Kasus Alergi Obat Meningkat, Bijaksanalah Dalam Mengkonsumsi

Ilustrasi. (Foto: Doc)

YOGYA, KRJOGJA.com - Kejadian alergi obat, akhir-akhir ini terus meningkat pada kasus rawat jalan dan rawat inap. Data internasional menunjukkan, dari jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, 10-20% mengalami alergi obat. Beberapa kasus terjadi kegawatan yang harus segera ditangani dan sebagian yang lain menjadi kronis dan sulit ditangani. Sehingga diperlukan berbagai macam prosedur medis untuk menentukan obat yang aman bagi pasien alergi obat.

Kepala Divisi Alergi dan Imunologi Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM dr Sumadiono SpAK mengatakan, dampak alergi obat sangat beragam dan tidak bisa diprediksi. Dampak paling ringan yang sering terjadi adalah urtikaria (biduran), angioedema (jontor di bibir) dan bengkak-bengkak. Selain dampak yang terlihat di kulit, alergi obat juga bisa memicu munculnya pilek atau asma kumat jika pasien memiliki riwayat penyakit asma. Sementara dampak berat karena alergi obat, pasien bisa mengalami reaksi sistemik atau drug reaction eosinophilia with sistemik syndrom (dress) serta kelainan organ tubuh seperti kelainan pada lever dan kelainan jantung yang dampaknya bisa fatal. "Untuk menangani kasus alergi obat diperlukan diagnosis yang hati-hati dan tatalaksana yang tepat," terang Sumadiono kepada wartawan di RSUP Dr Sardjio, Jumat (17/3/2017).

Menurut Sumadiono, kasus alergi obat terbanyak adalah alergi obat antibiotik, alergi obat golongan NSAID (penurun panas), alergi obat antinyeri dan alergi obat karena kemoterapi. Misalnya ketika anak yang alergi obat mengalami demam dan diberi paracetamol atau ibuprofen, muncul merah-merah di kulit dan bengkak. Tak hanya itu, alergi obat juga bisa karena pemberian obat anti-epilepsi yang memicu Stevens Johnson Syndrome, ditandai kulit mengelupas dan melepuh di sekujur tubuh. "Jika ini tidak mendapatkan penanganan yang tepat bisa menyebabkan anak dehidrasi atau infeksi yang bisa berujung kematian," katanya.

Kasus berat lain karena alergi obat adalah shock anafilaksis atau anak langsung pingsan ketika diinjeksi (suntik) suatu obat. Jika ini terjadi, maka petugas klinis harus siap dengan obat adrenalin. Untuk mengulas lebih mendalam tentang diagnosis dan penatalaksanaan terintergrasi pada kasus alergi obat, RSUP Dr Sardjito dan FK UGM akan menyelenggarakan seminar diagnosisi dan penatalaksanan kasus-kasus alergi obat yang terintegrasi multidisiplin di Gedung KPTU FK UGM, Sabtu 1 April 2017.

Dokter Spesialis Anak RSUP Dr Sardjito dan FK UGM dr Cahya Dewi Satria MKes SpA mengatakan, meski masih dijumpai kasus berat karena alergi obat, namun jumlahnya sedikit dibanding alergi obat yang ringan. Data RSUP Dr Sardjito mencatat, dari Januari 2015 hingga Mei 2016 terdapat empat kasus berat karena alergi obat yaitu reaksi sistemik (dress). "Dari empat kasus tersebut 1 pasien tidak tertolong," katanya.

Oleh karena itu, ketika anak terdiagnosa alergi sebuah obat, maka yang harus dilakukan dokter dan orangtua adalah mejauhkan (avoidant) obat tersebut dari anak. Dokter bisa mencari obat lain yang tidak memicu alergi. Namun jika terpaksa harus mengonsumsi obat tersebut dan tidak ada alternatif obat lain, seperti pada kasus TBC, maka dokter bisa memberinya dengan dosis minimal. "Untuk kasus ini, dokter harus memiliki skill dan pengetahuan mumpuni agar tidak merugikan pasien," katanya.

Menurut Cahya, alergi obat lebih disebabkan karena faktor genetik (kelainan kromosom). Sehingga jika ada anggota keluarga (ayah, ibu kandung) yang memiliki riwayat alergi obat, maka anak berkemungkinan juga alergi obat. Alergi obat ini juga bisa dibilang tidak bisa disembukan dan sewaktu-waktu bisa terjadi, jika pasien salah mengonsumsi obat. Hanya saja, jika pasien disiplin menghindari obat yang dilarang oleh dokter untuk dikonsumsi, sel-sel memori yang bisa memunculkan alergi akan mati atau tidak mengenali lagi. "Kalau pasien bisa 100% tidak kontak dengan obat yang dilarang dikonsumsi, sel-selnya seolah seperti baru lagi," katanya. (Dev/R-3)

Tulis Komentar Anda