Teologi Air Bumi

KEHIDUPAN manusia tak bisa dilepaskan dari air, akan tetapi masih banyak orang yang belum memahami makna dan fungsi air bagi kehidupan. Pemahaman (teologis) ini menjadi sangat penting karena sikap dan perilaku seseorang merupakan cerminan dari pola pikirnya termasuk perilakunya terhadap air. Dalam rangka peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 21 Maret, kesadaran teologis masyarakat tentang air ini sangat perlu untuk diungkap kembali. Lebih-lebih lagi, MK pada bulan Februari yang lalu telah membatalkan Undang-Undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air.

Tuhan Allah Swt telah menciptakan air dan menjadikannya sebagai asal muasal kehidupan. Segala sesuatu yang hidup termasuk manusia, hewan dan tumbuhan, semuanya sangat tergantung pada keberadaan air. Lebih dari 75% zat penyusun tubuh manusia terdiri dari air, bahkan lebih dari 75% planet bumi kita juga berisi air. Selain mempunyai fungsi biologis, air juga mempunyai fungsi relijius yakni untuk membersihkan dan mensucikan tubuh dan pakaian dari kotoran dan najis baik secara harfiah maupun ma’nawi. Dalam berhubungan satu dengan lainnya atau dalam berhubungan dengan Allah Swt melalui ibadah, manusia harus terlebih dahulu berada dalam keadaan bersih dan suci tubuh dan batinnya.

Agama Samawi

Hampir semua ajaran agama-agama samawi selalu ada pembahasan tentang air dan peran air bagi penyucian diri dan sarana ibadah. Demikian pula dalam pembahasan tentang ibadah, selalu didahului dengan penyucian diri. Dan alat bersuci yang utama adalah air. Jika tidak ada air baru bisa menggunakan tanah, debu atau batu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran air dalam kehidupan manusia, baik secara fisik-biologis maupun spiritual.

Menyadari pentingnya air, maka konservasi air dan tanah yang merupakan dua sumberdaya alam vital, merupakan kewajiban fundamental bagi keberlangsungan kehidupan di muka bumi. Kewajiban untuk konservasi air mempunyai nilai yang sama dengan kewajiban menjaga kehidupan itu sendiri. Menjaga kehidupan adalah wajib dan merupakan suatu keniscayaan. Oleh karena itu merawat air dan sumber-sumber air serta konservasi air agar nilai dan manfaatnya tetap berkelanjutan, wajib pula hukumnya bagi setiap orang.

Maka setiap tindakan yang mengganggu atau merusak fungsi-fungsi air (fungsi biologis, ekonomi, sosial, budaya dan spiritual) baik yang berupa perusakan atau pencemaran air dan sumber air dengan tindakan atau unsur tertentu. Sehingga mengakibatkan air tidak bisa dimanfaatkan untuk kehidupan, atau fungsi dasar air sebagai sumber kehidupan menjadi terganggu atau rusak. Maka hal ini berarti sama dengan merusak kehidupan atau sama dengan melakukan ‘pembunuhan’.

Tuhan Allah Swt telah menetapkan hak-hak pemanfaatan air bagi semua makhluk hidup. Semua makhluk hidup di alam ini mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan air. Monopoli pemanfaatan air atau sumber air oleh seseorang atau sekelompok orang (lembaga atau perusahaan) untuk kepentingan apapun, atau monopoli pemanfaatan air atau sumber air untuk penggunaan tertentu dan menutup hak pemanfaatan untuk penggunaan lainnya, sangat dilarang Konstitusi.

Mengajarkan

Pengalaman panjang bangsa-bangsa yang hidup di daerah yang kering dengan sumber air yang sangat terbatas, telah mengajarkan mereka untuk menghargai air dan menggunakan air secara sangat hemat. Pelajaran ini kemudian dituangkan dalam berbagai produk juresprudensi fiqih Islam antara lain: (1) Berwudhu, cukup sekali membasuh anggota badan. Yang kedua dan ketiga adalah sunnah. (2) Buang air besar/kecil tidak boleh di badan air atau air yang menggenang, karena kotoran akan mencemari air tersebut sehingga pemanfaatannya menjadi terbatas. (3) Klasifikasi air : suci mensucikan, suci tak mensucikan dan mutanajjis, mengandung konsep dan ajaran re-use dan penghematan untuk penggunaan lainnya.

Upaya konservasi dan penghematan penggunaan air dengan demikian secara teologis menjadi wajib dilakukan oleh siapa saja baik perorangan, lembaga masyarakat maupun pemerintah. Upaya ini bisa dilakukan dengan mengubah sikap dan perilaku terhadap air dengan bantuan teknologi atau dengan melakukan rekayasa lingkungan. Yang tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan di muka bumi.

(Prof Dr Muhjidin Mawardi. Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Guru Besar Konservasi Air dan Tanah UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 21 Maret 2017)

Tulis Komentar Anda