Rektor UGM Ingatkan Masyarakat Selalu Mewaspadai Bencana

Ilustrasi. (Foto: Doc)

JAKARTA, KRJOGJA.com - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Dwikorita Karnawati memperingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai bencana karena kondisi geologi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng dunia, menyebabkan negeri ini sering mengalami getaran atau guncangan, bahkan tidak hanya gempa, namun juga banjir, tanah longsor, tsunami, dan juga puting beliung.

"Longsor di Cianjur beberapa waktu lalu hanya sedikit contoh," kata Dwikorita dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Selasa (21/3/2017). Dalam kondisi Indonesia berada pada daerah rawan bencana itulah, lanjutnya, secara periodik, gunung berapi akan mengalami erupsi. Akibatnya, akan membuat lereng-lereng curam yang tersusun oleh batuan rapuh dan tanah gembur, akan menjadi labil. Hal demikian, secara alamiah akan membuat pergerakan tanah.

Dwikorita menjelaskan, tanah labil itu akan bergerak dan menyebabkan longsor jika ada pemicu. Prosesnya bisa disebabkan hujan deras atau hujan yang tidak terlalu deras namun dalam waktu cukup lama. Pemicu lain adalah karena  getaran gempa. "Interaksi kondisi alam dan curah hujan atau getaran gempa ini membuat tanah labil bergerak," tuturnya. Kondisi alam yang labil dan rapuh itu, imbuhnya, diperparah aktivitas manusia, misalnya pembukaan lahan secara tak terkendali dengan memangkas atau membongkar tanah yang dalam kondisi rapuh.

Begitu juga soal banjir di berbagai daerah, menurut Dwikorita, tidak lepas dari perilaku manusia yang kurang menjaga lingkungan.  
Untuk itu ia mengingatkan pentingnya mitigasi agar korban dan kerugian akibat bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. "Silakan alam berproses, namun jangan sampai menimbulkan korban dan kerugian. Artinya, meski gempa atau tsunami tidak bisa dicegah, tapi kerugian akibat bencana itulah yang seharusnya dicegah," tegasnya

Terkait mitigasi, UGM juga melakukan berbagai upaya. Bahkan, menurut Dwikorita, upaya tersebut sudah dilakukan sebelum tahun 2000 melalui riset dan penelitian. "Hasil riset perlu untuk diaplikasikan dan itu kami lakukan. Upaya pemelliharaan lereng, penataan lahan, hingga mitigasi resiko bencana, semua dilakukan berbasis riset," tutur penyandang gelar master dan doktor bidang geologi dari Universitas Leeds, Inggris ini.

Dwikorita mencontohkan, UGM telah melakukan penelitian dan pemetaan di daerah rawan longsor untuk tata guna lahan. Selain itu, pengembangan sistem peringatan dini bencana banjir dan longsor yang telah berstandard dunia dan digunakan pula oleh Cina dan Myanmar.  Aplikasi penelitian UGM ini berbasis teknologi lokal dan melibatkan komunitas masyarakat. (Ful)

 

Tulis Komentar Anda