Peran Keluarga Penting, Klithih Butuh Penanganan Fundamental

Ilustrasi. (Foto: Doc)

YOGYA, KRJOGJA.com - Fenomena kriminalitas pelajar atau klitih yang masih terjadi di DIY yang notabene merupakan kota pelajar menjadi ironi dan dinilai sangat memperihatinkan. Untuk itu diperlukan kebersamaan dan kerjasama antara pembina wilayah, teritorial dan keamanan di DIY serta penanganan yang lebih fundamental agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali.  

"Yogyakarta itu Kota Pelajar, jadi sangat menyedihkan peristiwa klitih ini masih saja terjadi. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi wilayah, baik gubernur, bupati dan walikota dibantu pembina teritorial seperti aparat TNI dan Polri agar berusaha mencegah kejadian ini tidak terulang kembali,"  ujar Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Pusat, Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar usai mengukuhkan pengurus IKAL Komisariat DIY Periode 2017-2022 di Bangsal Kepatihan, Jumat (17/3/2017). Sebagai Ketua IKAL Komisariat DIY Sugiyanto H Semangun SE MSc.\

Agum mengatakan, pengampu wilayah dan pembina teritorial harus bersinergi menciptakan suasana sosial yang kondusif agar pembangunan di DIY terus berkembang. Rasa kebersamaan dan kerjasama merupakan kunci untuk menghadapi berbagai kasus kejahatan, salah satunya kriminalitas remaja ataupun pelajar. Selain itu, perlu koordinasi yang ketat diantara pembina wilayah dengan teritorial maupun keamanan. Guna menangkal hal tersebut dasarnya adalah keluarga dan ajaran agama yang dianutnya, mengingat agama merupakan filter terhadap hal-hal yang negatif tersebut.

"Jangan hanya menimpakan hal ini pada aparat keamanan, harus ditangani bersama-sama. Terus terang saya sangat sedih dan teramat prihatin mendengar peristiwa klitih yang akhir-akhir ini marak di DIY," kata Mantan Gubernur Lemhannas ini.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku, telah berkoordiansi terkait penanganan klitih di DIY, namun perlu penanganan yang lebih fundamental yaitu orangtua mengubah pengawasan pada anak. Selama ini pendidikan karakter kepada anak tidak sepenuhnya ada di sekolah, tetapi di luar itu adalah di keluarga. "Kita hanya bisa berharap, jadi saya minta mereka yang melakukan kekerasan itu mempunyai latar belakang seperti apa. Jika mayoritas merupakan anak dari keluarga yang 'broken home' maka mereka tidak terbina dengan baik," imbuhnya.

Raja Kraton Yogyakarta ini menyampaikan DIY senantiasa berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mempertahankan ketahanan nasional. Selain menangkal penetrasi-penetrasi negatif dari luar, DIY mampu mempertahankan ketahanan nasional tanpa harus menggunakan kekuatan militer. "Saya mengapresiasi terbentuknya IKAL Komisariat DIY ini sebagai wadah pengabdian kepada bangsa dan negara. Tentunya dengan harapan ikut serta menjaga ketahanan nasional dari berbagai ancaman," tandas Sultan HB X.(Ria/Ira)

Tulis Komentar Anda