Tampang Garang, Polisi Ini Punya Rumah Singgah untuk Anak Yatim

Brigadir Nur Ali Suwandi bersama anak-anak yatim di Yayasan Bumi Damai. (Yudho Priambodo)

JAUH dari kehidupan hiruk pikuk perkotaan yang mulai padat di Yogyakarta letak rumah singgah ini berada di wilayah paling selatan kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan wilayah Bantul, tepatnya di daerah Purbayan, Kotagede. 

Adalah Yayasan rumah singgah 'Bumi Damai', sekaligus asrama yang sangat mendamaikan hati bagi anak-anak yatim. Sebelum memasuki ruangan dari luar sudah terdengar betul celotehan suara cempreng khas anak-anak. Sambutan mereka sangat luar biasa, anak-anak satu persatu kemudian menyalami dan menunjukkan ekspresi yang sangat antusias.

"Ayo salim dulu. Ini pas waktunya anak-anak belajar bareng, mengerjakan tugas sekolah kemudian ada juga yang hafalan surat-surat al-Quran," kata Ali. 

Nur Ali Suwandi, atau kerap disapa Pak Ali adalah pendiri yayasan sekaligus  menjadi sosok pengganti seorang ayah bagi anak-anak yatim di yayasan. Pria 39 tahun yang sangat santun ini juga sangat memiliki jiwa seorang prajurit yang rendah hati.

Keseharian Pak Ali sebagai anggota Provost Kepolisian Polda DIY berpangkat Brigadir yang terlihat garang tertepis saat kita menemui Pak Ali di yayasan.

Bersama dua rekannya,  Heri yang juga anggota Provost Polda dan  Dodi, ketiganya lalu berkomitmen untuk peduli terhadap anak yatim sejak tahun 2008 silam.  

"Mungkin yowes takdire Pangeran, Pak Ali dan teman bisa membuat yayasan dan merawat anak-anak yatim (Mungkin sudah takdir dan kehendak Tuhan Pak Ali bisa membuat yayasan dan merawat anak-anak yatim). Saya punya prinsip, jangan sampai ada tetangga atau orang yang saya kenal dalam kondisi kelaparan," ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan, sebetulnya banyak lagi anak-anak yang mau singgah dan tidur di asrama. Akan tetapi karena lokasinya belum mencukupi masih ada anak-anak yang harus pulang ke rumah. Bahkan, yayasan ini harus menyewa sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari asrama laki-laki untuk ditinggal oleh anak-anak perempuan. 

"Kalau yang menetap ada 20 anak laki-laki, kemudian yang putri ada 10. Tapi kalau yang tidak menetap ada banyak sekali sekitar 80-an anak, mereka biasanya siang sampai malam saja di sini. Selain itu kami juga merawat warga jompo yang ada di sekitar yayasan jumlahnya sekitar 20-an orang," kata Ali.

Kata dia, banyak dari anak-anak ini kisah hidupnya dimasa kecil sudah sangat menyentuh hati. Ditinggal pergi oleh orang tua, dititipkan ke yayasan sejak bayi, tidak memiliki ayah ataupun keluarga, juga ada yang masih memiliki orang tua namun dengan kondisi sakit dan tidak mampu bekerja, serta banyak lagi. 

"Di sini, anak-anak akan saya tegur justru kalau tidak mau makan. Anak-anak harus sehat dan jangan sakit. Itu kewajiban di asrama, selain ibadah yang paling diutamakan," imbuh pria yang juga gemar siaran radio ini.

Pengelola Asrama, Alvin Nur Iman menjelaskan, Pak Ali memang memiliki kiat-kiat khusus untuk mendidik anak-anak. Kata dia, Pak Ali sama sekali tidak pernah membentak anak-anak yayasan.

"Anak-anak yang bandel disuruh ibadah pun tidak dimarahi oleh bapak. Tapi bagi kami yang sudah lama tinggal di sini akan tahu betul bapak, dan dengan sendirinya anak-anak akan menjalankan segala kewajibannya dengan mandiri," kata Alvin. 

Dikatakannya, dalam mendidik anak-anak untuk meraih cita-cita Pak Ali selalu memberikan motivasi. "Bapak selalu bilang seperti ini kepada kami. Masa depan cita-cita kalian itu pasti bisa diraih. Namun harus kalian perjuangkan dari sekarang, kalau rajin dan pantang menyerah dari kecil cita-citamu akan mudah kalian raih. Namun sebaliknya, jika kalian malas, cita-cita akan sangat sulit kalian capai. Itu kata bapak yang selalu kami ingat," imbuh Alvin menirukan ucapan Pak Ali. 

Lebih lanjut, selain merawat anak-anak di yayasan, menyantuni warga jompo dan janda-janda. Pak Ali juga betul-betul prajurit yang memiliki jiwa sosial tinggi, beliau dengan segala kemampuan dan keikhlasannya mau untuk membantu para warga di wilayah pinggiran daerah untuk membangun beberapa masjid. 

"Kalau itu ya memang kehendak Allah, itu rezeki dari Sang Pencipta untuk masyarakat," ujarnya.

Dijelaskan Pak Ali, memang selain dirinya banyak juga pihak yang mau membantu dalam semua kegiatan yang diinisiasi olehnya. "Yang jelas bisa untuk menjalin silaturahmi saya dan masyarakat, selain itu dengan nama Bhayangkara yang saya bawa selaku anggota saya ingin masyarakat beranggapan bahwa polisi memang humanis dan dekat dengan masyarakat," pungkasnya. (Yudo Priyambodho)

Tulis Komentar Anda