Pengentasan Buta Literasi Media Sosial Wajib Dilakukan

Pembicara seminar Komaruddin Hidayat saat memberikan paparan. (Foto: Harminanto)

SLEMAN, KRJOGJA.com - Diskusi menarik tersaji di Seminar Nasional IKA UNY dengan tema Media Sosial dan Pendidikan Karakter yang dilaksanakan di Auditorium UNY, Sabtu (18/3/2017). Menghadirkan pembicara yang cukup mumpuni seperti Komaruddin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Hendry Subiakto (Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya yang juga staf ahli Menkominfo Bidang Hukum),  Ilza Mayuni (Sekretaris Tim Kerja Pendidikan Karakter Kemendikbud) dan moderator Octo Lampito (Pemred KR), seminar tersebut menemukan fakta bawasanya saat ini Indonesia memerlukan gerakan bersama untuk mengatasi buta literasi media sosial.

Ilza Mulyani mengatakan di era digital saat ini media sosial suka tidak suka dan mau tidak mau menjadi primadona di kalangan masyarakat. Banyak pihak yang akhirnya menggunakan media sosial untuk menyebar konten bahkan yang tak jelas sumber dan kebenarannya atau yang kerap disebut hoax.

Fakta inilah yang kemudian menurut dia wajib diatasi sesegera mungkin dengan melibatkan semua pihak termasuk akademisi, pegiat pendidikan dan masyarakat. Ilza mengungkap literasi ini harus menjangkau banyak kalangan di mana tidak sedikit kaum terpelajar yang terperdaya dengan berita-berita hoax yang tersebar di sosial media.

"Kita menghadapi tantangan bukan hanya buta aksara lagi tapi buta literasi sosial media, dan inilah yang wajib kita entaskan di era digital saat ini di mana sosial media digunakan pihak-pihak berkepentingan untuk berperang dan dampaknya mempengaruhi penggunannya. Menurut saya jelas perlu peran bersama, bukan hanya pemerintah," ungkapnya.

Sementara Komaruddin Hidayat beranggapan satu modal besar bangsa Indonesia yakni Bhinekka Tunggal Ika bisa dijadikan solusi mengatasi permasalahan sosial media yang dinilai mulai berpotensi merusak kerukunan bangsa. Menurut Komaruddin, isu yang paling seksi untuk dijual di sosial media yakni isu sara seperti yang belakangan dicampur dengan bumbu politik.

"Bahkan seorang Buya Syafii Maarif ikut dibully di sosial media karena menyampaikan pandangannya saat isu agama dijadikan alat politik, padahal dia jelas tak memihak satu pasangan calon di pilkada Jakarta. Di sinilah saya menilai pentingnya kita menyadari akar nusantara dengan perbedaan 700 etnis, bahasa dengan ribuan pulau yakni Bhinekka Tunggal Ika. Inilah yang harus terus dikumandangkan," ungkapnya.

Hendry Subiakto menambahkan literasi medis sosial bisa dilakukan dengan beberapa langkah nyata seperti salah satunya yang telah ditempuh beberapa elemen masyarakat dengan gerakan "turn back hoax". "Kita harus bangun budaya literasi, tak mudah percaya dan menyebarkan sebuah berita tanpa mengetahui sumber aslinya, bangun budaya kritis sebelum bereaksi atas sebuah berita di sosial media," terangnya. (Fxh)

 

Tulis Komentar Anda