Menjadi Pelopor Peradaban Kasih

ALLAH adalah kasih. Keberadaan umat manusia juga merupakan wujud kasih Allah yag tiada terhingga. Bahkan ketika manusia jatuh ke dalam dosa Allah masih mengampuninya andaikan masih bertobat.

Kasih adalah hukum utama dalam kehidupan umat beriman khususnya umat Kristiani. Dasarnya pun sangat jelas yakni ajaran Kristus sendiri. Ketika ditanya soal hukum mana yang terutama dalam hukum Taurat, Yesus menegaskan bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama dengan sepenuh hati menjadi salah saru ciri utama hidup orang beriman.

Orang beriman menghayati imannya dan berjuang mewujudkan peradaban kasih dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Kita sadar bahwa kita hidup bersama di negara Kesatuan Republik Indonesia dengan banyak orang dari berbagai macam suku, agama, ras maupun golongan. Namun demikian meskipun kita berbeda, kita terus menerus diajak memperjuangkan nilai-nilai luruh Pancasila yakni berketuhanan, berperikemanusiaan, bersatu berdemokrasi dan berkeadilan sosial bagi seluruh warga bangsa.

Mewujudkan iman di dalam negara yang berdasarkan Pancasila secara jelas tergambar dalam rumus rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 2016-2035. Yaitu mewujudkan kesejahteraan, menjunjung tinggi martabat manusia dilandasi dengan iman yang cerdas, tangguh mendalam misioner dan dialogis.

Sejahtera

Sejahtera merupakan salah satu kata kunci yang penting untuk mewujudkan peradaban kasih. Orang yang dianggap sejahtera apabila terpenuhi kebutuhan dasarnya yakni pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja.

Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang dibangun sejak 1970 menjadi sarana membangun kesalehan hidup dan pertobatan melalui olah rohani dan laku tapa dengan jalan puasa dan pantang. Serta membangkitkan kepekaan sosial umat bersama masyarakat utamanya kepada saudara yang berkekurangan menurut dimensi sosial ekonomi. Semua sebagai bentuk perwujudan pertobatan dan solidaritas sebagai murid murid Kristus.

Istilah bermartabat menunjuk pada penghargaan dan penghormatan terhadap martabat manusia yang merupakan citra Allah. Dalam masyarakat Pancasila, sila kedua menegaskan akan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia yang secara bagus dirumuskan dalam ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Penghormatan akan martabat hidup manusia harus terus digemakan mengingat sekarang ini martabat manusia terus digerogoti dengan perilaku yang kurang beradab. Pembunuhan, mutilasi, perkosaan dan lain sebagainya juga masih diterapkannya hukuman mati menjadikan martabat manusia terancam.

Yesus menunjukkan kerahimanNya dan mengangkat martabat manusia, yang disingkirkan dalam kehidupan dipulihkannya, yang dibuang dikembalikannya. Orang berdosa diampuninya, bahkan penjahat yang bertobat diajakNya masuk Firdus abadi.

Formatio iman yang digemakan di Keuskupan Agung Semarang mengajak umat beriman dengan cerdas, mendalam, tangguh, misioner dan dialogis. Karena dengan begitu diharapkan iman semakin mengakar dalam diri umat beriman mulai dari anak anak sampai orang tua. Iman yang mendalam dan tangguh tentu menggugah semua orang beriman untuk merayakannya dengan penuh rasa syukur. Selain juga mewujudkannya dalam kehidupan dengan penuh sukacita dan bergairah.

Merenungkan

Diharapkan umat Kristiani selalu terpupuk imannya agar semakin berkualitas di tengah tantangan zaman yang semakin maju. Iman yang berkualitas ditandai dengan keerat hubungan dengan Allah sendiri. Semakin peduli pada sesama dan di tengah dunia ikut aktif dalam mewartakan Kerajaan Allah yang membangun hidup manusia di dunia yang semakin damai dan sejahtera. Juga mengarah kepada kesempurnaan di akhir zaman dalam bimbingan Roh Kudus yang semakin mantap.

Minggu-minggu menjelang Paskah, Kebangkitan Yesus, umat Kristiani diajak untuk merenungkan misi kehidupannya sendiri dalam retret agung sambil bermati raga, puasa dan pantang sembari menyisihkan miliknya untuk diserahkan kepada saudara saudara yang membutuhkannya. Laku ini sebagai rasa pertobatan dan penyesalan agar bisa merayakan persatuan dengan Tuhan dengan hati suci dan gembira. Selamat bermati raga, Tuhan memberkati.

(Al Sugeng Wiyono. Umat yang tengah memBangunjiwa di Kasihan Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 20 Maret 2017)

Tulis Komentar Anda