Stoner Rock Perkaya Skena Musik Yogya

Salah satu penampilan Stoner Rock. (ISTIMEWA)

STONER adalah salah satu sub-genre Rock yang muncul kali pertama di wilayah California, Amerika Serikat. Sub-genre ini bercirikan bertempo lambat ke sedang, bertuning rendah dan dentuman bass yang berat. Stoner menggabungkan unsur psychedelic rock, blues-rock, dan doom metal ke gaya yang lebih repetitif dan berpusat pada riff. Ciri-ciri umum lainnya termasuk vokal melodius dan produksi ‘retro’. Musik stoner sangat memengaruhi psikologis pendengar karena bisa membangkitkan imajinasi.

Sub-genre ini mulai diperkenalkan Black Sabbath tahun 70-an. Pink Floyd dan The Beatles memberi pengaruh kelahiran sub-genre ini dengan corak pyschedelic yang mereka mainkan. Pengaruh itu bisa dilacak sejak Beatles menggarap "Revolver" tahun 1966 dan "Sgt.Peppers Lonely Heart" 1967 dan Pink Floyd dalam "The Piper at the Gates of Dawn" tahun 1967. Black Sabbath menggabungkan unsur psychedelic itu dengan corak hard rock ciri khas mereka.

Dari Indonesia, AKA, The Gembels, dan Yockie Suryopryogo mewakili generasi psychedelic yang cukup berpengaruh hingga kekinian. Ketika mulai diaduk dengan rock, stoner makin membesar. Sejak tahun 90-an mislnya sub-genre ini juga diterima dengan baik di Asia. Band Jepang, Abgail, langsung jatuh cinta pada skena ini tahun 92 dan langsung membuat stoner makin meluas di Asia. Kini, Singapura, Filipina, dan Indonesia jadi sarang band-band stoner rock yang cukup menjanjikan. Dalam realita kekinian, Yogyakarta jadi kota di Indonesia yang banyak melahirkan band-band stoner.

Otakkotor Records sukses menemukan dua band pengusung stoner di Yogya yang menjanjikan: The Ring dan Marsmolys. "The Ring dan Marsmolys ini sangat serius dalam menggarap musik stoner dan psychedelic. Mereka juga peka dalam mengangkat isu-isu kekinian ke dalam tema lagu dan album yang akan rilis sebentar lagi," terang Udin dari pihak Otakkotor.

The Ring terbentuk pada awal tahun 2016 di salah satu unit kolektif musik antar kampus. The Ring adalah singkatan dari The Rock Imaginator Generation. Band ini mencampurkan musik Stoner Rock, Doom, Psychedelic, dan Blues Rock yang terinspirasi dari band-band sebelumnya. Kali pertama terbentuk, mereka beranggotakan empat orang namun seiring berjalannya waktu kini The Ring sisa bertiga:  Candra (gitar), Jack (vokal), dan Ari (bass). Saat ini mereka sudah melempar single berjudul "Nunirtha's Gov" dan sedang merampungkan album perdana.

"Lagu ini menceritakan pandangan kami terhadap dunia yang palsu, kepemimpinan yang menyalahgunakan kekuasaan, kemunafikan, dan ketidakadilan terhadap kaum-kaum lemah. Judul lagu ini diambil dari nama seorang dewa mitologi Akkadia yaitu Ninurta, lalu kami balik namanya menjadi Nunirtha sebagai lawan dari sifat baik dan bijak seorang dewa pemimpin itu sendiri, dan kata Gov yang berasal dari Government," kata Chandra yang akrab disapa lele ini mengisahkan tema lagu mereka.

Dalam "Nunirtha's Gov" mereka merepresentasikan stoner dengan baik. Dentuman bass kotor, beratnya distorsi gitar, dan pukulan drum menghentak meruang dengan karakter vokal Jack yang parau. Mereka juga tidak terjebak dalam teori stoner klasik dengan tempo lambat sepanjang lagu. "Kami menguliknya sama-sama dan memang adanya pengubahan tempo di tengah lagu seolah kami ingin memainkan emosi pendengar," sambungnya.

Sementara Marsmolys terbentuk pada awal 2016 juga dengan format trio. Beranggotakan Antino Restu Aji (gitar, vokal), Dede Cipon (bass), dan Adam Yudha Nugraha (drum),nama Marsmolys sendiri berasal dari kata 'Moly', yang diambil dari nama kucing milik Antino. Lalu ditambahkan kata 'Mars', yang saat itu mereka pikir bahwa kata itu cukup keren untuk disebutkan. Maka terciptalah 'Marsmolys', dengan penambahan huruf S demi penyebutan yang lebih mantap.

"Belakangan kami ketahui saat melihat-lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata 'Mars' memiliki arti lain yaitu perjalanan jauh dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki.  Sebuah penambahan makna dalam perayaan panjang akan ketidaktahuan yang kemudian melahirkan keingintahuan mereka dalam menjalani proses. Musik yang dibunyikan oleh Marsmolys merupakan semacam 'gado-gado' dari nuansa Hard Rock, Psychedelic, Stoner Rock, dan Garage Rock," jelas Restu.

Satu single juga sudah mereka keluarkan. Berjudul "Cosmic Still", lagu ini bertema religius. Mereka bertiga berusaha mengisahkan bagaimana kecilnya manusia di hadapan alam ciptaan Tuhan. "Hingga kemudian kita mempertanyakan kembali apa yang akan kita bawa dari dunia ini ketika kita kembali pulang ke suatu tempat dari mana manusia berasal. Kebingungan inilah yang menjadi bahan bakar bagi Marsmolys dalam membuat single pertama," sambung Restu.

Sebelum kedua band ini, stoner Yogyakarta sudah melahirkan band Temaram yang sudah meluncurkan album di sebuah cafe wilayah Tirtodipuran beberapa pekan lalu. Melihat makin banyaknya band stoner yang bermunculan, Drummer band metal senior, Agus Roy, yakin skena rock di Yogya akan bangkit kembali. Begitu juga dengan Bento Jepang, gitaris band legendaris, Rolland Band yang merespon makin massifnya rock Yogya dengan rencana reuni tahun 2017 ini.(Des)
 

Tulis Komentar Anda