Budaya Kekerasan di Kota Budaya

PRIHATIN, geram, dan cemas mewakili ekspresi spontan melihat kekerasan yang terjadi di wilayah Yogyakarta. Ketika sebutan kota pelajar dan kota budaya sudah terlanjur identik dengan Yogyakarta, rasanya sulit membayangkan terjadinya kekerasan yang dilakukan anak-anak usia sekolah. Kenyataannya, sudah berapa jatuh korban dan meninggal dunia sia-sia karena dipukuli, disiksa, disilet, ditembak airsoft gun, ditebas pedang atau dibacok. Bukan hanya korban. Pelaku, di antaranya adalah pelajar setingkat SMP dan SMA, yang disebut kelompok klithih.

Seharusnya satu atau dua korban meninggal sudah cukup menjadi ëbatas akhir kesabaraní pemangku kebijakan atau pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. Mungkin dengan menciptakan gagasan yang tidak populer untuk menghentikan berbagai bentuk kekerasan. Kalau tidak, lama-kelamaan kita menjadi masyarakat yang apatis, acuh tak acuh, permisif dan melihat kematian demi kematian sebagai hal lumrah.

Pemuja Kematian

Mencari akar kekerasan tidak semudah membalik tangan, karena bisa disebabkan sesuatu di luar nalar atau akal sehat. Dalam sejarah ada kekerasan yang dilakukan karena dorongan pemujaan terhadap kerusakan. Erich Fromm (1997) menyebutnya sebagai ketaatan kronis di sepanjang hidup seseorang terhadap kerusakan, kebencian, dan kematian. Sadisme sebagai karakter destruktif manusia menjadi tujuan utama para pemuja kematian.

Dengan kata lain, kepuasan diri pelaku itu terpenuhi jika telah melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain, bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang atau sekelompok orang. Tindakan kekerasan dapat disebabkan tiadanya penghargaan diri, kehampaan jiwa, ketidakberdayaan melihat realitas dan ketidakmampuan mengatasi dirinya sendiri merespons kemajuan yang dialami orang lain.

Selain disebabkan pemujaan, potensi kekerasan sebenarnya juga ada pada watak manusia itu sendiri. Johan Galtung (1999) mengingatkan bahaya watak manusia yang memiliki kecenderungan melakukan agresi dan dominasi karena ia dapat melahirkan budaya penuh kekerasan. Watak agresif ini sangat destruktif, pendendam, melahirkan amarah dan sikap emosional yang negatif untuk menyerang kapan saja, kepada siapa saja yang dimangsanya dan di mana saja, tidak peduli dilakukan siang atau pun malam hari, tidak beda jauh dengan aksi terorisme. Bahkan seperti dikemukakan Leonard Berkowitz (1993) bahwa perasaan pun sesungguhnya dapat mempengaruhi pikiran, lalu pikiran dapat melahirkan tindakan. Jadi pikiran jahat sebenarnya dapat mendorong perasaan marah dan kecenderungan agresif.

Penyebab klithih cukup kompleks meskipun dapat direduksi dalam beberapa istilah universal: Pertama, kesenjangan ekonomi. Tetapi kenapa pelaku bukan berasal dari kalangan paling miskin. Mereka punya rumah, punya motor, tidak benar-benar dari masyarakat kelas bawah. Kedua, ketidakadilan sosial. Tetapi mereka peserta didik masih duduk di bangku sekolah dan mendapatkan pelajaran yang sama, kecuali yang sudah terusir dari sekolahnya, ada juga home schooling. Ketiga, alienasi atau keterasingan sosial, disebabkan ulah mereka sendiri: mabuk, narkoba, kebiasaan berkata-kata kotor (misuh), memelihara permusuhan abadi, pergaulan bebas, free sex, membangkang terhadap orangtua, keluarga broken home, tidak patuh terhadap guru, berani melawan hukum dan aturan-aturan sosial lainnya.

Mengancam

Mencari akar kekerasan tentang sebab utama pemicu atau perangsang gairah sadisme sangat mendesak dilakukan dan dibutuhkan pendekatan multidimensional. Apapun alasannya, kekerasan mengancam masa depan bangsa. Bahasa sadisme cenderung menampilkan arogansi diri para pelaku yang sebenarnya tidak lain karena keterbatasan sumber daya, kualitas iman dan kematangan rasionalitas dalam memahami makna penting damai, menghormati orang lain dan menyapa perbedaan. Sadisme dan vandalisme harus segera diakhiri agar kota budaya kembali bersih. Bisa dengan mengajukan hukuman qishash agar membuat pelaku jera.

Dalam bahasa teologi Islam, mencuri saja diperintahkan oleh Tuhan agar dipotong tangannya. Dengan logika itu, korupsi dapat disamakan dengan teroris, setidaknya karena keduanya berdampak negatif dan merugikan orang lain. Jika klithih bahkan menyebabkan langsung kematian maka tak dapat ditawar lagi untuk bertekad Yogyakarta harus kembali aman. Tidak hanya berhenti dalam slogan tetapi dalam aksi nyata bersama-sama bernyali menghapus teror dan horor.

(Dr H. Robby Habiba Abror SAg Mhum. Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga; Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 17 Maret 2017)

Tulis Komentar Anda