Peristiwa Editor : Agung Purwandono Jumat, 24 Maret 2017 / 06:30 WIB

Sadar Jadi Sampah Visual, Poster/Pamflet Masih Jadi Pilihan Mahasiswa

SEBAGIAN besar panitia acara atau pentas seni (Pensi) acara-acara yang diselenggarakan pelajar maupun mahasiswa masih menilai bahwa poster/pamflet fisik masih efektif untuk mendatangkan massa. Di sisi lain panitia menyadari media publikasi yang mereka gunakan di ruang publik menjadi sampah visual.

Mereka tahu selepas acara yang mereka selenggarakan, poster-poster publikasi pensi mereka akan tetap tertempel di ruang publik menjadi sampah visual. Meskipun begitu, mereka belum berpikir untuk mengurangi jumlah poster yang mereka tempel di ruang publik.

"Selain pakai poster, biasanya pensi kampusku itu juga pakai baliho dari sponsor. Tapi menurutku poster masih lebih efektif karena bisa disebar di beberapa titik. Jadi lebih banyak orang yang bakal lihat. Kalau baliho kan cuma di satu titik aja," ujar Vida Irine Rossa (22), mahasiswi jurusan Geologi salah satu perguruan tinggi negeri di Yogya ini.

Vida menuturkan meskipun ia dan teman-temannya di dalam himpunan mahasiswa juga menggunakan media lain untuk publikasi, namun sejauh ini belum ada wacana untuk mengurangi jumlah poster yang mereka tempel di ruang publik.

"Kami juga pakai sosmed dan pernah juga menampilkan banner berjalan di lampu merah, tapi sejauh ini belum ada wacana untuk ngurangin jumlah poster yang ditempel. Soalnya memang efektif bisa disebar di beberapa titik," paparnya.

Baca Juga :

Teror Sampah Visual Kaum Terpelajar di Yogyakarta

Ini Sejarah Sampah Visual di Yogyakarta
Sampah Visual Bukti Ketidakmampuan Mahasiswa Melakukan Komunikasi yang Baik
 Penyumbang Sampah Visual Terbesar Pelajar dan Mahasiswa
 Sampah Visual Marak, Pemerintah Baru Sebatas Wacana
Sumbo Tinarbuko : Sampah Visual Bisa Jadi Bencana Sosial Bagi Yogya

Tips Acara Mahasiswa Laris Tanpa 'Nyampah Visual'

Hal serupa dirasakan oleh Andita Ayu (22), mahasiswi Teknik Perminyakan di Yogyakarta ini. Meskipun publikasi melalui sosmed sudah mulai marak dilakukan, mahasiswi yang akrab disapa Dita ini juga belum menemukan wacana pengurangan poster publikasi oleh mahasiswa dalam himpunannya.

"Memang sih, pada akhirnya poster-poster itu akan menjadi sampah visual. Tapi ya mau gimana lagi? Namanya juga publikasi. Sebenarnya kalau menurutku lebih efektif baliho, tapi pasang baliho itu mahal. Bisa belasan juta sendiri kalau mau pakai baliho di tempat yang strategis," papar Dita.

Menurut Dita, kegiatan menempel poster di tempat umum itu sah-sah saja dilakukan asal tidak di tempat-tempat yang dilarang. "Masangnya juga gak sembarangan juga sih, asal jangan masang di tempat-tempat yang ada tulisan dilarang menurutku gakpapa," jelasnya.

Dita juga memaparkan bahwa ruang publik yang memiliki izin menempel poster seperti papan panjang di pinggir jalan memiliki ruang tempel yang terbatas. Belum lagi jika poster mereka nantinya tertutupi oleh poster pensi milik universitas lain.

"Jadi ya menurutku gakpapa (menempel poster di ruang publik) asal jangan sembarangan," jelasnya. Dita memaparkan bahwa biasanya sekitar 1000 poster ditempelkan oleh teman-teman panitia di tembok-tembok yang sekiranya tidak dilarang untuk ditempeli poster.

Keefektifan penggunaan poster untuk mempublikasikan suatu acara bahkan disadari oleh beberapa himpunan mahasiswa yang biasanya hanya menggunakan baliho dan poster resmi yang ditempel di kampus-kampus.

Salah satu contohnya adalah Khansanida Rachma (20), mahasiswi Arsitektur perguruan tinggi negeri di Yogya. "Kemarin-kemarin poster cuma ditempel di jurusan-jurusan dan universitas lain, tapi tahun ini malah mau nempel poster di jalanan, biar makin banyak yang datang," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ketika ia dan teman-temannya dalam divisi publikasi menempel poster di universitas lain, hanya diperbolehkan memasang satu atau dua poster saja. "Jadinya gak kelihatan kan posternya," sambungnya.

Begitu juga dengan Vindy Riyana (22), mahasiswi Agribisnis dari perguruan tinggi negeri ini mengatakan, jika memasang publikasi hanya di baliho maka terbatas pada satu titik saja. Ia kemudian bercerita tentang beberapa teman-teman himpunan mahasiswa jurusannya yang rela bangun pagi untuk menempel poster publikasi di tembok-tembok tempat umum.

Vindy sepenuhnya menyadari bahwa aksi tempel poster di tempat umum adalah ilegal. Oleh karena itu, beberapa teman satu panitia yang mereka kenal biasanya menempel poster-poster publikasi tersebut pada dini hari.

Harapannya, agar ketika mereka berusaha mempublikasikan acara mereka, mereka tidak harus berurusan dengan satpol PP yang masih bertugas. "Kalau mau publikasi di ruang publik, kalau pakai baliho mahal banget soalnya. Bikin anggaran membengkak," jelas Vindy.  (Salsabila Annisa)