maka kami kembangkan versi kedua ini, yaitu kamera yang dapat menangkap sensor warna pada gelang-kaki. Tapi kendalanya ada pada cahaya, karena sangat mempengaruhi kemampuan kamera dalam mengenali warna yang harus dicarinya. Maka kami kembangkan lagi dengan wireless dan GPS supaya dapat dikunci lokasi trolley-nya,” papar Rahmad.

Rahmad menambahkan bahwa ide ini didapat karena prihatin melihat banyak orang nampak kesulitan mendorong atau menarik barang bawaan di bandara, terminal, atau stasiun, terutama ibu-ibu yang juga menggendong bayi mereka. Ia dan tim tidak kuatir kalau ide-ide mereka yang sudah banyak dimuat di media ini akan dipakai oleh pihak lain.

“Demi kemajuan Indonesia, nggak apa-apa orang lain juga mengembangkan teknologi ini. Kalau memang bisa membantu masyarakat luas, pasti akan sangat bermanfaat bila dikembangkan bersama-sama.”
Hebat teman-teman! Semoga sukses dengan segala inovasinya.


Tika Yusuf dan Kepeduliannya Pada Pendidikan

Pada segmen berikutnya saya berkesempatan ngobrol dengan Tika Yusuf, Station Manager & Program Director SWARAGAMA FM yang saya kenal juga aktif sebagai MC dan pembicara di berbagai kalangan khususnya memotivasi anak muda untuk berkarya.

Tika pernah mengikuti program 'Indonesia Mengajar' beberapa tahun lalu, dimana ia mengajar siswa-siswa salah satu SD di Sulawesi Barat. “Ini pengalaman yang istimewa, karena saya nggak punya latar belakang menjadi guru SD, tapi di sana saya menjadi Wali Kelas kelas 5,dan tak jarang harus mengajar juga di semua kelas. Jelas semua fasilitas disana serba terbatas, itu membuat saya kreatif dan tertantang menyelesaikan program 1 tahun ini dengan sukses,” kenang Tika.

Pelatihan awalnya pun penuh tantangan, karena dilatih oleh Kopasus selama 10 hari untuk mengenal alam dan hidup bijak dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan suasana perkotaan. Juga ada pelatihan yang bersifat pedagogi selama 3 bulan, sehingga siap megajar dengan metode yang baik, termasuk cara mendekati anak-anak dan menumbuhkan minat belajar mereka.

Tika Yusuf dan Ninda Nindiani


 Setelah kembali ke Jogja Tika juga berisiatif menggerakkan teman-temannya maupun masyarakat luas untuk peduli pada pendidikan anak-anak. Ia berinisiatif membuat program 'Semoga Harimu Menyenangkan', yaitu mengumpulkan dua ribu rupiah per orang, dan hasilnya disalurkan sebagai beasiswa anak-anak kurang mampu.

“Dua ribu rupiah kan biasanya untuk parkir, atau beli es teh dll. Kalau itu kita sisihkan dan dikumpulkan, pasti bisa bermanfaat menunjang program pendidikan. Kecil tapi berarti besar,” kata Tika dengan penuh semangat.
Sayapun rasanya sangat bersemangat kalau ketemu dengan para anak muda berprestasi dan peduli pada lingkungannya ini. Mereka menunjukkan bahwa masih banyak anak muda Indonesia yang memiliki aktivitas positif, dan “menorehkan tinta emas” bagi bangsa ini.
INVENTORA....Ayoooo bikin bangga Indonesia!!

 

Tulis Komentar Anda