Sampah Visual, Pelanggaran yang Membudaya

Warga melintas di tembok yang dipenuhi poster (KRJogja.com/Satriyo Wicaksono)

YOGYA, KRJOGJA.com - Maraknya pemasangan poster di area publik merupakan pemandangan biasa di Yogyakarta. Saking biasanya kadang kita lalai bahwa hal tersebut tidak pada tempatnya.

Poster banyak kita temui di perempatan, jalan raya, tembok rumah bahkan menutupi rambu lalu lintas. Tak sedikit diantaranya merupakan poster acara yang diadakan mahasiswa. Poster atau pamflet itu yang kemudian menjadi sampah visual karena menjadikan lingkungan tidak elok dilihat.

Baca Juga :

Liputan Khusus Sampah Visual Kaum Terpelajar

“Mahasiswa merasa tidak masalah menempel poster selama tidak mengganggu properti orang lain. Selama ini toh mereka menempelkannya di atas poster yang sudah ada sebelumnya dan tidak dikenai sanksi atau dicopot,” ungkap Pulung Setiosuci Purbawaning SIP MM, dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM.

Lebih lanjut Pulung memaparkan, pada dasarnya teman-teman mahasiswa bisa diajak berdiskusi terlebih dahulu. Kalaupun setelah diskusi tidak mempan, harus ada sistem reward and punishment yang benar. “Selama ini yang terjadi kan tidak ada punishment bagi penempel poster, tidak hanya mahasiswa. Kemudian yang terlihat adalah reward karena melalui poster yang dipasang itu acaranya dikenal,” katanya.

Masalah sampah visual sebenarnya bukan hal baru di Jogja. Gaungnya sudah lama terdengar dan diberitakan media. Tidak hanya poster, baliho iklan yang menjamur sama-sama menciptakan sampah visual untuk Yogyakarta.

“Baik poster yang secara ugal-ugalan ditempel maupun izin pemasangan baliho yang terus diterbitkan oleh pemerintah, belum ada langkah serius untuk menertibkan,” ujar Pulung. Permasalahan sampah visual menjadi kompleks bukan semata karena regulasi yang dilanggar akan tetapi ada aspek cultural dan behavioural yang melestarikan sampah visual.
    
    Lantas bagaimana cara mempromosikan acara yang efektif tanpa melanggar regulasi? Pertama, sasar papan pengumuman yang tersedia di kampus, kantor, supermarket maupun akses tempat publik lainnya yang diperuntukan untuk publikasi.

Kedua, media sosial. Menurut Pulung hal ini akan lebih efektif karena media sosial merupakan benda yang lekat sekali dengan kehidupan kita sehari-hari terutama generasi millenials.

“Media digital punya kemampuan sharing sementara poster satu arah saja. Sebenarnya akan bisa memberi benefit karena pengukuran minat dan animo lebih terukur. Pertanyaan saya kemudian kenapa masih pake paper ketika digital sudah jadi bagian yg integral dengan hidup anda?”

Menciptakan wajah kota yang bersih memang bukan perkara mudah. Ada ketertiban yang harus dibiasakan di tengah lingkungan dimana pelanggaran sudah menjadi hal biasa. “Ada yang harus dikorbankan memang jika kita ingin melakukan hal yang benar,” tutup Pulung. (Lintang Fajar)

 

Tulis Komentar Anda