Sampah Visual Mahasiswa Marak, Kampus 'Anteng'

Rambu lalulintas 'belok kiri jalan terus' yang tertutup poster kegiatan mahasiswa. (KRjogja.com/ Satriyo Wicaksono)

YOGYA, KRjogja.com – Mahasiswa menjadi salah satu penyumbang sampah visual terbanyak. Publikasi seputar acaranya selalu tertempel di tembok-tembok milik warga atau rambu-rambu lalulintas. Meskipun hal itu mencoreng nama perguruan tinggi, tetapi hingga kini pihak universitas juga tidak kunjung membuat kebijakan mengenai sampah visual.

Humas UPN Veteran Yogyakarta, Marcus Kusna Ardiyanto beberapa waktu lalu sempat didatangi masyarakat setempat, terkait poster salah satu acara milik UPN yang menempel di rambu-rambu lalu lintas, tepatnya Senin (20/03/2017).

Kala itu, Bekti Maulana (19) sebagai perwakilan warga Gondokusuman menyampaikan bahwa poster kegiatan ‘Expressive Sound of Petroleum’ menempel di rambu lalu lintas dan tembok-tembok milik warga. Bahkan salah satu poster tersebut menutup penuh rambu lalu lintas yang bertuliskan ‘belok kiri jalan terus’.

"Kemarin teman saya mau berantem dengan orang gara-gara rambu-rambu itu. Karena tertutup oleh poster, tulisan belok kiri jalan terus itu pun tidak terlihat, kemudian teman saya berhenti dan malah dikata-katain orang karena itu sebenarnya jalan terus," ujar Bekti kepada KRjogja.com, Kamis (24/03/2017) malam.

Berbekal bukti-bukti berupa foto dan Etika Perwakilan Indonesia (EPI) serta Peraturan Walikota (Perwal) Kota Yogyakarta, Bekti bersama rekannya itu menyampaikan keluhan serta pelanggaran yang dilakukan oleh pihak mahasiswa.

“Humasnya menerima kita, mereka langsung turun ke lapangan dan memanggil mahasiswa yang terkait. Tapi sekarang saya belum tau perkembangan saat ini bagaimana, tetapi hingga hari ini (kemarin-red) poster-poster itu masih belum dibersihkan,” imbuh Bekti.

Marcus mengungkapkan, pihak universitas sebenarnya sudah menyediakan tempat untuk menempel poster di lingkungan kampus. Disinggung terkait sampah visual yang dilakukan mahasiswanya, Marcus pun mengatakan hal itu sifatnya sudah di luar kampus, sehingga seharusnya sudah mengantongi izin pariwara. Menurutnya, selama ini setiap ada kegiatan mahasiswa harus harus dilakukan izin terlebih dahulu kepada universitas. Disitulah pihak kampus kemudian memberi informasi terkait tempat-tempat yang tidak boleh ditempeli poster. 

“Saya kira karena itu sifatnya sudah diluar kampus, maka seharusnya sudah ada izin. Toh mereka juga bergabung dengan kelompok yang lain, tidak hanya UPN saja. Jadi seharusnya mereka punya izin,” ujarnya.

Pihak Universitas UPN Veteran Yogyakarta sendiri pun terbuka untuk keluhan masyarakat. Nantinya keluhan-keluhan tersebut akan langsung ditindak lanjuti dengan menerjunkan pihak kampus ke tempat kejadian dan memanggil mahasiswa terkait.

“Keluhan akan langsung kami tindak lanjuti dan apabila benar maka kami memanggil mahasiswa terkait, tetapi untuk sanksi sekarang belum ada,” imbuhnya.

Belum adanya kebijakan kampus terhadap sampah visual juga terjadi di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Padahal, menurut koordinator Jogja Garuk Sampah Bekti Maulana kampus tersebut merupakan penyumbang sampah visual terbanyak. Bahkan dari penempelan poster-poster itu juga tidak ada upaya membersihkan kembali, sehingga beberapa acara di tahun 2016 masih tertempel di tembok-tembok milik warga.

“Kemarin saya melihat poster milik kampus tersebut yang menempel di tembok warga seputaran selokan mataram. Padahal itu acaranya sudah tahun lalu, tapi tidak juga dibersihkan. Malahan nama kampusnya aja yang disobek, tidak sekalian semua,” ungkap Bekti.

Kepala Humas UGM Yogyakarta, Iva mengungkapkan selama ini tidak ada pelarangan yang dilakukan oleh pihak kampus, sifatnya lebih ke himbauan kepada mahasiswa. Hal itu dikarenakan UGM sendiri beberapa tahun belakangan sedang gencar mengkampanyekan gerakan paperless untuk adiministrasi kampus. 

Menurutnya, kini segala kegiatan ataupun pengumuman yang terkait dengan mahasiswa UGM sudah dipusatkan di sistem informasi dan persuratan digital. Ia pun mengakui adanya papan pengumuman di kantor humas UGM yang sengaja dihilangkan.

“Tadinya memang di kantor humas memang ada papan pengumuman, tapi sekarang sudah kami hilangkan karena semua sudah dipusatkan di sistem informasi dan persuratan digital,”

Senada dengan kampus lain, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) juga belum membuat kebijakan ataupun sanksi terkait sampah visual. Meskipun begitu, menurut Kasubag Rumah Tangga Ganjar Triyono, selama ini pihaknya tidak pernah memasang poster ataupun spanduk di luar otoritas kampus. Dengan begitu, para mahasiswanya pun tidak turut menyumbang sampah visual di Yogyakarta.

“Memang ada mahasiswa UNY yang membuat sampah visual? Saya kira sampai saat ini belum ada,” ujar Ganjar ketika ditemui diruangannya, Kamis (23/03/2017).

Ganjar mengutarakan, setiap penempelan poster yang dilakukan oleh mahasiswa terlebih harus mendapat izin terlebih dahulu dari kampus. Pihak penyelenggara diwajibkan memberikan surat permohonan izin ke kampus untuk penempelan poster. Nantinya, pihak universitas sendiri pun selalu melakukan pengontrolan terhadap poster-poster tersebut. Sehingga, ketika acara telah selesai maka poster tersebut langsung dilepas. Hal itu lah yang membuat hingga kini UNY belum membuat kebijakan serta sanksi terkait sampah visual.

“Belum ada sanksi, karena ini merupakan hal baru dan mahasiswa UNY sendiri belum terlibat dalam sampah visual,” imbuhnya.

Guna mengantisipasi mahasiswannya melakukan penempelan poster sembarangan. Pihak UNY selalu menyediakan fasilitas papan pengumuman yang tersebar diberbagai tempat untuk digunakan sebagai media promosi kegiatan mahasiswa. Selain itu, kegiatan-kegiatan mahasiswa juga akan diunggah di website milik kampus.

Meskipun begitu, pihak UNY sendiri menerima keluhan masyarakat. Sehingga, apabila terdapat masyarakat yang melihat poster kegiatan mahasiswa UNY tertempel sembarangan diminta langsung menghubungi Kasubag Rumah Tangga yang berada di gedung Rektorat UNY agar dapat segera ditindak lanjuti.

“Kami akan selalu menerima keluhan masyarakat. Keluhan itu kan sifatnya baik, tidak ada masukan yang tidak baik. Jadi itu pasti akan kami terima dan kami tindak lanjuti,” pungkasnya. (Satriyo Wicaksono) 

 

Tulis Komentar Anda