Bencana Kekerasan Seksual

JARINGAN predator anak terus bergerilya. Mereka terus menyasar masa depan bangsa dengan cara-cara keji. Mereka pun tak segan melakukan kekerasan untuk melumpuhkan kekuatan bangsa di masa yang akan datang.

Terbongkarnya jaringan pedofil melalui akun media sosial facebook oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya adalah realita. Grup bernama Official Loli Candy’s Group ini menjadi tempat berkumpul lebih dari 7.400 anggota yang melampiaskan nafsu bejat kepada anak-anak. Seluruh anggota dipaksa aktif ‘mengampanyekan’ padofil dengan mengunggah gambar porno dan perilaku seksual menyimpang dengan anak. Berapa banyak korban kekerasan seksual ini, belum kita tahu. Meski 13 korban berhasil diidentifikasi penyelidikan Kapolda Metro Jaya.

Pengembangan dan penangkapan pelaku pedofil menjadi langkah berani dalam menyelamatkan anak Indonesia. Pasalnya, pedofil adalah bentuk kejahatan yang berlapis. Tidak hanya kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Namun korban bisa mengalami trauma panjang selama hidupnya. Andai gambar korban dipublikasikan pihak-pihak tak bertanggung jawab di dunia maya, dampaknya akan semakin panjang.

Perlu ada penelusuran mendalam siapa anggota dan siapa korban. Melalui pelacakan dan kerja cepat. Langkah pencegahan akan dapat cepat diambil. Kepada korban, pemerintah dapat melakukan serangkaian agenda agar mereka tidak mengalami trauma yang berkelanjutan. Pemerintah pun dapat mencegah kepunahan generasi bangsa melalui langkah tegas dan bijak.

Kasus pedofil berjejaring ini adalah bentuk bencana kekerasan seksual. Kekerasan seksual yang tidak hanya mengancam masa depan sebuah bangsa. Namun, menjadi ancaman serius bagi peradaban kemanusiaan. Ini perlu diselamatkan untuk menyelamatkan kemanusiaan, agar peradaban bangsa juga terbangun oleh kesalehan lingkungan. Oleh karena itu, perlu penanganan ekstra agar peristiwa ini tidak berulang di masa yang akan datang. Dengan selalu mengingat, dalam bencana kekerasan seksual ini anak adalah korban utama. Anak menjadi korban berlapis dari sistem jahat yang dijalankan oleh banyak orang secara rapi, terancang, dan berjejaring.

Maka dalam penegakan hukum penelusuran anggota grup secara menyeluruh perlu diungkap cepat dan tepat. Ini sebagai upaya mencegah aksi serupa di kemudian hari dengan grup atau jejaring baru. Saat pihak berwajib terlambat mengungkap jejaring ini, dikhawatirkan mereka telah membuat sel-sel baru yang kini sengaja tiarap namun siap beraksi saat aparat lengah.

Agenda kerja penting untuk menyelamatkan kemanusiaan adalah dengan rehabilitasi korban. Rehabilitasi bukan hanya program jangka pendek. Namun juga menjadi agenda jangka panjang dan berkelanjutan. Rehabilitasi jangka pendek meliputi penanganan dan pendampingan psikologis. Trauma healing dapat dilakukan sebagai upaya mengembalikan kepercayaan diri korban untuk tetap semangat menatap masa depan cerah. Ini dilakukan untuk memulihkan rasa percaya diri korban. Maka masa anak-anak perlu dikembalikan dalam kondisi riang dan gembira. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat bahwa anak-anak adalah korban sangat penting agar masyarakat sadar dan tidak memberikan stigma negatif terhadap korban.

Adapun rehabilitasi jangka panjang terdiri dari pengamatan tumbuhkembang. Misalnya, ketika mereka memasuki masa pubertas dan saat memasuki usia perkawinan. Pengamatan ini penting pasalnya trauma di masa kecil dapat kembali muncul kembali pada situasi tertentu.

Karenanya, penguatan peran keluarga menjadi sebuah keniscayaan. Pasalnya, keluarga berperan mengamati dan mendeteksi serta mengambil langkah cepat agar mereka tidak larut dalam kesedihan akibat trauma di masa lalu. Dengan demikian, keluarga korban perlu mendapat bekal ilmu agar mereka dapat menjadi ëdokter pribadií yang selalu siap mendampingi. Proses pendidikan bagi keluarga korban ini menjadi tanggungjawab pemerintah. Pemerintah perlu menyiapkan mentor dan atau fasilitator serta dana yang memadai guna menyukseskan program ini.

Rehabilitasi korban kejahatan seksual harus ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan. Penyediaan psikolog di setiap puskesmas sebagaimana ada di Yogyakarta diharapkan menjadi penghubung agar korban sembuh total.

Pedofil merupakan potret nyata bencana kejahatan seksual. Korban perlu diselamatkan agar mereka terbebas dari belenggu masa lalu. Juga penting, agar korban kelak tidak menjadi generasi perusak generasi mendatang.

(Rita Pranawati MA. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dosen FISIPUhamka Jakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 20 Maret 2017)

Tulis Komentar Anda